-
Hari berikutnya berjalan seperti biasa. Sejak malam itu, tak ada yang terjadi lagi. Gelan mengantar Melan pulang setelah kembali dari rumah sakit. Kepala Melan penuh dengan tanda tanya namun Gelan kembali menjadi pendiam. Mereka les seperti biasa dua kali seminggu namun selalu diisi kegaduhan Gibran.
Setidaknya ada satu hal yang tetap; Gelan selalu berusaha memastikan Melan baik-baik saja.
"Lo mau makan apa?"
"IH TANGGAN ELOO!" Jihan berteriak pada Gibran. "Jangan nyengol bisa nggak sih? Ini gue lagi makai liptint lo gak liat apa?"
"Udah nggak takut sama gue lo?"
"Emang gue pernah takut sama lo? Pede amat!" Gibran sengaja menyikut lengan Jihan sehingga refleks gadis itu mengukir garis dari bibirnya ke pipi.
"ANJ–" pekik Jihan tertahan. "ISH LO NGESELIN BANGET GUE LAPORIN PACAR GUE YAA! TUNGUIN AJA LO!"
"SANA LAPORIN EMANG GUE TAKUT!"
"YA TUNGGU AJA LO–"
"Lo berdua bisa diem nggak, sih!?" Melan jenuh, akhirnya angkat suara membuat kedua orang didekatnya langsung kicep.
***
"Sebenarnya lo mikirin apaan sih, Mel?" tanya Jihan bosan melihat Melan yang hanya diam seharian ini.
"Ji, keluarga Gelan gimana sih?"
Jihan melotot mendengar perkataan Melan. "Ya masa lo nanya sama gue, Mel. Gatau. Lagian lo kan yang pernah kerumah Gelan, jangankan kerumah dia ngomong sama dia aja gue jarang, Melaaan!" gemas Jihan. "Emang kenapa lo nanya kayak gitu? Menurut gue pasti keluarganya fine fine aja sih, maybe tipekal keluarga kaya yang smart dan punya privasi tinggi?" Jihan diam sejenak. "Yang gila kerja dan jarang punya waktu bareng, kayak gitu deh!"
Melan tak mendapat jawaban apa-apa dari kalimat panjang lebar Jihan. Dia menunduk. Waktu dia kerumah Gelan selalu kosong, hanya ada laki-laki itu dan pekerja dirumahnya. Melan tak pernah melihat kedua orangtua Gelan, dan dia sangat penesaran bagaimana mungkin Gelan memiliki bokap tiri.
"Kenapa lo ga nanya sendiri aja, kalau lo sepenesaran itu?" ujar Jihan lagi melihat kebingungan diwajah Melan.
Melan memandang Jihan. "Menurut lo?"
Jihan terkekeh, "lo ga berani?" tebaknya.
"Lebih tepatnya ga punya hak." Melan menutup percakapan mereka dengan balasan sengitnya.
Hening cukup lama sebelum Melan meraih ponselnya dan mengetik sesuatu disana.
Gue mau ketemu lo sekarang, Gelan. ada sesuatu yang bener-bener mengusik pikiran gue dan gue sangat ingin membuat semuanya clear.
Tanpa Melan sedari, Jihan mengintip dari sebelahnya dan tertawa kecil. "Thats my girl!" pekik Jihan membuat Melan sadar.
"Lo ngintip?!"
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Gelan & Melan
Roman pour Adolescents'Dua magnet beda sisi yang saling tarik-menarik.' Melan itu gadis centil dengan sifat meledak-ledak seperti petasan. Sedangkan, Gelan itu lelaki kaku dengan wajah dingin bak kutub es. Melan suka mengganggu Gelan, menurutnya tak ada yang lebih seru k...
