Part-12: Mencoba mengenalmu

583 88 34
                                        

Suara lonceng berbunyi ketika pintu Cafetaria itu dibuka. Vito menyembulkan kepalanya dari balik mesin kopi. Ada beberapa gadis SMA yang datang. Ini jam pulang sekolah, Vito bisa menebak sekumpul gadis bermata sipit itu pasti akan menghabiskan waktu mereka hingga sore di Cafetaria-nya. Jika diingat-ingat para gadis SMA itu tidak pernah absen datang ke cafetaria ini semenjak Vito membukanya.

5 porsi sandwich baru saja selesai Vito buat.

Ting!

Salah satu gadis itu sudah bersiap mengambil pesanan mereka. Dengan malu-malunya gadis itu menerima nampan yang berisikan beberapa potong sandwich. Ada senyuman yang gadis itu berikan pada Vito walau tidak terlalu lebar.

"Arigatou gozaimasu" Vito membungkukan badanya. Bagaimanapun ia harus memberi kesan yang ramah pada pelanggan. Ahh, lagi dan lagi gadis itu masih berdiri di tempatnya. Hei, apa gadis itu tidak mau duduk kembali bersama teman-temannya disana? Kenapa gadis itu justru masih menatap Vito? Vito rasa pesanan gadis itu sudah lengkap bukan?

"Mōichido otetsudai dekiru koto wa arimasu ka?" (ada yang bisa saya bantu lagi?)

Gadis itu sedikit tersentak, ia menggeleng cepat. Kakinya perlahan mundur lalu kembali bergabung di meja panjang itu bersama teman -temannya. Vito terkekeh sambil menggelengkan kepalanya pelan. Lucu sekali gadis-gadis itu. Ini sudah kesekian kalinya sekumpulan gadis remaja itu seperti itu. Mereka akan bergilir melakukan hal yang sama. Memperhatikan apa saja yang Vito lakukan. Vito bahkan pernah bertanya pada salah satu gadis remaja itu. Tapi, bukan jawaban yang Vito dapat, melainkan hanya senyuman dan sikapnya yang tersipu malu. Apa gadis Jepang rata-rata itu pemalu? Vito rasa begitu.

Suara lonceng di pintu kembali terdengar. Vito tersenyum, itu Chika bersama Kenzo. Sudah menjadi hal yang rutin semenjak Vito membuka Cafetaria, anak itu pasti akan selalu di titipkan disini hingga ibunya nanti menjemputnya sehabis pulang bekerja. Vito sendiri tidak keberatan, ia senang ada Kenzo yang menemaninya.

"Hai, Boy, gimana sekolahnya hari ini?" Vito baru saja mengacak rambut Kenzo dengan gemas.

"Cukup menyenangkan" jawabnya datar.

"Kok cukup menyenangkan? Berarti ada hal yang tidak menyenangkan juga dong?"

Kenzo menumpu dagunya dengan kedua tangannya. Bocah itu menatap Vito, "Om, tadi di sekolah, Yuka bercerita kalau dia baru saja pulang liburan dari Indonesia. Katanya dia liburan ke Bali dan Jakarta. Aku merasa malu. Aku kan' orang Indonesia, tapi aku tidak tahu apa-apa tentang Indonesia"

"Nanti kapan-kapan kita ke Jakarta." itu suara Chika. Wanita itu baru saja menyimpan ransel Kenzo lalu berjalan ke arah dispenser untuk mengambilkan air putih untuk putranya. "Nih, minum dulu. Katanya tadi haus"

Dengan malasnya Kenzo meraih gelas itu dan menegaknya hingga tandas. "Mama selalu bilang begitu. Kapan-kapannya itu kapan? Setiap aku ingin ikut ke Indonesia denganmu, tapi kau malah menitipkanku pada aunty Dey. Menyebalkan!" dengusnya pelan, namun masih terdengar oleh Chika.

Vito tersenyum mendengar keributan kecil antara ibu dan anak di depannya ini. Ahh, Vito baru ingat, anak itu tidak pernah sama sekali ke Indonesia. Cukup aneh memang.

"Ken, gimana kamu ke Indonesia sama Om aja? Rencananya bulan depan Om mau pulang ke Indonesia. Nanti kita liburan ke Jakarta sama Jogja. Mau gak?"

Mendengar apa yang ditawari Vito mampu membuat mata Kenzo berbinar, bahkan wajahnya begitu sumringah sekarang. "Benarkah? Kau tidak berbohong kan?"

"Enggak dong. Om mana pernah bohong sama Kenzo"

"Gak usah macem-macem kamu, Vit. Saya gak ngebolehin Kenzo pergi ke indo sama kamu" timpal Chika tiba-tiba.

River Flows In YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang