19; Dekaennéa

3.9K 417 82
                                        

Coment yang banyak ya💚 (Hayuk ramein biar Mas Nala senang, demi dia bisa dong ya)

Chapter ini lumayan panjang, so enjoy your time and happy reading 💚






































🐰

Sejak kejadian malam itu, malam dimana Rhea bertemu dengan Nana dimasjid perumahannya, dia belum pernah bertemu dengan Nana lagi, disekolah pun Nana tidak ada alias absen sakit. Rhea tidak tahu apakah Nana betulan sakit atau tidak masuk hanya karena dirinya yang telah membohongi cowok itu. Tetapi dilihat dari watak Nana yang bodoamatan itu kayaknya dia nggak peduli deh mau dibohongi kalau tanah Indonesia itu milik Kakek Rhea.

Sudah tiga hari ini Nana izin dan ketiga kembarannya itu sama sekali tidak membicarakan Nana, Rhea jadi sedikit curiga ada sesuatu, nggak mungkin Nana sakit hanya demam sampai tiga hari lamanya, mana betah tuh anak dirumah nggak kelayapan. Bukan hanya curiga, tetapi boleh dikatakam jika dia khawatir akan cowok itu, terakhir bertemu sepertinya wajah Nana tidk baik-baik saja, terlihat pucat dan pertemuan mereka sangat mengejutkan.

"Eh si Nana bobo ooh Nana bobo mana?"

Rhea menoleh pada Jevano saat Somi kebetulan bertanya pada cowok itu. Jevano dibelakangnya hanya sedikit melirik lalu mengedikkan bahunya tak acuh membuat Rhea semakin curiga kalau Nana udah gantung diri kemarin sore.

"Gimana sih, katanya bestie, masa nggak tahu. Jangan-jangan nyemplung sumur ya" Somi kembali mendesak, sepertinya cewek itu juga penasaran.

Jevano meletakkan pensilnya, anak bungsu Pak Theo itu tadinya sedang menggambar dibukunya. Setelahnya, baru Jevano menatap kedua gadis didepannya dengan tatapan yang kurang bisa dimengerti, raut wajah jevano sangat dingin, persis seperti Nana jika sedang marah, namun disini Jevano terlihat sangat santai.

"Lo dulu ngaku-ngaku bestie juga nggak tahu kan? Nggak usah sok ngajarin!"

Dua cewek itu saling tatap kala nada bicara Jevano sedikit kurang bersahabat, lalu melihat bagaimana Jevano beranjak dengan langkah penuh amarah keluar kelas. Cukup membuat Haekal menghela napas.

Karena merasa ada yang aneh betulan, Rhea harus melakukannya sekarang juga. Maka gadis itu sepulang dari sekolah langsung meluncur pada sebuah rumah yang guede banget didaerah perumahan elite yang agak jauh dari rumahnya. Dia melewati gerbang begitu saja tanpa halangan lalu berjalan melintasi halaman seluas landasan pesawat itu.

Didepan pintu, bell sudah dia bunyikan, dan betapa terkejutnya saat yang membuka adalah orang yang ingin dia temui, bukan pembantunya yang bisa membukakan pintu untuknya.

Cowok itu terlihat seperti hantu karena menggunakan hoverboard ketika berjalan didepannya untuk menuju ruang tamu, kurang tajir apa dia, bahkan Nana aja kayaknya lebih waras.

"Duduk!!"

"Ya iyalah duduk, masa mau molor diruang tamu rumah orang"

"Lo makin lama makin nyebelin ya"

"Ya elu makin lama makin-"

"Jadi pengecut? Iya emang"

"Piliks!!"

Felix turun dari hoverboardnya lalu duduk pada salah satu single sofa disan untuk menatap Rhea dengan tajam "Ngapain lo kesini?"

Rhea nyengir "Temani gue ketemu sama Caesar"

Felix terperangah "Caesar? Abangnya Eric?"

Rhea mengangguk.

"Ngapain??"

ÁRROSTOS Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang