Layaknya sebuah drama telenovela yang penuh konflik dan drama, kehidupan seorang manusia pun tak jauh berbeda. Tuhan yang berperan layaknya penulis skenarionya akan memunculkan suatu masalah untuk tokoh yang ditulisnya. Seperti Chika misalnya, kehidupan yang dituliskan untuk wanita itu nyatanya penuh dengan drama dan luka. Rasanya waktu seperti itu tak pernah ia minta sama sekali untuk terjadi. Ia tak 'kan mau terjun ke dalam cerita ini apalagi Tuhan pernah menghadiri sosok Shamy dalam ceritanya. Cerita yang pada akhirnya berujung dengan sad ending. Meninggalkan sesak di dadanya. Meninggalkan luka dan trauma yang begitu terasa. Namun, satu sisi rasanya Chika perlu berterima kasih pada Tuhan karena lewat luka itu menjadikannya sosok wanita yang kuat, tangguh dan dewasa.
Berawal dari kepolosan Yessica Tamara remaja yang datang ke Tokyo dengan tujuan menempuh pendidikan seketika berubah setelah menghadapi sebuah masalah. Sesosok gadis belia yang seharusnya belajar namun tiba-tiba menghentikan langkahnya dan memilih bekerja part time di sebuah hotel hanya karena terjebak ke dalam sebuah perasaan yang bernama cinta. Cinta yang entah dari mana hadirnya itu membuatnya lupa akan semua cita-cita dan tujuannya. Hingga terhanyut terlalu jauh, terbawa arus perasaan yang tak seharusnya. Hubungan itu merubahnya menjadi wanita dua puluh tahun yang mengerti artinya memiliki, dimiliki, dicintai, mencintai, dan juga mengerti arti memuaskan satu sama lain dalam sebuah hubungan. Hingga tanpa sadar, Tuhan mencoba menghadirkan sosok mahluhk kecil dalam kehidupan Chika belia saat itu. Sosok Chika dua puluh tahun yang belum mengerti apa-apa itu seketika dituntut untuk menjadi seorang ibu tanpa adanya kesiapan mental dan financial. Dituntut untuk menjadi lebih penyayang, dituntut untuk menjadi lebih penyabar dan juga dituntut untuk menjadi tangguh demi menghadapi hidup yang kian terasa pahit.
Semua itu adalah nyata proses kedewasaan yang merubahnya dari gadis belia hingga sekarang menjadi wanita 28 tahun yang tangguh. Di hadapi badai apapun rasanya sudah kebal bagi Chika. Dia kini benar-benar berubah layaknya sebuah baja yang tahan dalam situasi dan keadaan apapun. Namun, sepertinya hanya sosok Kenzo yang mampu merapuhkan hati seorang Yessica Tamara bila tak melihat wajah putranya. Langkah kakinya terus menyusuri tiap sudut rumah sederhana ini. Mencari keberadaan putranya yang entah berada dimana sekarang.
Dan pada akhirnya Chika menghela napasnya lega setelah mendapati anak laki-laki dengan earphone yang menempel di telinga kanan dan kirinya yang tengah terbaring diatas ayunan tali hammock yang beberapa waktu lalu di pasang oleh Kenzo dan Vito sebelum pria itu pergi.
"Ken, ayo masuk" panggil Chika dari ambang pintu utama pada Kenzo.
Kenzo, bocah yang hari ini genap berusia 8 tahun itu langsung membuka matanya kala mendengar suara ibunya. "Tidak mau. Nanti saja, Mama. Jangan mengganggu waktuku." ujarnya lalu kembali memejamkan matanya.
"Hei, kenapa kamu susah sekali di beri tahu?" suara tegas Chika semakin jelas menusuk telinga Kenzo. Kini dia sudah berdiri di samping putranya yang tengah bersantai ria dibawah rindangnya pohon yang beberapa saat selalu menjatuhkan daun-daunnya. "Heh, ini earphone siapa? Kayanya Mama gak pernah beliin Kamu earphone?" tanya Chika saat menyadari ada sepasang earphone di kedua telinga putranya.
"Hum... Aku di berikan oleh aunty Dey." Kenzo segera melepas earphone itu agar ibunya tidak semakin bertanya.
"Aunty Dey?" alis Chika menukik, "Kapan? Kok aunty Dey gak cerita ke Mama, ya?"
"Mungkin aunty Dey lupa. Lagi pula, kalau mau memberi barang untuk seseorang bukannya lebih baik tidak usah diumbar 'kan?"
Chika mengangguk, "Ya sudah, sana masuk. Kau belum mandi."
Dengan malasnya Kenzo segera beringsut. Merubah posisinya menjadi duduk, menghadap pada ibunya. "Aku tidak mandi pun tetap tampan 'kan?"
"Siapa yang bilang begitu?" Chika terkekeh sambil merapihkan anak rambut Kenzo yang menjuntai kebawah, hampir menyentuh mata. Chika akui putranya memang benar-benar tampan. "Ya, tapi tetap saja kamu harus mandi, Ken. Lagian ngapain sih disini? Mau buat Mama gila pagi-pagi gini karena gak liat kamu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
River Flows In You
RomansaAku akan mengubah makna sungai kecil yang mengalir itu, Chika. Alvito Fadrin
