25. PENEBUSAN DOSA

14.6K 1.4K 283
                                        

"OAKLEY!" Teriakkan Pieter yang terdengar sangat kencang itu, langsung memenuhi sudut ruangan tat kala ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Yennifer lebih memilih untuk menyerah dengan semua keadaan.  Secepat kilat, Pieter langsung berlari, menangkap tubuh Yennifer yang akan jatuh.

Bruk!

Tak lama berselang, tubuh Yennifer yang bersimbah darah pun langsung lunglai ke dalam pelukkan Pieter . Mata pisau yang menancap begitu dalam itu,  membuatnya tak memiliki banyak tenaga untuk berbicara.

"Apa yang kau lakukan ha?! Bagaimana bisa kau—"

"Pi-Piter...." suara lemah itu langsung membuat Pieter terdiam dengan derai air mata yang tak dapat lagi ia tahan. Wajah yang biasanya terlihat dingin tanpa emosi itu, kini memerah, menahan jerit kesakitan akibat rasa sesak yang mulai memenuhi rongga dadanya.

Ketakutan itu menghampirinya bagai mimpi buruk.

Persetan dengan segala dendam dan keangkuhannya, Pieter benar-benar takut melihat keadaan Yennifer!

Perlahan, tangan Yennifer pun terangkat, menyentuh wajah suaminya yang telah basah karena air mata.

"Ja-jangan menangis... Hah...hah..." Napas Yennifer mulai tersengal seiring dengan banyaknya darah yang keluar—membasahi gaun tidur satinnya yang berwarna putih.

"Oakley...." Yennifer tersenyum namun air matanya tak berhenti menetes.

Ia tahu, jika malam ini adalah malam terakhirnya.

Ini adalah malam terakhirnya melihat wajah Pieter dan merasakan tegasnya rahang pria itu.

Ini adalah malam terakhirnya menatap netra biru itu secara nyata....

Dan ini adalah malam terakhirnya merasakan udara.

Karena setelah ini Yennifer akan pergi, menyusul puteri kecilnya yang telah menunggu di alam keabadian sejak dulu.

Mengingat sisa waktunya tak banyak, Yennifer pun mengusap wajah Pieter, menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi wajah suaminya.

"A-aku.... akh-akan membayar se-semua hah...hah... dosa-dosaku malam ini, Pieter...." bisik Yennifer dengan begitu terbata. Mendengar itu, Pieter  pun langsung menggenggam erat tangan Yennifer,  menatap lekat-lekat netra biru isterinya yang indah dan menikmati setiap detik yang terlewatkan bersama wanita yang telah ia sakiti di setiap tarikkan napasnya.

"Ma-maaf...hah...u-untuk semuanya Pieter...." Pieter menggeleng pelan.

"No.... Don't leave me... Just don't Oakley... Please..." Pieter memohon dengan teramat sangat. Hatinya tidak menerima perpisahan ini.

Tidak bisa!

Ya, dia memang pernah menjadi seseorang yang menginginkan kematian Yennifer. Namun saat menyadari jika ia mungkin tidak akan bisa hidup tanpa melihat wanita bernetra biru yang selalu menatapnya dengan takut-takut itu, Pieter kembali mempertimbangkan semua kemungkinan, termasuk melupakan dendamnya kepada Yennifer.

Namun, sepertinya semua sudah terlambat.

Pada akhirnya, Yennifer memutuskan untuk berhenti berjuang. Membebaskan jiwanya yang terbelenggu dengan cara yang paling menyakitkan.

Mendengar perkataan Pieter, Yennifer pun hanya bisa tersenyum tipis.

Jika waktu bisa diulang, maka Yennifer tidak akan pernah melibatkan siapapun ke dalam hidupnya.

Jika tahu jika ia akan tumbuh dengan menyakiti banyak orang, maka ia tidak akan pernah mau merasakan apa itu yang namanya kebahagian.

Dan jika Yennifer tahu jika kelahirannya tidak akan membawa kebahagiaan bagi siapapun, maka Yennifer lebih memilih untuk tidak pernah hadir di rahim sang ibu.

Autumn In The CryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang