Setelah kejadian tidak terduga itu, baik Pieter maupun Yennifer sama-sama terdiam di dalam keheningan. Rintik hujan yang masih setia mengguyur bumi hingga matahari tenggelam adalah saksi atas kebungkaman mereka.
Yennifer yang kini telah mengingat seluruh kejadian yang ada di dalam hidupnya pun tak berani untuk membuka suara atau bahkan menolehkan pandangan ke arah Pieter yang masih setia menatap hujan sejak sore. Alih-alih mengajaknya berbicara, Pieter malah sibuk berdiri di depan kaca—memperhatikan bulir-bulir air hujan yang jatuh.
Namun Yennifer memaklumi hal itu, karena kehilangan hampir seluruh anggota keluarga dalam waktu singkat adalah luka yang tak akan pernah bisa terobati.
Kini Yennifer tak lagi berani menyalahkan Pieter untuk semua traumanya, karena kini Yennifer sadar, jika semua kekejaman Pieter adalah bentuk dari duka laranya atas kehilangan. Perilaku buruk yang selama ini ia terima, nyatanya tak sebanding dengan luka yang ia torehkan ke kehidupan pria bernetra biru itu. Trauma berat yang ia alami juga tak akan mampu menyaingi rasa sakit yang ditanggung oleh Pieter.
Dan rasa penyesalan itu semakin menguar tatkala Yennifer menyadari jika selama ini ia telah banyak tenggelam dalam emosinya. Entah sudah berapa kali ia menyalahkan Pieter atas kematian Yhein, entah sudah berapa kali ia meneriakkan kata 'PEMBUNUH!" kepada pria itu, dan entah sudah berapa kali ia mencoba melarikan diri dari Pieter—Yennifer tidak tahu.
Mengingat semua yang terjadi adalah tanggung jawabnya, lantas Yennifer pun memberanikan diri untuk beranjak dari tempat tidur, bermasukd mendekati Pieter yang mematung.
Pieter yang menyadari pergerakkan Yennifer dari ekor matanya pun hanya bisa diam. Emosi yang sedang bergejolak hebat di dalam dirinya sejak pagi, nyatanya mampu membuat bibirnya bungkam. Kilas balik akan kematian kedua orang tua dan kakak angkatnya bertahun-tahun yang lalu seakan kembali berputar di kepala Pieter—membuat rasa sakit yang sempat ia abaikan, menguar tak terkendali
Hingga pada saat tubuh Yennifer telah berdiri tepat di sampingnya, barulah Pieter menoleh, menatap ibu Almero dengan dingin.
"Aku—"
"Tutup mulutmu!" Desis kemarahan itu keluar begitu saja dari dalam mulut Pieter saat mendengar suara isterinya. Menatap wajah cantik Yennifer adalah hal yang paling menyakitkan baginya saat ini.
Yennifer yang mendapat respon negatif bahkan sebelum ia mengutarakan niatnya pun jelas langsung menunduk takut.
"Tutup mulutmu sebelum aku habis kesabaran!" jelas Pieter yang kemudian langsung berbalik—berniat meninggalkan kamar yang semakin membuatnya tak nyaman. Namun belum sempat ia melangkah, suara Yennifer sudah lebih dulu menginterupsinya.
"Aku menyerahkan diri padamu Pieter!"
Deg!
Kalimat itu langsung membuat Pieter berbalik—menatap tajam isterinya.
"What do you mean?" Yennifer lantas mendongakkan kepala, membalas tatapan Pieter dengan seksama.
"Aku menyerahkan diriku kepadamu Pieter." Yennifer kembali mengulang kalimat itu sembari melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan suaminya. Dengan netra biru yang saling bertatapan, sepasang hati yang tak harusnya bersama itu terdiam—menikmati setiap detik yang terlewat demi sebuah momen yang mungkin tak akan terulang lagi di masa depan.
"Aku menyerahkan sisa hidupku kepadamu, Pieter. Apapun akan aku lakukan demi menebus semua dosaku di masa lalu." Yennifer mencengkram erat buku jarinya—berusaha untuk tidak menangis saat mengutarakan keinginannya. Pieter yang mendengarnya pun hanya bisa diam, tidak bisa berkata-kata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Autumn In The Cry
RomanceSinopsis : Lolos dari jerat kematian sebanyak dua kali tak lantas membuat Yennifer Oakley Harris merasa bahagia. Wanita berambut pirang yang biasanya tampil anggun dengan pakaian yang modis itu, kini harus terkungkung dalam jurang kegelapan dan kesa...
