Bagi Chika, menjadi seorang ibu tidaklah mudah. Apalagi kini statusnya adalah single parent untuk putranya. Hidup kurang lebih selama 7 tahun di kota ini benar-benar banyak mengajarinya untuk hidup mandiri. Seperti saat ini, di saat sang mentari belum terbit, tapi, Chika, wanita itu sudah terbangun sepagi ini. Banyak hal yang harus ia kerjakan, mulai dari menyiapkan sarapan dan bekal untuk Kenzo, menyiapkan baju sekolah Kenzo dan menyiapkan perlengkapannya sendiri sebelum berangkat bekerja.
Vito mengerjapkan matanya saat mendengar suara yang sedikit bising di telinganya. Ia terbangun dan menguap cukup kencang. Kemudian melirik jam tangannya, ini baru jam 4 pagi. Apa Chika sudah bangun? Vito mulai meregangkan ototnya dan segera bangun. Tak lupa ia melipat matras dan selimut yang menemani tidurnya semalam, lalu ia letakan di sudut ruangan. Setelah itu Vito mulai berjalan gontai menuju dapur. Ternyata benar, Chika, wanita itu sudah berkutat dengan wajan-wajan dan spatulanya di sana.
"Loh, kok udah bangun?" tanya Chika saat menyadari kehadiran Vito. Ia sedang memotong wortel sesekali juga mengaduk Chicken teriyakinya di wajan.
"Iya, saya kebangun. Suara pisau kamu keras banget. Masak apa sih?" Vito mulai duduk di kursi kayu yang terletak di sudut dapur.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Maaf ya, saya berisik, kamu jadi kebangun deh" ujar Chika tidak enak.
"Gak apa"
"Kamu mau saya buatin kopi?" tanya Chika tanpa memalingkan pandangannya pada pisau yang kini memotong kubis.
"Gak usah nanti saya buat sendiri. Kamu kan lagi masak" ujar Vito yang tidak enak merepotkan wanita itu.
"Padahal saya lagi berbaik hati loh, Vit" ujarnya sambil menyunggingkan senyumannya. "Nanti kalau mau buat kopi, kopi sama gulanya ada di rak itu, ya" tunjuk Chika pada rak di samping Vito duduk saat ini.
"Iya" jawabnya sambil menguap.
"Tidur aja, vit, kalau masih ngantuk" ujar Chika saat mendengar uapan dari mulut Vito.
"Enggak ah. Saya mau bantu kamu masak aja" Vito sudah hendak berdiri. Tapi, Chika langsung menatap ke arahnya.
"Enggak usah. Nanti ngerecokin saya yang ada" tolak Chika.
"Enggak kok. Saya ini Chef loh Chik, kamu belum tau aja kalau saya ini bisa masak. Kan niat saya mau buka resto di tokyo" ujar Vito.
"Bantuin masaknya kapan-kapan aja. Ini udah mau selesai"
"Biar cepet Chika" Vito sudah ikut memegang spatula dan bersiap mengaduk sup yang ada di panci.
"Ini orang di bilangin bandel, ya" Chika sudah berkacak pinggang sekarang. Lalu ia merampas paksa spatula yang ada di tangan Vito. Kemudian mendorong pria itu agar duduk kembali di tempatnya semula.
"Duduk disini. Bisa kan? Gak usah recokin saya. Ngerti!" Chika mengacungkan pisaunya tepat di depan wajah Vito.
Melihat pisau tajam itu kini berada tepat di depan wajahnya, kini Vito hanya bisa bergidik. Ngeri sekali wanita ini. Daripada ia di tebas oleh Chika, lebih baik menurut saja.