Bangun sebelum matahari terbit adalah rutinitas di pagi hari Chika sekalipun ia libur bekerja. Chika menutup pintu kamarnya pelan-pelan, ia takut Kenzo terbangun. Matanya mengerjap saat melihat cahaya lampu dapur. Apa itu Vito? Ketika ia sampai di dapur, benar saja Vito, laki-laki itu tengah berkutat disana. Aihh tumben sekali laki-laki itu bangun lebih awal, apa Chika tidak salah lihat?
"Ohayou ibu Chika yang cantik"
"Aihh," Chika tertawa geli mendengar sapaan di pagi hari ini dari mulut Vito. Lalu Ia mengambil segelas air di dispenser.
"Western food nih, hari ini"
"Iya, dong. Saya gak bisa masak makanan jepang soalnya"
"Masak apa?" tanya Chika. Kini ia sudah berdiri di depan Vito sambil mengintip masakan laki-laki itu. Chika bahkan sudah seperti juri di ajang masak saja.
"Spaghetti marinara with seafood Chef" ujar Vito sambil mengaduk marinara sauce di wok pan.
"Pagi-pagi udah masak spaghetti. Mau dong, udah mateng kan?" Chika mengambil piring lalu mengasongkannya pada Vito untuk diisi.
"Nih, awas masih panas." peringat Vito.
Chika mulai memasukan Spaghetti itu ke mulutnya. "Gimana enak, kan?" tanya Vito cemas, takut spaghetti yang ia buat tidak cocok dengan lidah Chika.
"Enak. Enak kok" lagi dan lagi Chika memasukan spaghetti itu ke mulutnya. "Uhuk.. huk.." Chika memegang lehernya matanya sudah merah akibat tersedak.
Melihat Chika yang sepertinya tersedak Vito segera mengambil air. "Pelan-pelan aja, Chik" Vito menepuk pelan tengkuk leher Chika. "Gimana udah mendingan belum?"
Chika mengangguk lalu ia meraih airnya kembali untuk diminum.
"Kenapa sih, kok makannya buru-buru? Laper?" tanya Vito sembari terkekeh.
"Iya, udah bertahun-tahun saya belum makan" gurau Chika. "Kamu mau ngapain?" tanya Chika saat Vito sudah membungkukan badanya, kini wajah mereka sejajar, cukup dekat. Dengan susah payah Chika menelan salivanya. Tunggu.. Kenapa ia harus gugup saat ditatap sedekat ini oleh Vito?
"Makan kok kayak anak kecil, malu sama Kenzo, Chik" tangan itu baru saja mengusap bibir Chika yang kotor akibat terkena sauce spaghetti.
"Enggak kok, cuma berantakan dikit. Sok tau kamu" Chika memegang bibirnya yang baru saja di usap Vito. Oke, ia cukup kaget untuk saat ini. Matanya mengikuti arah punggung Vito yang tengah mencuci tangan di wastafel. Dengan cepat Chika memalingkan matanya sebelum tertangkap basah oleh Vito karena sedang memperhatikannya.
"Mau saya suapin gak?" tawar Vito.
"Eh gak usah. Saya bukan anak kecil" tolak Chika.
"Yakin?" ujar Vito sambil tersenyum jahil.
Vito hanya hanya terkekeh saat Chika mulai mendelikan matanya. Ia heran kenapa menggoda Chika itu rasanya menyenangkan.
"Vit, hari ini saya gak jadi libur, tapi saya kerjanya gak full shift kok. Jadi hari ini kita tetep bisa nyari temen kamu"
"Oke, gak masalah" Kini Vito bersandar di dekat kulkas dengan secangkir kopi ditangannya. Sementara Chika, ia masih anteng duduk di kursi kayu yang letaknya tidak jauh dari Vito berdiri saat ini.
"Mama!" Kenzo, bocah itu kini berdiri di ambang pintu dapur dengan muka bantalnya. Bahkan baju tidur kesayangannya itu masih melekat di tubuh Kenzo.
"Loh, anak Mama udah bangun toh ternyata" Kenzo berjalan menghampiri Chika dan naik ke pangkuan sang ibu. Bahkan kini ia sudah meringsek di ceruk leher itu. Perlu diketahui, wajahnya sedikit tidak bersahabat sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
River Flows In You
RomanceAku akan mengubah makna sungai kecil yang mengalir itu, Chika. Alvito Fadrin
