14. TRAUMA (FlashBack)

11.2K 1.4K 233
                                        

4

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

4.35 PM

Matahari masih menempati singgah sananya saat  Yennifer membuka mata dan mendapati Pieter tengah memeluknya dengan sangat erat. Wajah tampan suaminya terlihat begitu damai saat tertidur.

Kelopak mata yang tertutup dengan bibir merah dan rahang tegas yang ditumbuhi oleh bulu-bulu halus itu terlihat begitu indah di saat-saat seperti ini. Ini bukan kali pertama Pieter tertidur memeluknya dengan begitu erat seperti ini.

Pria itu selalu melakukannya, bahkan saat mereka baru mengenal.

Namun meskipun begitu, Yennifer tidak pernah menaruh harapan lebih kepada Pieter. Dia tahu, jika Pieter akan terus berusaha untuk menyakitinya dengan cara apapun, termasuk membawa wanita lain ke ranjangnya secara terang-terangan.

Tak jarang, Pieter juga akan membiarkan wanita lain tinggal di dalam mansion ini selama beberapa hari.

Dan jika sudah begitu, maka Yennifer hanya bisa diam, menangis di dalam keheningan.

Hal yang tak pernah disangka oleh Yennifer di sepanjang hidupnya adalah—dia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana seorang pria yang telah mengikat janji suci dengannya melakukan pengkhianatan secara terang-terangan.

Mengingat itu, Yennifer pun mengulas senyum tipis, penuh ironi.

"Pieter....," bisik Yennifer sembari mengusap wajah Pieter dengan lembut, berharap jika pria itu akan membuka mata dan melepaskan pelukkannya yang begitu erat.

"Pieter, lepaskan. Aku haus....," lagi, Yennifer mencoba untuk membangunkan suaminya. Dan benar saja, tak lama dari itu Pieter membuka matanya yang terlihat begitu sayu—tanda jika ia masih mengantuk.

"Hm, ada apa Oakley?" gumam Pieter yang kemudian langsung menyembunyikan wajahnya di antara ceruk leher Yennifer.

"Aku haus Pieter. Aku ingin mengambil minum."

"Ck!" decak Pieter tidak suka. Dia paling malas jika harus melepaskan pelukkannya pada tubuh Yennifer. Tapi, karena wanita ini haus, jadi mau tidak mau Pieter akhirnya melepaskan pelukkannya.

"Terima kasih," gumam Yennifer, sebelum ia beranjak dari tempat tidur dan meminum air putih yang ada di meja. Setelah selesai, Yennifer tak langsung kembali ke tempat tidurnya, wanita itu masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membuka gaun tidurnya hingga sebatas dada.

Dia harus membuang asinya yang masih tersisa.

Yennifer duduk di atas toilet dan mulai melakukan kegiatannya.

Yennifer lalu memejamkan mata, demi menghalau rasa kantuk yang masih melanda. Namun baru sejenak ia terpejam, ingatan tentang kebiasaannya bersana Yhein kembali berputar indah memenuhi memori hingga membuatnya kembali terjaga.

Biasanya, di jam-jam seperti ini, ia sedang sibuk menyusui Yhein yang telah terbangun karena haus. Dengan sedikit bersenandung dan menepuk pelan bahu bayinya yang mungil, Yennifer dapat merasakan kebahagiaan meski terkadang ia lelah.

Autumn In The CryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang