Tangannya baru saja memutar keran air itu, membasuh seluruh wajahnya. Chika, dia masih diam, menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar mandi. Wajah lelahnya baru saja ia sapu dengan sejuknya air. Menangis sudah tidak ada gunanya. Menyesal apalagi. Sekarang-- hanya ada rasa malu. Iya, malu. Malu akan dirinya sendiri. Apa kini dirinya benar-benar sudah tidak punya harga diri? Apa kata benci untuk Shamy tidak berlaku setelah apa yang baru saja terjadi? Kenapa ia selalu menjadi wanita bodoh? Kenapa rasanya begitu sulit untuk pergi dari jeratan Shamy? Ahh, seakan-akan tuhan tidak memberinya cara untuknya menjauh dari laki-laki brengsek itu.
Sliding door kamar mandi kini benar-benar sudah terbuka, menampilkan Chika yang sudah jauh lebih segar. Bahkan wanita itu juga sudah berganti pakaian di dalam sana. Sungguh cantik. Tidak ada cacat secelah pun dimata Shamy. Kaki jenjang, kulit yang putih nan mulus, rambut gelombang yang dibiarkan terurai dengan indah. Hingga leher jenjang nan putih itu. Benar-benar menawan. Tidak heran memang, bagaimana tidak selama ini ia bisa tergila-gila pada wanita muda itu. Alasanya sudah jelas. Cantik!
"Apa kamu pakai parfume yang saya berikan, Chika?" Shamy menghirup aroma yang baru saja membaur di hidungnya, "Ahh, saya sungguh suka aroma ini. Apalagi kamu yang menggunakannya"
"Maaf, tuan Shamy, waktu anda sudah habis. Anda sudah tidak berhak lagi menyentuh saya" Chika menepis tangan kekar Shamy di lengannya.
"Aduh duh, saya lupa. Maaf. Ohya, Kamu bisa cek rekening kamu nanti, saya baru saja mentransfer uangnya."
Chika hanya tersenyum tipis, "Terima kasih" jawabnya. Begitu terdengar datar di telinga Shamy memang. Tidak ingin ambil pusing, Shamy mendaratkan punggungnya di sofa dan mulai menyalakan sebatang rokok. "Tidak usah khawatir, Chika, Papa kamu pasti akan sembuh. Pulanglah, dan cepat kirim uangnya." Sesekali kepulan asap rokok itu berhembus dari mulutnya. "Saya antar, bagaimana?"
"Tidak usah. Saya bisa pulang sendiri." Chika segera meraih blazer hitamnya yang tadi ia simpan di sofa sebelah Shamy.
"Baiklah" Shamy meletakkan puntung rokoknya di asbak, ia mulai bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Chika dan tersenyum. Kali ini senyuman itu terkesan hangat. Sadar atau tidaknya, Chika hanya diam saat Shamy membelai wajahnya. Menyelipkan anak rambut itu di belakang telinganya. "Chika, kamu tau? Saya bersyukur karena hal itu kamu jadi datang pada saya. Papa kamu sangat berarti' kan? Kalau saya jahat, saya berharap beliau tetap-- "
"Jaga ucapan kamu! Papa saya akan tetap baik-baik saja. Kamu tidak pantas memanfaatkan situasi ini, Shamy." Chika bahkan sudah menyingkirkan tangan kekar Shamy di wajahnya. Ia menatap Shamy sengit. Dadanya naik turun. Ia tidak terima kondisi ayahnya dijadikan keuntungan untuk laki-laki brengsek ini.
"Hei, jangan marah dulu, Chika. Saya hanya ingin membantu kamu. Tanpa saya, Papa kamu tidak akan bisa tetap hidup hingga saat ini. Coba kamu bayangkan kalau dari dulu saya tidak memberi pinjaman untuk pengobatan Papa kamu? Jadi.. Wajar dong kalau saya juga meminta balasan yang setimpal dari kamu. Bukan begitu?"
"Gila kamu! Cukup kali ini saja saya merendahkan harga diri saya! Setelah ini, saya pastikan ini tidak akan terjadi lagi!"
Dia-- laki-laki pemakai hoodie hitam dan topi itu terdiam, menyandarkan tubuhnya yang lemah setelah apa yang ia dengar dari dalam sebuah unit apartemen itu. Rasanya ia benar-benar sudah tidak tahan lagi untuk tidak mengepalkan tangannya. Napasnya memburu. Brengsek..! Vito, laki-laki itu benar-benar marah. Kenapa harus ada sifat manusia seperti itu? Ingin rasanya Vito masuk kedalam sana dan menghajar wajahnya.
Pintu apartemen itu terbuka, dengan cepat Vito menyingkir dari sana. Dari balik tembok, Vito mlihat laki-laki itu berdiri di depan pintu, menatap punggung Chika yang perlahan menghilang di koridor panjang itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
River Flows In You
RomanceAku akan mengubah makna sungai kecil yang mengalir itu, Chika. Alvito Fadrin
