Setibanya di rumah sakit Aubry langsung ditangani oleh dokter di UGD, Nikki hanya diam mematung sambil terus memandangi pintu UGD yang tertutup. Teringat janjinya pada Rana,Nikki mengetik cepat pada layar sentuh HPnya, menyebutkan nama rumah sakit dan keadaan Aubry. Ini adalah dua puluh menit terlama dalam hidupnya, airmatanya tadi telah mengering digantikan perasaan bersalah dan sedih yang kini nanar dihatinya. Tuhan, biarkan Aubry baik-baik saja, hanya itu doa yang sejak tadi di ulang-ulangnya.
Lima belas menit kemudian seorang dokter keluar dan menghampiri Nikki karena hanya dia satu-satunya orang yang mendampingi Aubry saat ini, menerangkan keadaannya yang masih lemah dan membutuhkan beberapa hari untuk memulihkan kondisinya.
"Tensi darahnya terlalu rendah, dan sepertinya energi yang keluar lebih besar daripada asupan yang masuk", dokter separuh baya itu menerangkan."Apakah akhir-akhir ini dia makan dengan layak?", perkataan dokter ini seperti menohokku, apa Aubry memang tidak memperhatikan kesehatannya selama disini?.
"Saya rasa begitu dok, tapi dia sering mengeluh sakit kepala", Nikki menjelaskan.
"Hmm, besok akan dilakukan pemeriksaan menyeluruh, tentunya setelah memperoleh tanda tangan persetujuan dari pasien", lanjutnya sambil tersenyum simpati.
Dokter itu berlalu meninggalkan Nikki yang hanya mematung melihat Aubry yang terbaring di UGD, matanya masih terpejam dan wajahnya masih sepucat terakhir Nikki melihatnya.
***
Nikki
"Udah dipindahin ke kamar perawatan 318, kalian ngga usah datang dulu, jam besuk udah lewat jadi datang aja besok pagi, Aubry sedang tidur dan besok gue jelasin semuanya". Setelah memberikan penjelasan seadanya kumatikan sambungan teleponku dengan Rana yang mengoceh panjang tanpa titik koma.
Sudah pukul tiga pagi, Aubry mungkin tertidur karena obat yang disuntikkan melalui infusnya. Nafasnya naik turun teratur, sesekali dahinya mengernyit, mungkin dia bermimpi. Kupandangi wajahnya yang pucat kini mulai merona, obat dan infus ini telah memberinya energi. Melalui temaram cahaya lampu tidur, kuperhatikan tekstur wajahnya yang mulus, alisnya yang berantakan dan mata terpejamnya yang indah, aku mengantuk tentu saja, mataku terasa perih karena dipaksakan terbuka, tapi memandang Aubry yang sedang tertidur adalah hal yang sangat langka, apalagi bisa melihatnya sedekat ini, mana mungkin aku akan menyia-nyiakannya. Lagi pula aku telah berjanji akan menjaganya dan aku akan menepatinya.
Kuambil buku kecil dan pena dari ransel kecilku, sambil menatap wajahnya aku menuliskan bait-bait puisi yang entah mengapa mengalir lancar melalui jari-jari kapalanku, seperti melihatnya adalah sumber inspirasi terbesar yang pernah kumiliki. Empat bait yang indah telah selesai kutulis, kubaca ulang sambil sesekali melirik wajahnya yang cantik, sentuhan terakhir telah rampung, nanti akan kubuatkan nada-nadanya dan menjadikan puisi ini lagu, kutulis dibaris teratas White Melody judulnya, lalu kusimpan di dalam ransel.
***
Aubry
Tempat ini sangat familiar, sepertinya aku pernah datang kesini tapi suasananya berbeda, oh iya, waktu pesta ulang tahun Willy aku pernah datang kesini, tapi halaman belakang rumah Willy ini sepi, hanya ada aku yang sedang duduk di sebuah joglo kecil yang nyaman sendirian. Sebuah motor sport berwarna hitam tiba-tiba masuk melalui pagar belakang rumah dan parkir didepan garasi yang tertutup, seorang cowok yang mungkin Willy, aku nggak bisa melihat wajahnya karena tertutup helm full face. Dia datang mengahampiriku sambil membuka helmnya lalu duduk di sampingku. Nikki?
"Hai", sapanya.
"Emmm, hai", jawabku ragu.
"Ada yang mau aku omongin Bry"
"Iya.. ngomong aja", kataku pelan sambil melihat wajahnya.
"Kamu ngga nanya aku mau ngomong apa?
"Buat apa aku nanya, kan nanti aku bakalan tau setelah kamu bilang apa yang mau kamu bilang", kataku sambil tersenyum tipis.
"Ohh, oke", katanya nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kayaknya aku jatuh cinta samu kamu.. Bry", suaranya lirih tapi dengan penuh keyakinan, ada ketulusan didalam matanya.
"Hahhhh????" , aku mendengarnya jelas tapi masih belum yakin dengan apa yang kudengar barusan.
"Iya bry, serius".
"Oke,, terus kamu mau aku gimana?", ada senyum lebar dan kebingungan diwajahku.
Dia hanya diam dan menatapku ragu-ragu.
"Kamu ngga sukak ya sama aku?
"Buubuu..bukan gitu aku cuma bingung harus gimana sekarang", jawabku langsung.
"Kamu fikir-fikir dulu perasaan kamu ke aku gimana, besok malam aku telfon dan kamu harus udah tau jawabannya, aku pergi dulu ya", Nikki segera bangkit setelah sekilas mengecup pipiku.
*
Kulihat sekelilingku dengan mata dicipitkan, sinar matahari dari jendela ini sangat silau, tanganku meraba-raba tali disamping tempat tidur dan menariknya hingga tirai jendela menutup. Setelah cahaya diruangan ini dapat diterima oleh mataku, aku mulai kebingungan, ini dimana? Ruangan ini serba putih, seperti kamar rumah sakit, dan ketika kulirik tangan sebelah kiriku barulah aku menyadari bahwa aku memang dirumah sakit. Tapi bagaimana caranya? siapa yang membawaku kemari? Kuputar lagi memoriku 24 jam yang lalu dan mendapati sesuatu berdenyut pedih didalam hatiku, hanya saja tidak sesakit kemarin, aku sudah bisa mengatasinya. Tapi aku masih belum menemukan cara hingga aku bisa sampai disini, yang kuingat terakhir adalah banyak kunang-kunang dan suara Nikki!.
"Ceglek", tepat sebelum fikiranku mengembara kemana-mana, pintu terbuka dan Rana berlari kearahku, wajahnya khawatir dan dibelakangnya semua teman bandku mengikutinya.
"Oby", Rana memelukku sambil menangis.
"Maafin gue nggak nemenin lo kemarin", katanya sambil terisak. "Lo gapapakan?"
"Gue sehat, liat aja nih", cengiranku yang lebar membuat Rana menghapus airmatanya.
"Panggilin susternya gih, cairan infusnya udah mau abis dan aku mau pulang".
"Lo yakin by?", Tama bertanya dengan raut wajahnya horor.
"Yakin kelleus", kataku bercanda sambil duduk bersila diatas tempat tidur. "Aku udah sembuh, cuma pusing biasa kok"
"Pusing biasa mana ada yang sampe pingsan begitu", sergah Angga.
"Pokoknya sekarang aku udah gapapa dan aku mau pulang", kataku ngotot.
Suster yang tadi dipanggil Rana kini sedang mengukur tensi darahku dan mengatakan tensiku sudah kembali normal, kemudian menghentikan laju cairan infusku yang mulai habis . Dia mengatakan bahwa dokter yang merawatku akan datang sebentar lagi dan dia yang akan memutuskan apakah aku boleh pulang hari ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
White Melody
RomanceKisah cinta anak band yang berakhir duka.. Adakalanya sebuah lagu bisa mewakili perasaanmu dan kisah perjalanan cintamu...