Nikki POV
Jody akhir-akhir ini seperti punya hobi baru, yaitu datang siang-siang buat makan masakan mbak Ratih dan menggangguku. Sebelumnya nggak masalah sedikitpun, toh kami memang teman dekat sejak dulu, tapi sejak kejadian itu aku merasa sendirian adalah posisi ternyaman yang paling bisa aku nikmati. Seminggu terakhir ini aku merasa seperti robot pemalas, semuanya bisa kukerjakan dengan baik hanya saja perlu sedikit pemaksaan dan banyak gerutuan. Jadwal manggung Redhood berjalan lancar dan aman, hanya saja aku tidak mau repot-repot ngobrol sebentar apalagi nongkong bersama mereka atau yang lain, sudah kubilang aku lebih suka sendiri.
Sikap Aubry tempo hari yang kuanggap bentuk pengkhianatannya belum bisa kutolerir, tak masalah sedikitpun bagiku menjadi jomblo lagi, toh selama inipun aku hanya bermain-main dengan perempuan-perempuan itu tak lebih dari sebulan. Hanya saja sesuatu disudut hatiku ingin percaya dengan penjelasan Jody beberapa hari kemarin, sesuatu yang kecil itu meneriakkan kerinduannya yang membuncah kepada Aubry, Aubrynya yang baik, Aubrynya yang lembut, Aubrynya yang cantik dan perhatian. Tapi ego dan pengalaman menuntunku untuk bertahan dengan sikap ini, sikap yang menurut Jody kurang manusiawi. Jika Tuhan maha pemaaf kenapa manusia hina sepertiku sulit sekali melakukannya. Jika menurut Jody, Aubry disana terluka dan bersedih, jangan dia kira aku tidak hancur lebur. Mungkin setitik cinta yang tak mau hilang untuk Maisha membuatku menimpakannya bertubi-tubi kepada Aubry, kesakitan dan dendam yang tak pernah mampu kuucapkan seiring langkah Maisha yang menjauh ketika itu, Sebut saja aku jahat, karena memang tidak seharusnya aku membuat Aubry menanggung ini. Tapi suatu hari dia akan mendapatkan kesempatan kedua dariku, seperti dulu ketika aku memberi kesempatan kedua bagi Maisha. Hingga kini pun aku masih belum yakin, apa yang kurasakan tentang Maisha ini termasuk obsesi atau dendam? orang yang kepadanya pernah kuberikan bongkahan utuh hatiku yang lantas dia buang lalu dia hancurkan.
Apa yang kutulis seminggu ini mungkin nanti pada waktunya akan menjadi keuntungan pribadi bagi Redhood dan manajemennya, Jody bahkan berulang kali meringis setiap membaca bait-bait kata yang menurutnya sangat menohok dan menyayat hati, ya lirik-lirik patah hatiku. Aubry bahkan menjadi inspirasiku dikala senang maupun susah.
"Makan dulu mas", Suara mbak Ratih di depan pintu kamar menarikku dari lamunan, Jody yang sedari tadi merem sambil mendengarkan musik melalui earphone seketika bangkit lalu mencampakkan Iphone dan Earphonenya sembarangan ditempat tidurku.
"Ayo Nik, laper", Aku hanya mengangguk dan mengikutinya keluar menuju ruang makan, masakan rumahan Mbak Ratih memang patut diacungi jempol, hari ini sudah tersaji Rendang Padang, sambel terasi dan rebusan sayur-mayur, membuat Jody nyengir lebar seraya menelan ludah. Masakan mbak Ratih sudah masuk list makanan favoritnya selama seminggu ini.
Aku segera bangkit dan meninggalkan Jody bersama piring kotor diatas meja, tak mau repot dengan membawanya ke bak cuci piring didapur, Jody hanya menggelengkan kepala sambil terus meratah Rendang yang memang enak itu. Membiarkanku sendirian.
Di kamar aku melihat layar Iphone Jody berkelap-kelip dengan nama Rana terpampang disana. Aku mengacuhkannya lalu mengambil Iphoneku yang sudah seminggu ini kuganti nomornya.
"Woi, itu HP gue ada telfon kenapa nggak lo angkat sih?" , Jody yang baru masuk ke kamar langsung menghampiri Iphonenya yang tergeletak di tempat tidur, kelap-kelipnya di silent telah berhenti.
"Males gue"
"Segitunya lo ya?", Jody terlihat marah lalu mengetik-ngetik sesuatu disana, sepertinya kembali menelfon Rana.
"Halo Ran, sorry tadi gue makan, ada apa?" kulihat dahi Jody berkerut lalu serta merta menyalakan speakerphonenya. Aku sebenarnya malas mendengarkan apapun yang mungkin sengaja dibuat Jody agar aku dengarkan, segera aku beranjak menuju toilet.
"Tolong sampein ke Nikki, Aubry sakit, udah seminggu ini dia dirawat dan mungkit salah satu penyebabnya adalah dia, gue nggak tau dengan pasti apakan pendarahan otak itu termasuk penyakit parah atau enggak, yang gue mau dia dateng kesini dan minta maaf ke Aubry, gue minta dengan segala hormat ke elo, sampein pesan gue ini atau dia bakalan nyesal seumur hidup", Suara isakan penuh emosi Rana dan kalimatnya barusan membuatku terpaku, ada perasaan asing yang begitu menyakitkan menohokku dengan keras.
"Di Rumah sakit mana?" Aku bersyukur otak Jody masih berjalan dengan baik, hingga mampu menanyakan hal penting yang saat ini tak mampu kufikirkan. Setelah mendengar nama rumah sakit dan nomor kamarnya, aku berbalik lalu terduduk layu di hadapan Jody yang menatapku kasihan sekaligus kesal.
"Lo makan tu ego", Aku bersyukur tak satupun tinjunya bersarang diwajahku, dan dia kini keluar dengan membanting pintu kamarku dengan kuat, aku hanya mampu terdiam, mencerna berita buruk dari Rana sambil menatap pintu kamarku yang tertutup.
***
Sejam kemudian Jody kembali kekamar Nikki dengan dua tiket pesawat yang akan berangkat besok pagi, disana tertera namanya dan Jody .
"Makasi lo udah mau nemenin gue Jod, uang tiketnya berapa? gue ganti"
"Gue nggak butuh uang lo!! yang gue mau lo nyadar dengan keadaan rumit yang lo buat ini dan berusaha memperbaikinya" Nikki yang sedang memegang dompet hanya terpaku mendengar ucapan Jody, seketika tubuhnya luruh kelantai, terduduk lemah dengan kedua siku bertempu diatas lutut dan tangan yang meremas rambutnya yang memang sudah panjang dan berantakan.
"Gue harus gimana Jod?", Suara Nikki bergetar, karena sekuat tenaga menahan tangis yang hendak pecah. Jody memang satu-satunya sohib Nikki yang mengenal baik Aubry, bahkan dia menyayangi Aubry seperti adik sendiri, menjadi teman curhat Aubry ketika sikap-sikap aneh Nikki membuatnya bingung, membuatkan Nikki kue-kue enak yang tentu saja juga ikut dinikmati Jody.
"Kan udah gue bilang, jangan terlalu keras dengan diri sendiri, lo boleh aja sakit Nik, bukan berarti semua orang harus ngerasain kesakitan lo", Jody ikut terduduk dilantai, menepuk pelan bahu Nikki yang terkulai.
"Sikap lo bikin dia sakit, dan yang lo sakiti sekarang ternyata bukan cuma hatinya", sambung Jody, Nikki hanya terdiam menyadari kenyataan pahit itu.
"Lo cukup minta maaf, cewek selembut Aubry pasti punya segudang maaf buat lo, tapi dia nggak bisa beri kalo lo nggak minta"
"Maisha?"
"Nanti aja lo jelasin tentang cewek murahan itu kalo Aubry udah sembuh, nggak perlu lah lo jelasin ke dia tentang itu sekarang, cuma nambah beban fikiran dan bikin dia cemburu, ternyata pacarnya masih terobsesi balas dendam sama mantannya", kata-kata Jody membuat Nikki menoleh cepat dengan raut tak percaya.
"Gue tau Nik, nggak usah lo bilang juga gue tau, kita sahabatan udah lama", Jody bangkit menuju pintu lalu menoleh.
"Lo siapin beberapa baju ganti lo, ga perlu gue kan yang ngerjain? gue pulang dulu mau ngambil baju juga, ntar malem gue nginep disini"
4 chapter lagi kayaknya uda rampung deh,, ini no edit, jadi kalo salah2 ya mohon maaf. Voting dan Komen boleh dong ? Btw si Nikki itu jahat ya?

KAMU SEDANG MEMBACA
White Melody
RomanceKisah cinta anak band yang berakhir duka.. Adakalanya sebuah lagu bisa mewakili perasaanmu dan kisah perjalanan cintamu...