Part-4: My little boy

695 92 16
                                        

Chika terdiam saat mata laki-laki itu menjerat matanya dalam. Laki-laki itu sudah menunggu. Entah kenapa mulutnya kaku. Chika menunduk, ia sedikit Menggigit bibir bawahnya lalu menarik napasnya dalam-dalam sebelum mulai menatap laki-laki itu.

"Mau bicara apa? Cepat! Saya harus pulang. Istri saya sudah kembali dari indonesia" laki-laki itu sesekali melirik arlojinya.

"Saya hamil"

Deg..

Laki-laki itu terdiam. Hanya terdengar suara nafas yang berhembus dari hidung mancungnya. Ia membuang mukanya lalu kembali menatap Chika. "Nanti kita cari tempat aborsi" ujar laki-laki itu tenang.

"Aborsi?" alis Chika mengkerut. Ia tidak terima dengan usulan pria itu.

"Iya aborsi. Kamu tenang aja, saya yang urus"

"Saya gak mau" tolak Chika.

Mata laki-laki itu seketika langsung menatap tajam ke arah Chika. "Apa-apaan kamu? Kamu sudah gila?"

"Kamu yang gila. Ini anak kamu, kenapa kamu tega sama dia?" amarah Chika sudah memuncak. Dadanya naik turun.

"Saya tidak pernah mengharapkan anak itu. Kamu tau kan saya sudah punya istri dan anak! Lagi pula Kamu dan dia bukan prioritas saya. Jadi lebih baik, aborsi jalan satu-satunya"

Chika baru saja menyeka cairan bening itu di pipinya. Dadanya sesak kala mengingat kejadian kelamnya. Tak ingin ada orang yang melihatnya menangis, ia segera membasuh wajahnya lalu mengambil tisu. Chika terdiam ketika menatap pantulan wajah lelahnya di cermin toilet itu. Wajahnya nampak sedikit kusam, ahh ia terlalu banyak bekerja hingga terkadang lupa untuk merawat diri.

Dirt dirt

Chika mengambil ponselnya dari dalam tas saat mendengar benda pipih persegi empat itu bergetar.

"Hallo ada apa Chris?"

"Hallo, Kak Chika gue ganggu lo gak?"

"Enggak. Kenapa, Chris? Uang yang gue kirim udah habis, ya?"

"Bukan itu"

"Terus kenapa, Christy? Papa baik-baik aja kan?" Chika sudah cemas sekarang. Ia takut akan kondisi ayahnya yang sedang mengalami stroke.

"Uhm.. Gini kak, papa gak mau makan dari beberapa hari yang lalu, dia nanyain lo terus. Lo kapan pulang ke Indonesia?"

Chika terdiam. Jujur ia belum bisa pulang untuk saat ini.

"Kak? Kak Chika!"

"Eh.. iya, maaf. Pulang ke indo ya.. hmm kayaknya belum bisa deh, Chris"

"Kenapa? Lo udah lama lho gak pulang kak"

Chika memijit pelipisnya. Terus terang saja ia belum ada biaya untuk pulang ke indonesia. Uang gedung Kenzo harus ia lunasi bulan ini.

"Yaudah nanti gue pikirin lagi ya, Chris"

.....

Kenzo terus menggerutu di sepanjang jalan. Tangan mungilnya yang berada di genggaman Vito selalu berusaha ia lepaskan. Hari ini moodnya rusak. Tidak ada sang ibu yang seperti biasa menjemputnya kali ini. Tadi pagi pun Vito yang mengantarnya. Kemana ibunya? Kenapa laki-laki bernama Vito ini yang menjemputnya? Ia tidak suka.

"Kenzo marah, ya?" tanya Vito yang sedari tadi menyadari raut wajah kesal bocah lelaki itu.

Genggaman tangannya pada Vito, Kenzo lepaskan. Kepalanya mendongak menatap tidak suka pada Vito. Bahkan kini tangan mungilnya meremas ujung tali tasnya.

River Flows In YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang