Coment yang banyak ya💚
🐰
"Istirahat dulu, Jeffrey!"
Jeff menatap sahabatnya yang sudah mengatakan itu untuk keenam kalinya hari ini. Melelahkan, masalah kali ini bukan masalah sepele, tetapi masalah korupsi salah satu karyawannya di perusahaan pusat milik keluarga Adiwalga yang mana perusahaan tersebut adalah perusahaan inti dari semua perusahaan yang tersebar luas diberbagai wilayah. Itu berarti masalah besar sedang menimpanya, jika tak segera mengetahui siapa pelakunya, maka hancur keseluruhan. Orang yang berani-beraninya itu sudah melakukan tindakannya sejak satu bulan yang lalu, dimana semua laporan keuangan yang dia beri adalah palsu, masalahnya sekarang ini adalah, tersangka pelakunya adalah sahabat Jeff sendiri yang terkenal tajir melintir, mana mungkin korupsi? Pasti ada yang main belakang kan?
Riweh ini mah, asli.
Jeff menghela napas sembari melepaskan kacamata yang ia kenakan lalu menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi tempatnya duduk, matanya terpejam. Sejak Nana dirumah sakit, lalu dengan terpaksa dia tinggal karena ada urusan mendadak, lalu saat disana mendengar kabar jika disini ada masalah, kemudian dia pulang malam tadi dan langsung kekantor tanpa menengok anaknya dulu, Jeff merasa-rindu?? Mungkin, atau dia hanya lelah saja.
Theo yang melihat Jeff begitu pening kayaknya, dia mendekat dan meletakkan satu box menu makan siang pada Jeff "Ini makan, urusan siapa pelakunya biar Juno aja yang urus, lo urus yang lain aja"
"Goblok,,, gue mesti urus dana tambahan untuk proyek yang baru aja jalan seperempat. Sekarang gini,,, Juno ngurus siapa pelakunya, dan gue masih harus ngurus gimana caranya proyek tetap jalan, gimana nasib karyawan lain, gimana sama perusahaan cabang, gimana-"
"Ok,,, kalau gue jadi lo, gue juga pasti sama pusingnya. Tapi lo dari semalam disini, ngurus kerjaan sampai lupa sama apa-apa, nggak baik, Jeff!"
Helaan napas kembali keluar dari mulut Jeff "Nggak mungkin si Dika, dia kalau mau duit tinggal sebut nominal"
Theo mengangguk "Iya juga, nama belakangnya aja Atmanegara, dia kerja cuma gara-gara gabut doang"
"Bodoamat, biar di eksekusi bokap gue. Pusing"
"Makanya lihatin Nala"
"Hah?"
"Tadi pagi gue anterin Jevano kesekolah karena motor dia bannya gembos, eh pas Nala gue ajak sekalian mau dia, yaudah. Mending jemput anak-anak kita"
"Capek,,, lo aja sekalian anterin Nala lagi kerumah"
"Lo mah cuma mikirin kerjaan doang, nggak tahu gimana rasanya pas lo capek terus lo pulang disambut sama senyuman anak, apalagi dulu waktu mereka masih bau bayi, semua rasa capek lo hilang, Jeff."
Theo berdiri dan beranjak pergi, sebelum betul-betul menghilang dibalik pintu, dia kembali berkata "Lo kerja keras demi dia biar dia hidup enak, tapi lo juga yang bikin dia benci sama lo disaat lo berjuang buat dia, kasih apa yang dia butuh, bukan apa yang lo mau, meskupun itu baik buat semua, tapi kerja keras lo nggak akan membuahkan hasil bagus buat hubungan lo dan dia, yang ada kalian makin jauh, Nala ngrasa kalau ayahnya aja bisa seenaknya, kenapa dia nggak??"
Setelahnya pintu tertutup rapat meninggalkan keheningan diruangan tersebut, namun didalam otak Jeff, semua kata demi kata Theo tadi kembali terputar. Itu yang membuatnya tanpa berpikir panjang lagi untuk menyahut kunci mobil dan berjalan cepat meninggalkan ruangannya.
*
Didalam mobil, Nana hanya diam menyenderkan kepalanya pada kaca jendela, sepertinya anaknya itu juga sedang lelah, Nana tak banyak bicara, hanya diam, bahkan wajah yang biasanya terpasang wajah dingin untuknya tidak ada pada wajah Nana kali ini, hanya wajah yang sukar dibaca ekspresinya bagi Jeff.
KAMU SEDANG MEMBACA
ÁRROSTOS
Teen Fiction"Lah bos dari tadi baru sadar? Nala tuh dari tadi siang demam. Bos ini jadi ayah harusnya peka, bukan pekok" Jeff tahu jika anak hanya titipan dari Tuhan, tetapi Jeff ingin jika titipan itu tidak akan pernah diambil oleh siapapun, Jeff ingin titipan...
