Tercyduk

3.2K 426 111
                                    

"Ha? Maksud bapak?"
Siska menganga, ia tidak mengerti kenapa boss besar bisa mengigau sampai mengajaknya untuk menikah. Apa mungkin karena demamnya tinggi? Katanya jika demam terlalu tinggi bisa mengakibatkan halusinasi.

Siska mengeluarkan termometer dari saku gamisnya, kemudian menyerahkannya kepada Jackob agar pria itu segera memeriksakan suhu tubuhnya.

"Demam saya sudah turun. Tapi baiklah, agar kamu percaya kalau saya sedang dalam keadaan sadar." Ujar Jackob sembari menyingkap bagian bawah bajunya, kemudian menyelipkan termometer ke dalam ketiaknya.

"Bubur bapak sudah datang, saya akan mengambilnya."  Siska bangkit, kemudian berjalan menuju pintu keluar dengan langkah terburu buru. Jantungnya berdetak tak beraturan saat teringat wajah tampan boss besar yang baru saja melamarnya! Wah, itu mustahil sekali. Wake up, Siska!
Ini bukan masalah ia yang banyak hutang, tapi ini masalah Jackob yang doyan maksiat, apa jadinya rumah tangganya nanti?

Masa iya seperti cerita jaman now yang sudah ada sountrack ku menangis di hari pertama pernikahan. Kan mainstream sekali. Siska sih malas menye menye menyedihkan demi mengemis perhatian. Karena hidupnya sudah cukup 'menyedihkan' selama ia menjadi sekertaris Jackob. Apalagi menjalani rumah tangga dengan Jackob, bisa bisa ia menangis setiap hari karena sifat Jackob yang kejam.

Siska bergindik ngeri, meskipun Jackob itu memiliki pesona ala ala novel halu di dunia orange yang mendekati kata sempurna sebagai suami. Tapi mohon maaf, orang yang doyan maksiat tidak bisa di katakan sempurna, karena dengan bermaksiat ia menunjukkan kecacatannya dalam beribadah. Seorang muslim di wajibkan taat tanpa nanti dan tapi, karena dunia ini ibarat persinggahan, dan pasti semua orang akan mati.

"Terimakasih pak." Siska tersenyum kepada satpam yang menerima pesananya. Ia kemudian bergegas menuju lift,  memencet angka duapuluh, di mana penthouse boss besar berada.

"Selamat pagi Bu Siska."
Seorang penghuni gedung menyapa Siska saat akan memasuki lift.

"Pagi mbak Eni. Semoga sehat selalu ya mbak." Salah satu kebiasaan Siska adalah mendo'akan kesehatan jika bertemu dengan orang yang di kenalinya. Awalnya ia merasa sungkan mendo'akan orang lain di  depan orang tersebut, tapi lama lama ia terbiasa. Lagipula lumayan, selain mendo'akan sesama muslim berpahala, juga tidak ada ruginya saling mendo'akan.

"Maasyaa Allah, terimakasih Bu Siska." Eni tersenyum, ia mengenal Siska sebagai salah satu bawahan dari tetangganya dua bulan yang lalu. Saat itu ia mabuk berat, dan beruntung Siska menemukannya kemudian membantunya menuju unit apartemennya yang berada di lantai delapan belas.

"Sama sama mbak."
Siska tersenyum, kembali menekan angka duapuluh.

"Bu Siska tidak bekerja?" Eni bertanya sembari melirik paper bag yang di bawa Siska.

"Insyaallah nanti agak siang. Pak Jackob sedang kurang sehat." Jawab Siska, bersiap menunggu lift terbuka, "saya duluan mbak, Assalamualaykum." Siska mengulas senyum kecilnya saat Eni melambaikan tangannya sebagai jawaban.

Ngomong ngomong soal jawaban, apa yang harus ia katakan kepada boss besar? Siska sontak menangkup pipinya yang terasa panas. Ia memang sering mendo'akan boss besar dalam setiap kesempatan agar boss besar di berikan hidayah, bukan agar ia berjodoh dengan boss besar.
Mendo'akan sesama muslim memiliki Fadhilah tersendiri, di antaranya seperti yang di sebutkan dalam Hadist Riwayat Muslim nomer 4912, bunyinya;  "Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.”

Nah kan keren tuh, kalau mendo'akan jodoh yang baik untuk sesama muslim, itu seperti kita mendo'akan diri kita sendiri agar di berikan jodoh yang baik. (Yang Jomlo auto do'ain tmnnya 🤭)

Marrying Mr imPerfect (Spin off MMA)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang