Part-26: Autumn

539 93 22
                                        

"Kamu kenapa gak bilang kalau mau nyusul saya kesini, Vit?" tangan Chika terangkat untuk menyeka luka Vito. Bahkan wanita itu juga sedikit meringis ketika menempelkan handuk kecil ke luka yang ada di sudut bibir Vito.

"Kenapa? Gak boleh, ya, saya nyusul kamu?" Vito menjauhkan wajahnya setelah Chika selesai menyeka luka di wajahnya. "Maaf, ya, gara-gara saya liburan kamu sama Shamy harus ke ganggu kaya gini."

Chika terhenyak, "Vit, kok gitu, sih, ngomongnya?"

Vito menjatuhkan pandangannya ke bawah, ke lantai kayu hangat yang ia pijak saat ini. "Lupain." Vito menghela napasnya, matanya melirik Kenzo yang terlelap di atas ranjang. "Rencana awal saya kesini buat ketemu kamu dan Kenzo. Saya akui gak seharusnya saya menjauhi kamu belakangan ini, Chik. Tapi-- sekarang presepsi saya berubah. Berubah setelah melihat apa yang terjadi disini antara kamu dan Shamy." Vito tersenyum getir. "Kalau saya pikir-pikir juga, memang benar kata Shamy tadi. Memangnya siapa saya untuk kamu? Saya gak berhak melarang kamu untuk pergi atau berliburan dengan siapapun. Termasuk Shamy. Iya 'kan?"

"Vit..."

"Harusnya saya ikutin aja kata Mira untuk gak nyusul kamu kesini. Ternyata-- setelah saya sampai disini-- disini saya cuma dapet rasa sakit."

Vito menghela napasnya, ia segera memalingkan wajahnya begitu menyadari mata coklat Chika sudah mulai berkaca-kaca. Dan pada akhirnya-- satu buliran bening itu luruh, membentuk anak sungai kecil di pipi wanita itu. Jujur, hati Vito tidak akan pernah bisa baik-baik saja jika setiap melihat Chika menangis. Tangisan itu adalah tangisan yang selalu mampu menggores hatinya. Hatinya sakit setiap kali Chika menangis. Vito bahkan pernah berjanji untuk tidak membiarkan Chika menangis lagi. Tapi, kini? Chika menangis di depannya dan Vito membiarkannya tanpa ada niatan untuk menyeka air mata itu. Tanganya sungguh ingin melakukannya, namun hatinya bersikeras menolak.

"Chik, jujur aja, saya gak tau sebenarnya hati kamu itu untuk siapa. Awalnya saya yang bodoh ini ngira kalau sosok Shamy gak akan pernah lagi bisa singgah dan ngisi hati kamu. Tapi-- tenyata saya salah." Vito tersenyum getir, lalu mulai memberanikan diri menatap Chika kembali. Wanita itu masih dengan air mata yang menganak sungai di pipinya. "Dia orang yang katanya kamu benci tapi... Kini dengan mudahnya masuk lagi ke hati kamu. Saya bukan orang bodoh yang tidak mengerti saat melihat bagaimana nyamannya kamu dengan dia begitupun sebaliknya. Tatapan kamu ke dia dan semua yang kalian lakukan tadi. Sekarang saya jadi merasa kalau Shamy itu terlalu sulit untuk saya jadikan rival. Dia terlalu sulit untuk pergi dari hati kamu. Dia orang lama yang kembali memenangkan hati kamu. Saya kalah, Chika."

"Vit 'kan saya udah bilang kalau kamu jangan berasumsi sendiri dulu. Kamu jangan termakan omongannya Shamy. Yang kamu lihat tadi itu cuma--"

"Chik," sela Vito. Ia mulai menggenggam kedua jemari tangan Chika. Dan mulai menatap wanita itu dengan amat tenangnya. "Dengerin saya, kalau memang kamu merasa nyaman dengan Shamy dan hati kamu mantap dengannya, maka-- kembalilah dengannya dan saya akan mundur. Saya rela kalau memang kamu bahagia dengannya."

"Vit, kamu ngomong apa, sih?! Tarik gak omongan kamu!" napas Chika seketika kembang kempis, ia menatap Vito tidak percaya. Apa semudah itu Vito mundur? Chika bahkan tidak pernah berpikir akan kembali pada Shamy. Ini hanyalah sebuah kesalahpahaman.

"Lebih baik memang seperti itu, Chik. Daripada saya harus menunggu kamu seperti orang bodoh yang nyatanya masih mencintai laki-laki itu. Lalu, untuk apa saya bertahan?"

....

Matanya mengerjap beberapa kali, rupanya sinar sang mentari yang menembus melalui celah-celah tirai jendela cukup mengusik tidurnya. Lalu matanya ia edarkan, tunggu... Kenapa kamar ini tampak asing untuknya? Chika masih mencoba mengingat, sepertinya nyawanya pun juga belum terkumpul sepenuhnya. Ini... bukan kamar apartemennya, bukan juga kamar hotel tempatnya menginap sewaktu di Osaka. Tapi, ini-- ah, ini apartemen Dey. Iya, ini apartemen Dey. Chika baru ingat kemarin malam ia di jemput oleh Dey dan Febian di bandara karena kepulangan mendadaknya dari Osaka.

River Flows In YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang