Coment yang banyak ya 💚
Hai (づ ̄ ³ ̄)づ
⚠ Hati-hati, siapa tahu ending juga kayak dua yang kemarin◐.̃◐
🐰
"Maaf, tapi gue kesini sama bokap, nggak bisa jauh-jauh. Ada apa?"
Rhea memalingkan wajahnya dari Nana, dia hanya menatap deretan mobil yang terparkir diparkiran sekolahnya. Entah mengapa dia tadi menahan tangan Nana padahal dia maunya bodoamat nggak peduli meskipun sedikit panas dengan Somi yang dengan santainya mengintil Nana dan memeluk cowok itu dari belakang, padahal biasanya Somi dan Nana itu hanya terlihat seperti teman pada umumnya, selalu bertanya jika salah satu dari keduanya tidak hadir, atau terkadang Somi menghadap kebelakang hanya untuk rumpi dengan Nana dan berakhir berdebat dengan Jevano.
"Rhea??"
Rhea sedikit terlonjak, dia lalu menatap lelaki didepannya yang terlihat lebih baik dari yang dia temui dirumah sakit, dia lalu menunduk "Lo mau pergi?"
Nana mengangguk "Iya, kenapa? Masih masalah waktu satu bulan gue jadi budak lo, kan udah lewat sebulan"
Rhea menggeleng "Gue harus gimana kalau lo pergi"
"Lo harus hidup seperti biasanya, seperti Rhea sebelum bertemu sama gue, lo makan tiga kali, lo tidur saat malam atau saat lo capek, lo minum saat lo haus, lo sekolah, lo pipis kalau mau pipis, lo bebas. Tapi jangan pernah lagi mau bermain di bar sama Om Om!"
"Cuma lo yang perhatian sama gue"
"Dan cuma lo yang bikin gue jatuh"
Keduanya saling tatap, ada hasrat kesedihan dimata keduanya membuat dada sesak. Arti lara sesungguhnya dapat keduanya rasakan hanya lewat pandangan mata yang teduh, tidak ada sarat bahagia sama sekali membuat semua harapan pupus seketika.
Rhea maju satu langkah lalu meninju pelan dada Nana "Cuma lo yang mau bangun tengah malam hanya untuk nemenin gue makan, cuma lo yang rela terluka demi cincin tunangan gue, cuma lo yang mau jemput gue pagi-pagi, cuma lo yang mau dan berani sama bokap gue, cuma lo yang rela kehujanan demi nganterin gue pulang meskipun kita nggak kenal. Cuma lo, Nala"
Nana membiarkan saja gadis didepannya itu menjadikan dadanya samsak dadakan, toh Rhea melakukannya dengan lemas tak terasa sakit sama sekali, hanya seperti sentuhan biasanya. Dia juga membiarkan air mata Rhea turun deras tak sedikitpun tergerak menghapusnya, sebab Nana tak ingin Rhea berhenti menangis, biarkan saja semuanya keluar agar kelak sudah tidak ada air mata untuk dirinya.
"Gue minta maaf, gue awalnya emang cuma mau main-main, tapi gue sayang sama lo, dare dari Kak Caesar udah nggak berlaku, gue sayang sama lo,,,, hiks"
Nana menghentikan gerkana tangan Rhea, dia menatap gadis itu sejenak sebelum membawanya kedalam pelukan "Gue juga sayang sama lo, tapi Tuhan lebih sayang sama lo, Tuhan udah nemuin Felix buat lo"
Rhea menggeleng "Gue maunya lo, Felix temen gue. Tuhan pasti bolehin kok, setiap hari gue sebut nama lo"
"Jangan pernah sebut nama gue didepan Tuhan lo, Tuhan lo akan marah karena hambanya datang padaNya ketika ada maunya, dan dengan kurang ajarnya malah menyebut nama orang yang bukan milikNya"
"Kita tetap bisa, lo ikut gue atau gue ikut lo, kita bisa, Nala!!"
"Itu menyalahi takdir, lagian kita baru bertemu belum genap dua bulan, mudah buat melupakan. Dan satu lagi, Tuhan mempertemukan kita bukan untuk bersama, Rhea. Tapi untuk pemanasan aja untuk menghadapi kehidupan selanjutnya yang lebih rumit."
KAMU SEDANG MEMBACA
ÁRROSTOS
Teen Fiction"Lah bos dari tadi baru sadar? Nala tuh dari tadi siang demam. Bos ini jadi ayah harusnya peka, bukan pekok" Jeff tahu jika anak hanya titipan dari Tuhan, tetapi Jeff ingin jika titipan itu tidak akan pernah diambil oleh siapapun, Jeff ingin titipan...
