Mama, apa kau menyukai Om Vito?
Ahh! Kenapa pertanyaan itu masih saja memenuhi tempurung kepalanya. Kenapa juga Kenzo harus bertanya akan hal itu? Untuk apa putranya yang cuek itu menyinggung masalah kedekatannya dengan Vito? Bukankah Kenzo tidak mau tau dan tidak mau mendengar dirinya memiliki kekasih? Chika bahkan tidak pernah berpikir hingga bisa menyukai Vito. Itu mustahil dalam kamusnya.
"Woy, Chik, ngapain diem baek disini? Gak pulang lu?" tanya Dey, wanita itu terheran melihat Chika duduk di loker seorang diri, menghadap ke depan cermin besar yang biasanya di pakai untuk berias.
"Lagi puyeng gue, Dey" Chika memijit pelipisnya. Menenggelamkan wajahnya dengan kedua tangannya di atas meja.
"Kenape lagi?" tanya Dey yang kini berada di balik pintu toilet.
Chika mengangkat wajahnya, menatap Dey yang sudah berganti pakaian sekarang. "Pusing gue, Dey, sama Kenzo. Masak kemarin dia nanya, gue suka sama Vito apa nggak? Gila gak tuh dia bisa nanya kaya gitu"
Seketika tawa Dey menggelegar, membuat Chika mengerutkan dahinya dan menatap aneh pada temannya itu. "Serius, lu, Chik?" tanya Dey masih dengan sisa-sisa tawanya.
"Iya. Tawa lagi lu"
Dey berjalan mendekati Chika, mengambil tempat di kursi samping Chika. "Ngaku aja kenapa sih, Chik. Suka 'kan lu sama Vito?"
"Apaan sih. Siapa juga yang suka sama Vito. Gak mungkin, Dey! Gue itu lagi gak mau mikirin kaya gitu. Lo tau 'kan prioritas hidup gue itu untuk apa?"
"Iye, gue tau. Tapi apa salahnya sih, Chik, lu membuka hati untuk Vito? Lo tau Vito orang baik, gue pun juga ngerasanya gitu. Terus, kenapa lo gak jatuhin hati lo untuk orang yang tepat? Apa Vito gak memenuhi standar lu? Oiya, lupa, standar lu kaya pak Shamy"
"Dey!"
Dey tertawa lebar kala Chika mendelik, ia menepuk paha temannya itu sebelum beranjak dari duduknya dan meraih rangselnya. "Gue balik duluan ya, Chik. Mau kencan gue sama yayang gue. Lu tau 'kan gue udah punya cowok sekarang?"
"Iye, sono"
"Jangan kelamaan jomblo. Nanti lu karatan" Ujar Dey sebelum akhirnya menghilang dari balik pintu.
Ahh! Ingin rasanya Chika melempari Dey dengan sepatu patofel yang ia pakai saat ini. Tapi dengan secepat kilat, temannya itu sudah menghilang dari balik pintu. Dey benar-benar teman yang terkadang selalu membuatnya naik pitam.
Langit jingga kota Tokyo menyapa Chika begitu kakinya melangkah meninggalkan area hotel tempatnya bekerja. Penatnya seketika luruh kala melihat langit jingga yang selalu menyambutnya disaat pulang bekerja. Sangat cantik. Chika suka langit jingga. Seiring mengayunkan tungkai kakinya, beberapa meter dari tempatnya berjalan, ada seorang laki-laki tersenyum ke arahnya sambil melambaikan tangan.
Untuk apa laki-laki itu disini? Apa mungkin sedang menunggunya? Ahh, Chika tidak mau gede rasa, lebih baik ia segera menghampiri laki-laki itu yang sedang berdiri di depan toko.
"Hai " Dia-- Vito mengulas senyuman manisnya saat Chika kini sudah berdiri di depannya.
"Kamu ngapain disini, Vit?"
"Mau jemput kamu"
Chika mengernyit, "Ha? Jemput saya? Perasaan saya gak pernah minta dijemput sama kamu?"
Tak banyak bicara Vito menyelipkan tangannya di antara jemari Chika. Menarik wanita itu untuk kembali berjalan dengannya. "Saya lagi kepingin makan jajanan malam. Street food gitu. Kamu mau gak?"
"Ha? Sekarang?"
"Iyalah, Chika. Masak besok"
"Tapi Kenzo di apartemen sendirian"
KAMU SEDANG MEMBACA
River Flows In You
RomantikAku akan mengubah makna sungai kecil yang mengalir itu, Chika. Alvito Fadrin
