Aku sudah mandi, mengganti baju dengan yang sudah dibawakan Rana dan sudah siap untuk pulang, bukan ke hotel, tapi kerumah ibu. Tapi aku bahkan belum membeli tiket karena kemarin terlalu sibuk berkutat dengan fikiranku sendiri hingga jatuh pingsan. Tapi sebelum pulang aku ingin mengucapkan terimakasih dan mengganti uang Nikki terlebih dahulu, Rana tadi mengatakan bahwa Nikki lah yang membawaku ke rumah sakit dan membayar semuanya. Walaupun aku masih kesal, tapi aku tau itu semua tak beralasan,toh aku bukan siapa-siapanya, sudah seharusnya aku mengalah pada perasaanku sendiri. Yah memang aneh, mana ada orang mengalah pada diri sendiri kecuali aku.
Teringat Nikki, aku jadi terbayang mimpi aneh yang tiba-tiba muncul tadi pagi, mimpi itu terasa begitu nyata, sangat jelas dan membuat pipiku terasa panas, Entah apa gerangan aku bisa memimpikannya yang sedang menyatakan cinta, dan sampai hari ini dia tidak berniat muncul, padahal dia yang membawaku kesini. Dasar cowok aneh.
"Barang-barang kita ada dimana sekarang Ran?, seharusnya kita udah check out dan pulang hari ini kan?", Rana hanya diam sambil terus mengetik sesuatu di hpnya, kami berada di lorong rumah sakit menuju parkiran mobil.
"Ranaaaaa!!", dia menatapku kaget.
"Apa sih by?"
"Sekarang kita kemana?, tiket pulang juga belum dibeli kan?"
"Mau pulang kemana?, kita juara SATU dan kita akan disini Dua minggu lagi, mau rekaman dan buat video klip, oiya selama dua minggu kita akan tinggal di apartemen di kawasan Bintaro, semuanya gratis", jawab Rana cepat lalu kembali berkutat dengan hp nya.
"HAAAAHHH?", aku melongo dan tidak percaya, hanya pingsan satu malam dan aku sudah ketinggalan hal sebanyak ini.
"Ibu udah gue telfon tadi, dan beliau setuju-setuju aja", sambung Rana.
"Oke", hanya itu yang bisa keluar dari mulutku, lebih lama disini hanya semakin membuatku mual, berarti lebih banyak kesempatan bertemu Nikki dan semakin sering patah hati. Oh shit!
"Mau kemana neng?, itu mobilnya disebelah kanan", aku yang mengira akan naik taksi makin bengong mendengar suara Tama.
"Di pinjemin om gue, jadi selama disini kita nggak susah kemana-mana", Tama menjawab kebingunganku, aku hanya mengangguk dan mengikutinya bersama teman-teman yang lain menuju mobil Honda Freed berwarna abu-abu.
***
Apartemen ini lumayan besar, bersih dan nyaman, memiliki tiga kamar, cocok untuk kami berenam. Aku mengikuti Rana kesebuah kamar yang paling besar dan menemukan gitar dan ranselku di atas nakas sebelah kanan tempat tidur.
"Aku cuma bawa baju buat dua hari dan baju tidur, kita disini dua minggu", aku berkata pada diriku sendiri.
"Yeee, semuanya juga gitu kali by, yaudah ntar sore kita ke mall aja belanja baju buat disini", sambung Rana yang ternyata mendengarku.
"Iya deh, lebih gampang gitu dari pada ngerepotin ibu buat ngirim-ngirim baju".
"Oiya, aku kebawah dulu ya Ran, mau beli peralatan mandi sekalian ngelaundry baju-baju kotor", tadi dibawah aku melihat toko laundry tepat disebelah supermarket.
"Oke, gue nggak ikut ya by, lagi seru nonton film korea nih", kata Rana tanpa menoleh dan terus mengunyah kacang.
"Iyeee...., jalan dulu yah", aku menutup pintu dan berjalan kearah lift.
Ketika lift terbuka, semua mata menatapku seakan mengatakan "sudah penuh', lalu tertutup lagi. Aku menghela nafas dan memutuskan akan lewat tangga saja. Aku tidak membawa tas, hanya dompet dan tas kertas berisi pakaian kotor. Di jalan aku teringat ibu dan sangat merindukannya, sambil berjalan di lorong lantai tiga aku memencet-mencet hpku mencari contact ibu.

KAMU SEDANG MEMBACA
White Melody
RomanceKisah cinta anak band yang berakhir duka.. Adakalanya sebuah lagu bisa mewakili perasaanmu dan kisah perjalanan cintamu...