3. PAHIT

16.9K 2.1K 465
                                        

Canada, 11

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Canada, 11.46 PM

Yennifer menatap kosong ke arah dinding yang juga menatapnya dalam diam. Keheningan malam yang begitu dingin lagi-lagi menyelimuti ruangan yang didominasi oleh warna putih ini. Yennifer melirik ke arah samping—tempat di mana Pieter kini tertidur dengan masih mengenakan setelan pakaian kerjanya yang lengkap.

Dengan perlahan, Yennifer pun mencoba untuk bangkit dan tidak menimbulkan suara dari gerakkannya. Punggungnya ia sandarkan ke kepala ranjang dengan begitu lesu. Ingatan-ingatan aneh yang tadi siang sempat hinggap di kepalanya, entah kenapa membuat Yennifer merasa begitu penasaran.

Ingatan apa itu?

Apa dia telah melupakan sesuatu?

"Tidur, Oakley."

Deg!

Yennifer langsung tersentak kaget ketika ia mendengar suara Pieter yang begitu tiba-tiba. Dengan raut kecemasan, Yennifer pun menoleh—menatap Pieter yang ternyata telah membuka mata dan tengah menatapnya dengan tajam.

Sontak Yennifer pun langsung beringsut menjauh. Dia kemudian berbaring membelakangi Pieter dan mencoba untuk menutup mata—meski semuanya sia-sia karena pada dasarnya Yennifer tidak sedang mengantuk.

Seolah mengetahui kegelisahan Yennifer yang terus saja memikirkan perihal ingatan-ingatan itu, Pieter pun mengulas senyum evil. Entah kenapa menyiksa Yennifer adalah hal yang begitu menyenangkan sedari dulu.

Bertahun-tahun dia berada di dekat Yennifer dan membiarkan wanita itu 'hidup bebas' dengan segala keangkuhan dan kekayaan kedua orang tuanya membuat Pieter merindukan saat-saat seperti ini. Melihat rona ketakutan dari kedua netra biru Oakley adalah hal yang sangat menyenangkan.

"Bangun!"

Yennifer kembali membuka matanya saat ia kembali mendengar suara Pieter. Tanpa mau membantah, Yennifer pun memilih untuk bangkit. Dengan kepala yang tertunduk dalam dan kedua tangan yang mencengkram erat selimut yang membukus tubuhnya, Yennifer pun terdiam—menerka-nerka apa yang akan dilakukan Pieter setelah ini.

"Angkat wajahmu!"

Pieter lagi-lagi mengeluarkan kelimat dengan nada memerintah. Dan tak lama, Yennifer pun mengangkat wajahnya. Di antara temaramnya lampu kamar dan sinar rembulan yang menembus dari balik lambaian tirai, Pieter dapat melihat seberkas kelelahan bercampur kebingungan di wajah cantik wanita itu.

"Apa kau sedang mencoba menguji kesabaranku dengan hanya diam seperti manekin?" desis Pieter hingga langsung membuat Yennifer menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak bermaksud seperti itu. Ak-aku...hanya takut membuatmu marah," gumam Yennifer dan setelahnya kembali tertunduk. Mendengar jawaban dari Yennifer. Pieter pun menghembuskan napas pelan. Dia mengambil cerutunya yang ada di atas nakas, dan mulai menghisap lintingin tembakau itu.

Autumn In The CryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang