"Harusnya kamu diem aja di apartemen. Gak usah bantuin saya disini, Chika" Vito, laki-laki itu tengah mengangkut semua papan flyer promosi lalu meletakannya di dalam laci. Hari ini ia memang menutup lebih awal cafetarianya.
"Gak apa, lagi. Kayak sama siapa aja, Vit" Chika baru saja selesai mengelap seluruh meja.
Vito tersenyum kala melihat buliran keringat baru saja luruh di pelipis Chika. Ia segera mencari sapu tangan di laci. "Boleh saya lap keringet kamu?"
"Hum?" Chika menatap Vito yang kini berada tepat di depannya. Kemudian melirik tangan Vito, ada sapu tangan berwarna biru yang laki-laki itu genggam. Chika mengulas senyuman sebelum pada akhirnya mengangguk. Membiarkan Vito menyeka lembut dahi dan pelipisnya. Jika boleh jujur, dadanya terasa hangat saat merasakan perilaku Vito padanya. Kapan terakhir kali ia diperlakukan manis seperti ini? Chika bahkan lupa.
"Kamu kalau lagi berkeringet, cantiknya nambah" bisik Vito di sela-sela ia menyeka dahi Chika. Katakanlah itu sebuah gombalan.
"Apaansih.. " Chika memalingkan wajahnya bersamaan dengan lonceng di pintu kaca yang berbunyi, menandakan ada orang yang membuka pintu kaca itu. Ternyata-- itu Mira yang datang. Tapi, tunggu dulu.., dan juga ada-- Zahran. Jelas Chika cukup kaget melihatnya. Apalagi kini Zahran sudah bertatap muka begitu dekat dengannya, disini, di tempat ini. Di depan Vito dan juga Mira. Bahkan Zahran melemparkan senyuman manis untuknya.
"Ngapain lo kesini?" suara dingin Vito menyambut telinga Zahran. Vito tidak suka Zahran menatap Chika seperti tadi.
"Gue yang ajak Zahran kesini, Vit. Santai dong. Lagian kenapa, sih?" tanya Mira.
"Mir, gue gak nanya sama lo. Gue lagi nanya sama si brengsek ini!" satu langkah kaki Vito maju mendekati Zahran, menarik kerah baju laki-laki muda itu. "Eh, jawab pertanyaan gue, mau apa lo kesini?"
"Vit, apaan sih? Lepasin gak!" Mira jengah saat tangan Vito menarik kerah baju Zahran.
"Lepasin. Gue gak ada urusan sama lo!" Zahran menyingkirkan tangan Vito dan mendorong bahu Vito cukup jauh. Kalau saja Chika tidak menyangga tubuh Vito, mungkin saja laki-laki itu sudah tersungkur di lantai.
Tidak terima di dorong seperti itu, Vito melayangkan satu pukulan di wajah Zahran.
Bugh..
"Berani-beraninya lo nampakin diri lo disini. Hah? Brengsek! Sini lo!" Vito menarik lengan Zahran dan kembali memukul wajah Zahran berkali-kali hingga laki-laki itu tersungkur di lantai.
"Vit, berhenti! lo kenapa sih?" Mira menarik lengan Vito agar berhenti memukuli Zahran, "Kenapa lo pukulin Zahran? Hah?"
Pertanyaan Mira seolah bagaikan angin lalu, Vito melirik Zahran yang berusaha kembali berdiri. "EH, SINI LO!" Vito kembali menarik kerah baju Zahran. Menatap laki-laki muda itu sengit.
Sebelum tangan Vito kembali mendaratkan pukulan di wajahnya, dengan cepat Zahran menahan tangan kokoh itu. "Cara lo norak! Udah gue bilang, gue gak ada urusan sama lo, Vito!"
Vito berdecih, "Tapi mulai sekarang lo sama bokap lo ada urusan sama gue! Brengsek!"
Bugh..
Bugh..
Bugh..
"VITO, BERHENTI!" Mira mendorong tubuh tegap Vito. Ia tidak terima Vito memukul Zahran tanpa sebab seperti itu. "LO KENAPA SIH? KESETANAN? ANEH BANGET TAU GAK!"
Mira segera membantu Zahran untuk berdiri. Ia meringis melihat darah segar yang mengalir di sudut bibir Zahran.
"Vit, udah. Kamu kenapa pukulin Zahran?" kali ini Chika bertanya. Tangannya berusaha kuat menahan tubuh tegap Vito yang mencoba kembali memukul Zahran.
KAMU SEDANG MEMBACA
River Flows In You
Roman d'amourAku akan mengubah makna sungai kecil yang mengalir itu, Chika. Alvito Fadrin
