Siska sedang merapikan hijabnya saat Jackob tiba tiba datang membanting berkas ke atas meja kerjanya.
"Kenapa pak?" Siska berusaha mengulas senyum, meskipun jantungnya berdegup kencang karena ketakutan.
"Seriously?! Kamu bertanya saat pekerjaan kamu bahkan lebih baik dari anak Sekolah Dasar!"
Ok, boss besar dalam mode emosi. Tenangkan dirimu Siska. Sugesti Siska kepada dirinya sendiri. Ia juga tidak tahu menahu tentang penyebab kemarahan Jackob. Karena dokumen yang Siska berikan sudah ia persiapkan baik baik, agar tidak ada kesalahan ke depannya.
"Ini divisi pemasaran yang membuatnya pak. Saya hanya memberikan apa yang merek_
"Shut up!!"
Siska memegang jantungnya, ia terkejut saat Jackob melempar berkas di tangannya menuju tong sampah. Duh...padahal menurutnya tidak ada yang salah dengan dokumen itu. Tim pemasaran sudah ahli dalam meng-aplikasikan rencananya.
"Kamu harusnya memeriksanya lagi. Bukan karena saya suka sama kamu, lantas saya mengabaikan kinerja kamu!"
Injih, aku wes ngarti pak. Sampeyan meskipun sudah melamar tetap galak kok.
Jawab Siska di dalam hati.
Ia memungut kembali dokumen yang telah di buang Jackob, guna meneliti kembali di mana letak kesalahannya.
"Panggil Widia ke sini!"
Perintah Jackob, kembali ke ruangannya.
Beberapa saat kemudian Widia, dari tim pemasaran datang. Wanita yang termasuk pembenci Siska itu melengos, begitu Siska menyapanya. Benar benar tidak bisa profesional, setidaknya Widia harus melihat Siska sebagai sekertaris, jangan haters. Karena bagaimanapun juga, yang di butuhkan adalah Siska sebagai penghubung boss dan bawahan.
"Siska, kemari."
Suara berat Jackob terdengar seperti alarm tanda bahaya bagi Siska. Dengan sigap Siska memasuki ruangan Jackob, tak lupa mengetuk pintu sebagai formalitas.
Siska melihat Widia sudah menangis terisak-isak, entah kata kejam seperti apa yang di katakan oleh Jackob. Pria itu benar-benar tidak pandang bulu jika ingin marah, padahal Widia salah satu pegawai senior yang prestasinya bukan kaleng kaleng. Dalam expetansi Siska, tentu Widia sudah terlatih dalam menghadapi segala tantangan kerja. Namun setelah melihat Widia menangis, Siska menjadi kasihan.
"Benar kamu yang menyuruh Widia merevisi file dia sebelumnya?" Tanya Jackob begitu Siska duduk di samping Widia.
"Benar pak."
Siska mengaku, ia memang menyarankan agar Widia mengubah beberapa isi dari file, tapi bukan keseluruhan. Bukan tanpa alasan ia melakukannya, melainkan agar ia tidak lelah merevisinya kembali. Maksudnya Siska adalah agar mereka bisa bekerja secara efisien, dan sekali jalan. Kalau seandainya Siska tidak memberikan saran, ia dan Widia pasti akan merevisinya kembali setelah sampai di tangan Jackob. Tapi apa mau di kata, itu memang benar akan terjadi, saat ini.
"Bodoh!" Ujar Jackob sambil menuding Siska, "Itu bukan hak kamu untuk menyarankan apa yang baik dan buruk. Mereka sudah terlatih. Lalu kamu....
Siska mendengarkan semua yang di katakan Jackob, Tampa meneteskan air mata setitik pun. Rekor terbaru untuknya!
Siska mencatat dalam diam apa saja yang harus ia kerjakan, revisi, dan beberapa hal yang sebenarnya sudah ia hafal di luar kepala. Tapi ia mencatatnya untuk mengalihkan sedih di relung hatinya.
Beberapa saat yang lalu, ia sempat berpikir untuk menerima lamaran Jackob, tanpa menyelesaikan masa tiga bulan yang mereka sepakati. Tapi sekarang, keinginan Siska entah menguap ke mana. Membayangkan jika kelak Jackob akan terus membentaknya, membuat hatinya terguncang, ia rasanya tidak sanggup.
"Widia, langsung serahkan ke saya begitu kamu dan tim kamu selesai." Ujar Jackob, mengakhiri sesi menasehatinya.
"Baik pak, permisi." Widia keluar dari ruangan Jackob, tersisa Siska yang masih berkutat dengan alat note booknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Marrying Mr imPerfect (Spin off MMA)
RomansaSiska Hardinata, anggota grup ex Sexy Yeoja yang memilih bekerja di salah satu perusahaan multinasional setelah menamatkan studinya. Nasibnya tak semulus karirnya , saat pimpinan perusahaan mengangkatnya menjadi sekertaris kedua. Siska pikir hidup...
