-
"Gue seratus persen yakin Gibran suka sama lo," kata Jihan yakin sore ini yang membuat Melan merenung.
"Nggak ah, dia aja nyebelin banget kalau didekat gue, bawaanya kesal mulu liat dia," balas Melan pada akhirnya.
Jihan membuang nafas panjang. "Coba lo pikir deh, kalau dia nggak suka sama lo, mana mau dia ngikutin lo kemana-mana, ngasih pakaian olahraga nya ke lo dan rela dapat hukuman, rela jemputin lo ke caffe, bantu lo ngarjain semua tugas yang sama sekali nggak lo ngerti itu, dan yang terakhir malas banget sebenarnya gue bilang karena udah lama dan janji sama Gibran nggak bilang sama lo, tapi ya nilai ulangan lo waktu itu punya Gibran, dia sampai rela nukar nilai ulangannya buat lo, dan dapat remedial karena ulangan lo yang nol itu."
Melan terdiam.
"Lupain Gelan, dia nggak akan pernah suka sama lo-" belum sempat Jihan mengakhiri kalimatnya Melan memotong.
"Kenapa Gibran lakuin itu? Gue nggak suka." titik Melan dan menjadi akhir pembicaraan dirinya dan Jihan sore itu, karena Melan memutuskan pergi duluan dari caffe.
***
Ponsel Melan berbunyi, Melan melirik malas benda pipih di atas nakas itu. Dia hanya berbaring malas di tempat tidur, menatap langit-langit kamarnya yang berwarna unggu efek dari lampu.
"Gibran suka sama gue?" pertanyaan itu berkeliaran di pikiran Melan setelah ucapan Jihan sore tadi. "Nggak mungkin," tolak pikiran Melan, namun mengingat semua perlakuan Gibran padanya membuat Melan gila.
Gadis itu memutuskan bangkit dan meraih ponselnya, mencari tahu apa yang membuat benda itu berbunyi dari tadi.
Gibran: melan
Gibran: lo laper nggak?
Gibran: mau makan sesuatu?
Gibran: lo udah kerja tugas matematika belum?
Gibran: mel, jangan geer dulu ya gue cuma nanya, awas aja lo kepedean.
"Tuh kan, mana mungkin Gibran suka sama gue," gumam Melan, dia bersiap-siap meng-ss chatnya dan Gibran untuk dikirim ke Jihan, namun terhenti ketika sebuah chat dari nomor tak dikenal masuk.
081237******: gue dpn rmh lo
081237******: mau ngmng sstu pntng
Melan baru saja mengumpat dan mengatai orang itu yang tidak-tidak karena mengira salah kirim, sampai pesan berikutnya masuk.
081237******: gue Gelan, klau lo lupa.
Melan menegang, dia buru-buru mengintip dari kaca jendela kamarnya, dan benar ada sebuah mobil hitam terpakir dekat pagar. Namun bukan hanya satu tapi ada dua. Melan mengernyit tak paham, dia keluar dari kamar dengan cepat tak memperdulikan kalau dia cuma memakai piyama.
"Melan itu siapa yang didepan–"
Melan memotong ucapan mama yang berpapasan dengannya di tangga. "Temen aku, ma. Aku aja yang keluar, mama disini aja. Bang ichsan belum pulang sama Jihan, kan?" tanya Melan memastikan, karena kalau ada Ichsan pasti semuanya akan kacau, beruntung Jihan mengajak kakaknya hangout malam ini.
Mama mengangguk, masih ingin berbicara namun Melan sudah buru-buru pergi.
Melan menghela nafas panjang sebelum akhirnya menarik pagar hitam rumahnya.
Gadis itu mengernyit kebingungan. "Kalian ngapain?" tanyanya kebingungan melihat dua laki-laki yang bersandar di pintu mobil masing-masing dan hanya menatap dalam diam.
"Gelan ... Gibran!"
***
A/n: hi, masih ada yang nunguin cerita ini? Sad banget sih ini cerita terlama yang pernah aku tulis hampir 2 tahun. Nulisnya masih SMA kelas 2, sekarang udah Maba dan masih belum kelar.
Udah digantungin dari Juni pula. Semoga kedepannya aku slow update ya! Soalnya aku kayak udah jarang banget aktif wattpad :", dulu tiap hari sekarang mungkin sebulan sekali. Banyak banget hal yang buat aku overthingkin belakangan ini, like bruh i'm done but yeah. Tetap semangat ya buat kalian semua <33
Carlin, 8 oktober 2021.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gelan & Melan
Fiksi Remaja'Dua magnet beda sisi yang saling tarik-menarik.' Melan itu gadis centil dengan sifat meledak-ledak seperti petasan. Sedangkan, Gelan itu lelaki kaku dengan wajah dingin bak kutub es. Melan suka mengganggu Gelan, menurutnya tak ada yang lebih seru k...
