28. PENYESALAN PIETER

20.6K 1.3K 289
                                        

Denting jam seolah berjalan dengan begitu lambat hari ini. Kelabu yang sejak tadi menghiasi langit, akhirnya mengeluarkan air matanya dengan deras. Tanpa bisa dicegah, bulir-bulir air langit itu jatuh membasahi bumi—membuat segelintir orang semakin larut dalam kesedihan.

Tak ada lagi suara isak tangis yang menggema hebat di sudut ruangan itu. Hanya ada keheningan yang tak bisa dijelaskan oleh kata. Peti mati yang semula berada di ruang tengah pun, kini telah dipindahkan ke ruang peristirahatan untuk kemudian dibawa kembali ke Wyoming dan dimakamkan di sana.

Axille yang semula memberontak dan meraung kesakitan akibat rasa tidak percayanya atas kematian Yennifer pun, kini telah dipindahkan ke ruangan lain atas paksaan Rion. Jika tidak begitu, maka besar kemungkinan bahwa Axille tidak akan pernah mengijinkan siapapun memakamkan puterinya. Wanita itu pasti akan sangat menggila saat mengetahui jika jenazah Yennifer akan segera diberangkatkan ke Wyoming untuk dimakamkan.

Saat semua orang tengah mempersiapkan keberangkatan raga tak bernyawa Yennifer, Pieter yang baru memiliki keberanian untuk keluar dari dalam kamar setelah melewati detik demi detik yang sangat menyakitkan pun, lantas mulai menuruni anak tangga—bermaksud  melihat wajah isterinya untuk yang terakhir kali.

Dengan setelan kemeja dan jas hitamnya, Pieter terlihat begitu menyedihkan hari ini. Wajah tanpa ekspresi dengan mata biru yang memerah, sepertinya sudah cukup menggambarkan bagaimana perasaan pria itu sekarang. Saat sudah hampir sampai di lantai bawah, Pieter secara tak sengaja melihat jagoan kecilnya yang berada di dalam dekapan pelayan sedang menatap bingung ke arah orang-orang yang berlalu lalang.

Wajah polos Almero yang belum mengerti apa-apa itu seketika membuat langkah Pieter terhenti. Hatinya kembali tergores merasakan pedih.

"Lihatlah puteramu Wellington! Lihat baik-baik jagoan kecil yang telah kehilangan ibunya itu! Sekarang, dia tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk mengenal siapa ibu kandungnya! Dia tidak akan pernah bisa merasakan usapan lembut dan  kasih sayang dari ibunya karena kau! Kau yang membunuh ibunya! Kau membunuh Yennifer dengan tanganmu! KAU PEMBUNUH! Almero pasti akan membencimu suatu hari nanti!" batinnya berteriak dengan kencang—menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi hari ini.

Entah jawaban apalagi yang akan Pieter berikan saat anak itu menanyakan tentang keberadaan sang ibu.

"Daddy!"

Lamunan Pieter langsung terpecah tatkala suara Almero kecil memanggilnya dengan sangat antusias. Tanpa beban apapun, anak lelaki tampan itu lantas turun dari dekapan sang pengasuh dan berlari menghampiri sang ayah.

Melihat hal itu, Pieter pun kembali melanjutkan langkahnya sambil merentangkan tangan, bersiap menyambut tubuh mungil puteranya ke dalam dekapan.

Grep!

Tak lama, Almero benar-benar masuk ke dalam dekapan ayahnya dan bersandar manja di bahu pria itu.

"Good morning, Daddy!" sapa Almero dengan senyuman manis yang menampilkan deretan gigi putihnya yang rapih.

"Good morning, Son!" balas Pieter dengan sulas senyuman tipis yang ia paksakan hadir di wajah kakunya. Almero kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga sang ayah dan berbisik.....

"Daddy, siapa wanita cantik yang tertidur di dalam kotak panjang di bawah sana? Apa dia bidadari yang sedang tertidur, Dad?"

Deg!

Pertanyaan itu langsung membuat senyum Pieter menghilang. Sensasi sesak yang tak bisa dijelaskan oleh kata, kini kembali mengisi hatinya. Namun Pieter sebisa mungkin menyembunyikan perasaan itu di hadapan puteranya. Dia harus terlihat kuat agar Almero tidak semakin kebingungan. Perlahan, Pieter pun mengangguk, membenarkan perkataan Almero.

Autumn In The CryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang