Part-20: Tentang rasa

595 101 41
                                        

Jalanan pagi Shibuya yang menjadi laju sebuah sedan hitam pagi ini begitu cerah. Angin sejuk baru saja membaur dengan kulitnya yang masuk dari kaca jendela mobil yang di biarkan terbuka. Bahkan sinar sang mentari yang tidak panas itu juga ikut menyoroti wajahnya. Benar-benar pagi yang cerah. Namun, siapa sangka di balik cerahnya hari, wajah seorang Alvito Fadrin justru berbanding terbalik. Terlihat begitu masam semenjak sedan hitam yang di lajui oleh wanita di sebelahnya ini meninggalkan apartemen yang menjadi tempatnya melarikan diri selama beberapa hari belakangan ini.

Mira, wanita itu datang bagaikan seorang rentenir di pagi hari yang Vito tidak kehendaki kedatangannya. Bayangkan saja, pagi-pagi buta wanita itu sudah datang dan memaksa mengajaknya pulang. Bahkan dalam keadaan mata yang masih mengantuk berat. Ahh, sungguh menyebalkan. Padahal 'kan kalau Mira tidak menjemput, ia bisa terus tinggal di apartemen Chika. Lagi pula apartemen Chika lebih nyaman daripada rumah mewah Mira yang begitu sunyi.

"Gak usah di gituin mukanya. Anyep banget." Vito melirik malas pada Mira. Wanita dengan setelan jas blazer yang tampak ramping di tubuhnya itu sedang fokus dengan kemudinya. "Gue minta maaf, ya, Vit. Gara-gara masalah kemarin lo jadi gak pulang" satu helaan napas keluar dari hidung Mira. "Jadi, karena gue udah minta maaf sama lo, gue juga mau lo minta maaf sama Zahran"

Vito mengerjapkan matanya yang sudah tidak mengantuk, menegakan tubuhnya pada jok kursi lalu melipat kedua tangannya di dada. "Gue gak mau"

"Kenapa, sih, Vit? Kenapa minta maaf aja gak mau?" sesekali Mira menoleh ke arah Vito, membagi fokusnya antara jalan dan juga sahabatnya itu. "Zahran sampai babak belur loh, Vit, lo pukulin! Apa lo gak merasa bersalah?"

"Dia pantes kok dapet itu" jawab Vito santai. Matanya menatap lurus ke jalanan lenggang.

"Apanya yang pantes? Gara-gara kelakuan lo, gue malu tau Vit sama Zahran" mobil Mira menepi di sebuah rumah mewah berlantai 2 bergaya modern japanese. "Jangan jadi orang yang gak jelas. Ayo, sekarang turun!"

"Ngapain? Ini rumahnya siapa?"

"Rumahnya Zahran. Gue gak mau tau Lo harus minta maaf sama Zahran sekarang!"

Dengan cepat Mira turun dari mobilnya terlebih dahulu. Lalu membuka pintu mobil sebelah kanan, ia menarik paksa Vito agar cepat turun.

"Gue gak mau, Mira. Kalau gue gak mau jangan lo paksa dong!"

"Apa sih susahnya minta maaf? Ngaku gitu perbuatan lo salah. Dengan gitu masalah selesai, Alvito Fadrin!"

"Denger, ya, Mir, sampai kapanpun gue gak akan mau minta maaf sama orang brengsek kaya si Zahran. Karena dia-- "

"Shutt.. " Mira menutup rapat kedua telinganya. Enggan mendengar apa yang dikatakan Vito. "Stop bilang Zahran brengsek! Lo aja baru beberapa kali ketemu Zahran. Bagaimana mungkin lo cap dia brengsek? Memangnya lo pernah disakitin sama Zahran? Enggak 'kan?"

Perdebatan Vito dan Mira rupanya mengusik salah satu penghuni rumah mewah itu. Seorang laki-laki dewasa tampan dengan style bak anak muda kekinian melongok dari balik gerbang rumahnya.

Buru-buru Mira membungkukan badannya setengah. Tidak terlalu rendah. Mira memang tidak mengenal pria tampan itu. Tapi Mira yakin dia salah satu penghuni rumah ini. Mungkin saja kakak laki-laki Zahran? Ahh, tampan juga. Mengapa Zahran tidak pernah bercerita bahwa memiliki seorang kakak laki-laki yang teramat tampan? Memang tidak mirip Zahran, sih. Namun, lebih mirip dengan Fiony, adik Zahran.

"Mira, kita pulang sekarang. Gak sudi gue ada di rumah pecundang" lirikan mata tajam Vito tertuju pada dia-- Shamy yang berdiri tegak. Sorot mata dua laki-laki itu beradu tajam. Tidak ada kedamaian disana.

River Flows In YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang