Sinopsis :
Lolos dari jerat kematian sebanyak dua kali tak lantas membuat Yennifer Oakley Harris merasa bahagia. Wanita berambut pirang yang biasanya tampil anggun dengan pakaian yang modis itu, kini harus terkungkung dalam jurang kegelapan dan kesa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kau akan mengulangi semua hal yang ada di dalam ingatanmu, Oakley. Ingat, semuanya...."
Dan Yennifer langsung berbalik saat itu juga. Wanita itu menatap Pieter dengan pandangan yang menyiratkan kesedihan.
"Apa kau benar-benar ingin aku mati?" tanya Yennifer dengan suara yang bergetar. Pieter yang mendengar itu langsung menegakkan badannya dan menatap Yennifer dengan begitu dingin.
"Haruskah aku menjawab?"
Mendengar balasan Pieter, Yennifer pun menunduk—menyembunyikan senyum sendu dan genangan air mata yang jatuh membasahi pipinya.
"Ah, aku bahkan menyadari jika tidak ada yang menginginkan kehadiranku di dunia," gumam Yennifer dengan bibir yang tersenyum—begitumenyedihkan.
Memang benar, sejak kecil, Yennifer Oakley Harris tidak pernah dianggap oleh siapapun—bahkan keluarganya sendiri. Tidak ayah, ibu ataupun para sepupu dan kakek neneknya. Semua orang menjauhi Yennifer tanpa memberitahu apa kesalahan wanita berambut pirang itu. Kebencian yang begitu besar seolah hadir begitu ia terlahir ke dunia.
Apakah kalian pernah memikirkan kenapa dia memakai marga 'Harris' dan bukan 'O'Brian' di akhir namanya?
Ya, itu adalah sedikit kebencian yang ditunjukkan oleh klan O'Brian kepada Yennifer secara terang-terangan.
Rion O'Brian—pria yang selalu memberikan tatapan dingin sedari ia kecil adalah ayah kandung dari seorang gadis kecil yang selalu bermain sendirian ketika keluarganya sedang bersuka cita merayakan pesta.
Bagi Yennifer, tidak ada sosok ayah yang biasa disebut sebagai 'hero' dan cinta pertama anak perempuannya karena Rion Karl O'Brian bahkan tak sudi untuk menyematkan marga O'Brian di akhir puteri kandungnya sendiri.
Dan ibunya—Axille Chloe Harris 'terpaksa' menyematkan marga keluarganya ke dalam nama Yennifer. Wanita yang menurunkan netra biru itu juga bersikap tak jauh berbeda dari sang ayah. Namun meskipun begitu, setidaknya sang ibu masih mau berbicara sepatah dua patah kata kepada Yennifer di saat-saat tertentu.
Tak ada kecupan hangat apalagi pujian manis yang terlontar dari bibir mungil ibunya saat Yennifer masih kecil. Hanya ada beberapa pertanyaan dan sindiran halus yang selalu diucapkan oleh Axille kepada Yennifer hingga gadis itu tumbuh besar.
Mengingat sebagian kecil kisah kelamnya, Yennifer pun semakin terisak dengan kencang.
Kenapa tidak ada yang menginginkannya?
Kenapa semua orang ingin membuatnya menapaki kegelapan seorang diri?
Tidak adakah secercah cahaya lilin yang mau menemaninya hingga akhir? "Hentikan tangisan menjijikkan itu, Oakley."
Suara tegas Pieter yang menggema ke sudut ruangan, tak lantas membuat Yennifer langsung menghentikan tangisannya. Sudah terlalu banyak rasa sakit yang ia tanggung sendirian.