Hari ini... Di depan matanya, sudah kesekian kalinya Chika menyaksikan momiji. Momiji adalah dimana proses daun-daun berubah warna menjadi kemerahan, jingga, ataupun kuning sebelum pada akhirnya jatuh berguguran. Setelah tak lama dedaunan itu berjatuhan dan angin mulai berhembus dingin, maka setelah itu musim dingin datang menyapunya.
Jujur saja, Chika tidak begitu menanti musim yang berada diantara musim panas dan musim dingin ini. Menurutnya tidak ada hal yang special di musim ini walau momiji sedang indah-indahnya untuk dilihat dan dinikmati. Entah kenapa, setiap kali melewati musim ini, rasanya begitu berat. Berat karena harus masih mengingat dan hidup dalam bayangan yang memilukan hatinya. Dulu, cerita kelamnya terjadi di musim ini. Cerita awal dimana ia bisa sebegitu membencinya sosok Shamy. Sakit... Rasanya sakit jika mengingat kejadian itu kembali. Hatinya tidak akan pernah baik-baik saja setiap kali musim ini datang menyapanya.
Bahkan... untuk saat ini juga. Ada hal yang sedang berkecamuk di dalam dadanya sana. Hatinya kini sedang tidak baik-baik saja setelah beberapa hari yang lalu disaat Vito melihatnya berciuman dengan Shamy. Vito-- laki-laki itu memang sama sekali tidak menunjukkan rasa marah ataupun kecewa padanya. Tapi... Ada satu hal yang tak bisa Chika lupakan. Vito menginginkan mereka untuk tidak saling bertemu dulu. Iya, tidak bertemu. Tapi sampai kapan?
Dengan helaan napas berat, Chika menoleh ke arah kanan dan kiri. Semakin sore semakin banyak orang berlalu lalang. Sudah berapa lama dia berdiam disini? Ah, Chika lupa. Ia terlalu hanyut dalam lamunannya. Begitu melirik arlojinya, ingin rasanya Chika kembali memaki dirinya sendiri. Baiklah, kebodohan yang sering terjadi. Bisa-bisanya dia hanya berdiam duduk di depan halte tanpa ada niatan untuk masuk ke dalam stasiun. Padahal kalau diingat-ingat, satu menit lagi shinkansen akan tiba. Bodoh! Chika tidak boleh ketinggalan kereta. Kalau sampai ia ketinggalan shinkansen lagi kali ini, Chika benar-benar malas untuk menunggu shinkansen berikutnya. Dia tidak suka menunggu. Menunggu itu tidak enak!
Tidak membutuhkan waktu lama untuk shinkansen yang ditumpangi Chika tiba di Shinjuku. Begitu tungkainya keluar dari stasiun, tujuannya saat ini adalah apartemen Dey. Beruntungnya ia tak perlu berjalan terlalu jauh untuk sampai ke apartemen Dey. Apartemen Dey sangat dekat dengan stasiun. Berbeda dengan apartemennya di Shibuya yang harus memerlukan waktu 15 menit berjalan kaki untuk sampai.
Pintu apartemen itu terbuka, menampilkan sosok Dey yang mengenakan kimono mandinya dengan handuk yang tampak melilit di kepalanya.
"Loh, lu, udah pulang? Kok cepet? Bukannya jam pulangnya masih satu jam lagi?"
Ah, temannya ini, bukannya di persilakan untuk masuk tapi kini Chika malah di todong dengan berbagai pertanyaan.
"Hari ini hirata san suruh balik cepet" jawab Chika dengan malas. Benar, Chika benar-benar sedang malas kali ini. Kenudian ia melengos masuk begitu saja, meninggalkan Dey di ambang pintu dengan mulut yang masih membulat.
Senyum Chika merekah seketika setelah melihat putranya. Kenzo... Anak itu sedang duduk di atas sofa sambil menonton serial anime kesukaannya. Lalu dengan jahilnya tangan Chika menutup kedua mata Kenzo dari arah belakang.
"Mama!"
Chika berdecak. Ah, Kenzo tidak seru!
"Ini pasti Mama. Aku tau, kau tidak usah menutup mataku." Kenzo segera melepaskan tangan Chika yang melingkar di matanya lalu berbalik badan untuk memastikannya.
"Ah, gak asik! Kok tau, sih?" Chika mendengus lalu menjatuhkan punggungnya di samping Kenzo dan diakhiri mencium gemas pipi putranya.
"Aku hapal wangi parfume-mu, Mama"
"Dari dulu itu wanginya gak berubah, Ken." timpal Dey yang baru bergabung. "Itu 'kan parfume kesukaan Sha--" ucapan Dey terhenti ketika mendapatkan delikan tajam dari Chika. Bodoh! Hampir saja. Mungkin sebentar lagi Chika akan memakinya habis-habisan. Baiklah Dey akan bersiap.
KAMU SEDANG MEMBACA
River Flows In You
RomanceAku akan mengubah makna sungai kecil yang mengalir itu, Chika. Alvito Fadrin
