17; Dekaeptá

3.6K 435 182
                                        

Coment yang banyak ya💚 (100 lagi jg gpp 😂)

Kapok saya kasih target gitu, padahal maunya aku gantungin berminggu-minggu gitu biar greget, eh malah udah demo😭


















































🐰

Rhea memandang dirinya sendiri yang sudah rapi dengan mukena putihnya. Dia lalu kembali menatap cowok yang jaraknya hanya sekitar satu dua meter darinya itu, Nana terlihat sangat terkejut, begitupula dirinya, kok bisa Nala ada disini?

Namun wajah terkejut Nana dapat Rhea gantikan oleh wajah pucatnya, Rhea panik seketika "Lo... Nggak apa-apa?"

Nana menggeleng lalu berjalan menuruni tiga anak tangga yang ada disana dan kembali memakai sepatunya, hal tersebut membuat bapak-bapak tadi menyirit "Loh,,, mau kemana? Kamu belum jadi wudhu"

"Saya non muslim, Pak"

"Ha??"

Nana tidak peduli dengan perasaan bapak itu, bodoamat jika dia tersinggung. Nana berdiri dan beranjak pergi, melihat itu, Rhea berlari menghampiri cowok yang sudah berada dihalaman masjid "Nala tunggu!"

Nan berhenti berjalan "Lo ibadah dulu, jangan pernah mengeduakan Tuhan"

Hati Rhea serasa ditojos pakai tusuk gigi—pedang maksudnya. Bukankah dulu Nana mencari tahu latar belakangnya? Namun cowok itu tak membacanya dari awal, Nana hanya membaca hal buruknya saja, tidak dengan identitasnya. Itu yang dia takutkan, itu juga alasan mengapa diatas motor waktu itu dia berani bertanya pada Nana.

"Gue—"

"Permisi" selanya kemudian betulan pergi dengan motornya.

Rhe terdiam ditempat melihat Nana yang sudah tak terlihat sebenarnya. Dia berurusan dengan Tuhan, maka dia menyerah. Rhea rela menjadi pengecut, besok semuanya selesai, Rhea jamin.

*

"Lo—Ya Tuhan, wajah lo pucat amat, masuk-masuk"

Nana masuk begitu saja melewati Reno dan langsung berjalan menuju kamar Reno, ternyata didalam sana sudah ada Haekal yang sedang bermain gitar dan memakan kue dengan ponsel didepannya terdapat kunci-kunci gitar yang akan dia mainkan, cowok itu duduk dikarpet bersila dengan gitar dipangkuannya. Nana bodoamat nggak peduli, dia melewatinya dan menidurkam diri diranjang Reno.

Haekal juga terlihat nggak peduli karena terlalu sibuk dengan senarnya, biasanya juga Nana begitu, nggak sopan. Sementara Reno yang kini sudah menutup pintu itu mendekati Nana yang tengkurap diatas kasur miliknya.

"Na..."

"Hmm? Haekal suruh diam, Ren!"

"Lo kenapa sih?"

"Mumet"

"Udah makan?"

"Udah"

"Jangan bohong!"

"Udah beneran"

"Yaudah kalau udah makan gue ambilin obat"

"No, gue cuma mau tidur aja"

Reno menghela napas lalu menarik selimut yang ditindih oleh Nana, meskipun berat karena Nan tak mau bergerak, dia tetap menariknya hingga seluruh bagian selimut itu ditangannya, setelahnya Reno menyelimuti Nana hingga hanya terlihat kepala bagian belakangnya saja. Baru setelah itu Reno beranjak mendekati Haekal "Gitaran diluar yuk" ujarnya.

ÁRROSTOS Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang