Sifra Williams
Aku keluar dari rumah Jungkook sembari menangis. Jahat sekali diriku sudah menyakiti Jungkook seperti itu.
Aku menghubungi Eunwoo dan bertanya apakah dia bisa menjemputku. Eunwoo bilang dia bisa. Jadi aku menunggu saja sebentar, karena dia sedang di Starbucks.
Seorang pria tua menghampiriku. “Are you okay, young lady?” tanyanya.
“Y-ya, saya baik-baik saja.”
“Jungkook menyakitimu?”
Dia tahu dari mana kalau aku mengenal Jungkook?
“W-who are you?”
Pria tua itu menjawab, “Aku adalah Papa nya Jungkook. Tadi aku mendengar perdebatan kalian dari luar. Dan aku juga melihatmu baru saja keluar dari rumahku. Jadi, apakah Jungkook menyakitimu?”
Oh, dia Papa nya Jungkook.
Aku menggelengkan kepalaku dan menyeka air mataku. “Tidak. Jeon Jungkook tidak menyakiti saya.”
“Jika dia melakukannya, aku akan memukulnya. Berani-beraninya dia menyakiti anak orang lain seperti ini, sampai menangis.”
Aku terkekeh pelan. “Jungkook tidak menyakiti saya. Perdebatan tadi—itu semua salah saya.”
“Oh, seperti itu. Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada kalian, tapi aku harap kalian bisa menyelesaikannya dengan baik-baik.”
Papa nya Jungkook baik sekali.
Aku mengangguk. “Terima kasih, Mr. Jeon.”
“Sama-sama. Hmm, kau sedang menunggu siapa di luar? Lebih baik masuk ke dalam terlebih dahulu.”
“It’s okay. Teman saya sebentar lagi akan datang.”
“Benarkah? Baiklah, kalau begitu.”
Papa nya Jungkook pun masuk ke dalam rumahnya. Tak lama kemudian, Eunwoo datang dengan mobilnya dan dia menangkup wajahku. “Kau kenapa menangis? What happened with you?”
Aku memeluknya. “I don’t want to talk about it. Antar aku pulang, kumohon.”
Eunwoo membelai rambutku. “Iya, ya sudah, ayo.”
Kami masuk ke dalam mobilnya dan kami pergi menuju ke rumahku.
Sesampainya di sana, aku dan Eunwoo masuk ke dalam dan segera pergi ke kamarku. Mama memanggilku dan bertanya ada apa, tapi aku tidak menghiraukan.
Namun Eunwoo mengatakan pada Mama bahwa semua baik-baik saja. Eunwoo akan mendengarkanku dan dia nantinya akan menjelaskan pada Mama.
Di kamarku, Eunwoo bertanya. “Kenapa kau bisa ada di situ? Apa yang kau lakukan?”
“A-aku—I’m not ready to tell you, Eunwoo.”
“Oke, baiklah. Aku tidak akan memaksa. Tapi, apa kau baik-baik saja? Kau menangis tadi. Apa ada yang menyakitimu?”
“No.”
“Taehyung di mana? Apa kau tadi bersamanya?”
Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak. Bahkan Taehyung tidak tahu bahwa aku ada di sana.”
“Serius, Sifra, kau membuatku khawatir.” Dia menaruh kepalaku pada bahunya. “Jangan seperti ini lagi, kumohon. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu.”
“Sorry.”
“I’ll kill everyone who makes you cry like this.”
Aku terkekeh. “Jangan.”
