Pintu rumah berasitektur gaya modern Jepang itu baru saja Zahran buka. Langkah kakinya gontai, lalu ia mendaratkan punggungnya di sofa. Zahran menengadahkan matanya menatap langit-langit rumah mewah yang selama ini memberi kehangatan untuknya. Ahh, Zahran baru tersadar, ternyata rumah ini sudah tidak memiliki kehangatan lagi. Semuanya sudah hilang semenjak ibunya tiada.
Lamunan Zahran terusik dengan detakan jarum jam yang terpangpang di dinding.
Ia melirik jam itu, ini sudah pukul 12 malam. Sepertinya ayahnya sedang tidak ada di rumah. Entahlah, Zahran kini sudah tidak perduli dengan laki-laki itu. Berbicara soal ayahnya, Zahran jadi mengingat tentang wanita itu-- Chika.
Diam-diam tadi Zahran sempat mengikutinya. Kini ada satu pertanyaan yang sedari tadi menganjal pikirannya. Yaitu.. Bocah laki-laki yang bersama Chika. Bahkan Zahran dibuat terkejut dengan bocah itu saat memanggil Chika dengan sebutan Mama. Jadi.. sebenarnya wanita itu sudah bersuami? Aih, benar-benar gila! Kalau memang iya, berarti itu artinya Chika dan ayahnya sama saja. Benar-benar menjijikan.
"Kak Zahran"
Itu suara Fiony. Zahran tersenyum ketika adiknya baru saja turun dari lantai dua. Sepertinya Fiony baru saja terbangun. Dengan piyama dan rambut panjang yang dibiarkan terurai benar-benar menggemaskan.
"Kak Zahran, kok baru pulang?" Fiony ikut duduk di sebelah Zahran. Ia menatap lekat penampilan kakak laki-lakinya yang terlihat acak-acakan.
"Tadi kakak lagi nyari bahan buat skripsi"
"Dasar bodoh! Pasti kena coret lagi itu skripsnya"
Zahran melototkan matanya mendengar apa yang Fiony katakan, aih, adiknya itu sudah berani mengejeknya sekarang.
"Bukan bodoh, tapi kakak kurang teliti, Fiony"
"Alasan"
Zahran diam. Ia tidak mau menanggapi Fiony lagi. Cari gara-gara namanya jika ia melanjutkan perdebatan itu.
"Kak, "
"Hem?"
Fiony merapatkan duduknya dengan sang kakak, ia menaruh kepalanya di pundak kanan Zahran.
"Ada apa, Fio?" Zahran sudah hapal betul akan sikap Fiony. Mungkinkah adiknya ini sedang tidak baik-baik saja?
"Fio kangen Mama, Kak" lirihnya. Ia menyembunyikan wajahnya di bahu Zahran.
Zahran menghela napasnya, ia mengelus rambut panjang Fiony yang dibiarkan terurai oleh si empunya. "Sama, Kakak juga kangen sama Mama"
"Kak, Fio mau cerita deh, tadi pagi sebelum aku Check out dari hotel, aku ketemu sama perempuan. Dia orang Indonesia. Kebetulan dia kerja di hotel itu. Dan Kak, Zahran tau gak? Tadi kan'dia bersihin kamar aku, tapi entah kenapa setiap aku liat dia, aku ngerasa kayak liat Mama."
"Ohya? Orangnya yang mana sih itu? Dia udah lama kerja di hotel itu? Atau baru?" tanya Zahran antusias.
Fiony mengetuk-ngetukan jari telunjuknya di bibir. Ia sedang berpikir, mencoba mengingat apa saja yang ia bicarakan dengan Chika tadi pagi. "Aku gak nanya itu sih tadi. Tapi seingetku dia disini itu merantau. Kalau gak salah namanya itu-- Chika. Iya, Chika kalau gak salah."
"Chika?"
"Iya, namanya Chika. Kenapa? Kak Zahran kenal sama Chika?" Fiony langsung mengangkat kepalanya dari pundak Zahran. Ia menatap lekat mata kakanya. "Kak? Ih, kok diem?" lamunan Zahran buyar ketika mendengar pekikan Fiony.
"Apa aja yang kamu tau dari dia? Kalian ngomong apa aja tadi?" Zahran ingin tahu sudah sejauh mana adiknya itu mengenal Chika.
"Aku gak tau banyak sih tentang dia. Lagian tadi kita gak ngomong banyak, aku cuma tanya-tanya dikit. Dia juga keliatannya kayak menghindar gitu dari aku. Gak tau deh kenapa." tutur Fiony. Wajahnya benar-benar polos saat menceritakan itu di depan Zahran.
KAMU SEDANG MEMBACA
River Flows In You
RomanceAku akan mengubah makna sungai kecil yang mengalir itu, Chika. Alvito Fadrin
