Memulai pagi hari dengan diserbu beberapa pelanggan adalah hal yang biasa bagi Vito. Tangannya sudah lihai melayani semua pelanggan yang memesan ini itu. Mulai dari menyiapkan sandwich, beberapa makanan pembuka, bahkan hingga berbagai jenis kopi yang dipesan. Semua berhasil Vito kerjakan dengan rapi dan cepat.
Satu pelanggan terakhir yang mengantri baru saja pergi. Chika-- wanita yang berada di meja kasir itu langsung mendekati Vito yang sedang meneguk segelas air.
"Vit,"
"Kenapa, Chik? Ada masalah sama komputernya? Atau ada yang masih kamu gak pahami?" tanya Vito.
"Nggak, kok. Masalah kasir saya udah jago sekarang. Gampang lah itu pakai sistem kasir kamu. Gak ada apa-apanya itu" ujar Chika dengan ekspresi yang dibuat setengil mungkin.
Vito terkekeh sambil mengiyakan ucapan Chika, "Ada apa? Kamu capek, ya? Kalau mau istirahat ke atas aja. Saya bisa kok nge-handle pelanggan sambil ngasir juga."
Chika menggeleng cepat, "Saya 'kan disini di gajih. Gak ada istilah kariyawannya istirahat sedangkan bosnya yang kerja. Lucu deh" ujarnya sembari tangannya membersihkan bercak bubuk kopi yang ada di kemeja Vito. Tepat dekat dada bidang Vito.
"Vit, makasih, ya"
"Untuk?"
Chika menghela napasnya pelan, ia mulai menatap Vito yang kini tak berjarak dengannya. "Untuk semuanya. Terimakasih." Chika memeluk tubuh tegap Vito.
Tangan Vito mana mungkin tak membalas pelukan itu. Dengan lembutnya Vito mengusap punggung wanita itu. Vito bahkan menyadari bahunya basah oleh Chika. "Hei, Chik, kamu nangis, ya?" Vito segera mengurai pelukan mereka.
Chika menggeleng, "Nggak. Saya baik-baik aja." ujarnya sambil menghapus bersih air matanya. "I'm fine. Jangan tatap saya seperti itu, Vito"
"Are you sure?"
Chika megatupkan kedua bibirnya lalu mengangguk mantap. "Oh ya, Vit, saya mau di bagian service juga dong. Bosen tau di kasir. Berdiri doang. Gak gerak-gerak. Tegang nih urat-urat saya"
"Emangnya kamu bisa bikin sandwich? Bikin waffle dan kawan-kawannya? Apalagi bikin kopi, nih, bisa emangnya?" tanya Vito.
"Ya, makannya ajarin, Vito. Boleh, ya?"
Sepotong roti baguette Vito masukan ke dalam mulut Chika. "Nanti kasian kamu capek, Chik. Udahlah di kasir aja. Ok!" lalu atensi Vito teralihkan pada oven yang berdenting kemudian mengeceknya.
"Ih, gak mau, Vito. Saya mau belajar buat kopi pokoknya. Kamu harus ajarin saya. Boleh ya? Please..." Serasa tak kenal lelah, Chika terus memohon. Mengikuti setiap kemana kaki Vito bergerak. Supaya wajah mereka saling bersitatap berharap pada akhirnya Vito menyerah dan menyetujui permintaannya. "Ya, Vit, ya? Saya mau belajar. Boleh ya? Pokoknya kamu harus--"
Cup!
Tanpa berdosanya sebuah kecupan singkat Vito daratkan tepat di bibir Chika. Seketika rengekan itu tak terdengar lagi. Ah, sudah beberapa kali berciuman, tapi, entah kenapa Chika masih saja harus merasa kaget seperti ini? Ah, kenapa ia cupu sekali. "Ih, Vito" Chika mendorong tubuh tegap Vito. Menyingkir agar wajah mereka tidak sedekat tadi. Perlu diketahui kini jatungnya begitu semangat memompa darahnya.
"Lagian kamu berisik. Ya udah, kamu mau belajar apa?" tanya Vito sambil mengelap tangannya dengan lap kering.
"Mau buat kopi. Saya mau terlihat keren seperti kamu. Ayo barista..." Kini Chika sudah berdiri di depan mesin kopi. Kedua tangannya sudah memegang barista tools dan shot glass.
Vito hanya menggelengkan kepalanya melihat betapa semangatnya Chika sekarang. "Ya udah kalau kamu mau belajar. Kita mulai dari pengenalan kopi dulu, ya."
KAMU SEDANG MEMBACA
River Flows In You
RomanceAku akan mengubah makna sungai kecil yang mengalir itu, Chika. Alvito Fadrin
