4. Masih Sakit

3.3K 444 28
                                    

END, Tamat, Sekian!!!

Kata kata itu tergambar di pikiran Siska. Bagaimana tidak, bukankah tidur di kasur milik boss besar adalah suatu kesalahan? Tentu saja! Siska sudah membayangkan kalau ia akan di tendang keluar dari kantor karena kelancangannya tidur di ranjang boss besar. Meskipun atas perintah Jackob, itu tidak akan menjamin keselamatan Siska, ingat! Boss selalu benar.

"Kamu sudah bangun?" Aleah_ibu Jackob_bertanya kepada Siska yang menatapnya ketakutan.

"I_iya Bu. Maaf," Siska segera duduk, namun ia nyaris oleng karena pening di kepalanya. Beruntung Aleah menangkap bahunya.

"Maaf," Lagi Siska meminta maaf, menyandarkan kepalanya pada dasbor ranjang. Setelah meminum obat_ yang di resepkan dokter pagi tadi_ Siska terlelap. Karena ia masih haid jadi ia tidak bangun untuk shalat Dzuhur. Dan sekarang entah jam berapa, Siska rasa sudah mulai sore karena seluit cahaya matahari mulai terlihat redup.

"Kenapa kamu tidur di sini?" Tanya Aleah. Mengamati Siska yang masih berusaha mengakrabkan diri nya dengan rasa pening di kepalanya.

"Ma, aku sudah bilang Siska sedang sakit!" Jackob mulai tak sabar, ia tidak pernah suka orang tuanya ikut mencampuri urusan nya.

"Mama tau, tapi kenapa harus di kamar kamu?" Aleah bersedekap, masih mengamati Siska.

"Sa_saya akan pulang sekarang Bu." Siska bisa merasakan jantungnya yang berdetak tak beraturan karena ketakutan.

"Kamu tidak akan kemana mana! Istirahat sampai pulih. Pekerjaan kamu masih menunggu!" Tegas Jackob yang membuat Aleah tercengang. Tidak menyangka anaknya begitu tega mempekerjakan seorang yang sakit.

"What! Kamu menahannya untuk bekerja!! Demi tuhan, Jack! dia sedang sakit. Dia butuh istirahat." Aleah menatap anaknya dengan tatapan marah. Meskipun ia tidak kenal pasti pegawai anaknya namun ia juga tidak bisa diam saja saat Jackob sudah bertingkah semaunya.

"Mama diam saja. Aku butuh dia untuk menyelesaikan Mega proyek di ibukota baru. Aku menggajinya untuk bekerja bukan untuk sakit."

"Memangnya dia mau sakit!?" Aleah menatap wajah anaknya, tiba tiba merasa iba karena anak laki-laki nya itu hanya mementingkan pekerjaannya, sampai usianya hampir kepala empat, tidak pernah sekalipun anaknya terlihat kisah romantis, ia jadi merasa bersalah karena merupakan adilnya membesarkan anaknya dengan tujuan mengembangkan perusahaan, "Jack, mama tau kamu begitu ingin semuanya sesuai rencana kamu. Tapi dia butuh istirahat. Diam di sini tidak akan membuat kondisi nya membaik." Aleah menyentuh bahu putranya dengan lembut, berharap anaknya luluh dan mengubah keputusannya.

"Saya antar kamu pulang!" Putus Jackob akhirnya, kemudian keluar dari kamarnya menyisakan Siska dan ibunya.

"Perlu bantuan?" Aleah bertanya sembari meneliti penampilan Siska. Hijab pashmina berukuran besar, mantel berwana coklat dan gamis terusan berwarna Milo. Aleah baru menyadari bahwa asisten anaknya tidak berpakaian ala ala hijabers jaman now, yang lebih mementingkan fashion daripada tuntunan agama.

"Terimakasih, tidak perlu." Siska berhasil mengatasi kegugupan nya. Ia bangkit dari ranjang kemudian memasukkan obatnya ke dalam saku mantelnya.

"Berapa lama kamu bekerja di sini?" Tanya Aleah, mengekori langkah lamban Siska.

"Hampir sembilan bulan, terhitung dari saya masih magang."

"Oh ya? Berarti kamu baru tiga bulan di sini? Terakhir kali saya ke sini Ami masih sendiri."

"Benar Bu." Siska tersenyum menjawab pertanyaan Aleah.

"Bu, Saya pamit." Siska membungkuk hormat, kemudian mengekori langkah lebar Jackob yang sudah terlebih dahulu berjalan menuju lift.

Marrying Mr imPerfect (Spin off MMA)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang