Rana memandangi wajahku lama, ada gurat kesedihan disana. Ya, sedih melihatku, dan dia paling tau kalau aku paling susah menangis dan pasti menyakitkan menahan perasaan yang hancur lebur, patah hati pada orang yang bahkan tidak pernah kumiliki. Dengan hanya diam, murung, terlihat sangat tersiksa karena ketika udara masuk keparu-parupun membuatku mengernyit, entahlah, ini yang pertama dan aku benar-bener ngga tau gimana cara mengatasinya. Aku benar-benar payah!
"Jangan gini dong by, cerita dong", katanya sambil memegang bahuku dengan wajah khawatir.
Sejam yang lalu Rana masuk dengan wajah super sumringah melompat-lompat kegirangan sambil memelukku dan mengatakan kalo Sunshine lolos ke grand final, dan besok malam hanya akan ada dua band yang menjadi pemenang dengan hadiah utama kontrak Rekaman senilai 1 Miliar! Aku dengan bodohnya hanya mengangguk pelan lalu masuk kebawah selimut dan menutupnya sampai kepala. Berulang kali Rana memaksaku bicara tapi aku hanya diam. Akhirnya karena kebelet aku terpaksa bangun dan dengan berat hati duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong, hampa dan patah hati. Hiks.
"Nikki by", Kataku lirih, mendengar nama itu Rana naik pitam dan mengguncang-guncang bahuku. "Dia ngapain lo by!!!"
"Kayaknya dia udah bikin aku jatuh cinta".
"Iya,, kalo itu semua juga uda tau kelleuss",mataku membelalak mendengar jawaban Rana.
"Waktu pertama kenalan sama dia, waktu kalian rajin komunikasi, waktu dia mulai nggak ngabarin lo...", kata-kata Rana terhenti. "Sifat lo waktu itu fluktuatif abis by, hari ini girang bukan kepalang trus besoknya jadi pendiam, udah jelas lo jatuh cinta, kita temenan lima tahun by dan lo ngga pernah kayak gini!"
"Aku juga ngga tau kalo jatuh cinta itu rasanya begitu", rasa sakitku teralihkan dengan kebingungan.
"Lo tuh ya, dari dulu di PDKT-in cowok ngga pernah nyadar sampe mereka semua mundur teratur, bahkan waktu lo sendiri jatuh cinta masak ngga nyadar juga sih?, trus sekarang apa yang tiba-tiba bikin lo nyadar?", pertanyaan Rana tiba-tiba menohokku tepat disini #nunjukhati dan Rana menjadi panik karena melihatku kesakitan meremas kaos putih gambar payung tepat didada.
"By, by.. lo gapapa kan?"
"Sesak Ran.. nafasku..", jawaban tebata-bataku membuat Rana langsung lari keluar, selang semenit Tama dan yang lain menyerbu ke kamarku dengan tampang-tampang khawatir.
"Pake ini by masih baru koq belum pernah dipake", fajar menyodorkan inhaler spray kepadaku. Melihatku bingung bagaimana memakainya fajar langsung memasukkan kemulutku dan menyemprotkannya. Fajar memang punya penyakit asma, tapi jarang kambuh dan selalu membawa-bawa inhalernya untuk keadaan darurat. Ternyata langsung bekerja, perlahan-lahan udara yang masuk dapat kuterima dan aku bisa bernafas nolmal.
"Thanks ya guys, aku udah ngga apa-apa kalian boleh balik, istirahat gih", aku mengusir mereka dengan halus dan langsung mereka turuti walaupun wajah mereka jelas-jelas khawatir.
"Udah enakan by?", Rana duduk di sebelahku sambil memijit-mijit punggungku.
"Udah, makasih ya..".
"Selow, kita kan sohib"
"Tadi sebelum naik ke ballroom kepalaku sakit lagi Ran, jadi aku langsung putar arah ke seven eleven buat beli obat dan di loby aku ngga tahan lagi buat naik jadinya aku minum obat disana dan ketemu sama Nikki", ceritaku dibalas "Oh" oleh Rana sambil menutup mulutnya.
"Sumpah Ran, perasaan yang empat bulan lalu mulai layu seketika bermekaran", kataku lirih sambil memilin ujung sarung bantal.
"Dia masih mengkhawatirkanku, memperhatikanku bahkan mengingat kata-kata ibuku", sambungku, entah kenapa membaginya dengan Rana membuat hatiku sedikit lega.
"Waw.. serius by? berarti cinta lo ngga bertepuk sebelah tangan kan?", tanya Rana semangat.
"Yah tadinya aku mikir gitu juga sih..", sekarang rasa sesak itu benar-benar mencoba kembali, aku berulang-ulang menarik nafas, terasa sangat berat dan menyakitkan, kata-katanya terus berputar dikepalaku seperti kaset rusak.
"Dia mengajakku makan di cafe depan hotel, ada Jody juga, tapi setelah Jody pulang dia mencoba memberi tau sesuatu gitu Ran, dan dia terus-terusan minta maaf", kataku menuturkan kejadian sore tadi.
"Aku yang salah, aku ngga pernah bermaksud menumbuhkan sesuatu diantara kita, seharusnya aku ngga memulainya dari awal". Hening.
"Dia Bilang gitu Ran", kataku pelan sambil menunduk. Rana terdiam menatap wajahku lurus lalu memelukku, dari isakannya aku tau Rana menangis, mungkin air mataku keluar melalui Rana. Ah dia memang cengeng.
***
Nikki
"Jod, gue nginap ya? dirumah ngga ada orang, gue lagi males sendirian", kataku malas sambil menenteng ranselku, melewatinya yang bengong didepan pintu.
"Woi apa-apaan tuh muka kusut begitu abis ketemu pujaan hati?", Jody berlari menghampiriku setelah menutup pintu.
"Patah hati gue Jod"
"Sama Indi? kan emang udah lama? Gaya lo Nik, pacaran sebulan aja pake patah hati"
"Bukan dia, Aubry".
"Hahhh??? serius lo? emang kapan jadiannya?"
"Ngga pernah sih, tapi kata-kata gue tadi sore udah melukai Aubry dan ternyata hati gue sakit ngeliat dia kayak gitu Jod, sumpah gue ngerasa uda salah banget ngomong gitu ke dia". kataku murung.
"Emangnya ngomong apa lo?"
"Gue bilang seharusnya gue ngga numbuhin sesuatu apapun diantara kami, harusnya gue ngga mulai dari awal"
"Wah parah looo!! sumpah lo ngga punya otak ya Nik!" , Jody berang mendengar pengakuanku.
"Aubry itu cewek baik-baik Nik, gue ngga nyangka ya lo bisa ngomong gitu, jangan samain sama mantan-mantan lo yang murahan itu! Aubry seribu kali lebih baik", kata-kata Jody menohokku.
"Dia ngga nangis Jod, tapi dari mukanya gue tau dia pasti sakit banget, gue emang brengsek!". "Mantan-mantan gue yang dulu selalu nangis kalo diputusin, tapi dia cuma diam dan terus-terusan bilang ngga apa-apa tiap gue minta maaf, sikap tegarnya itu bikin gue bener-bener patah hati, kayaknya gue cinta beneran sama dia", Jody diam dan menatapku lama. "Gue matahan hati gue sendiri"
"Tau ngga lo Jod, dia lari ninggalin gue yang teriak manggilin dia kayak orang gila, ga peduli orang-orang di Loby mendangin gue, tapi gue telat, tepat sebelum lift nutup dia tersenyum dan bilang- It's Okey", kenangku lirih, "pasti Aubry benci banget sama gue ya Jod".
"Bruggg!", satu pukulan mendarat di pelipisku, uda lama juga ngga merasakan pukulan Jody kayak gini, lumayan bikin mata lebam.
"Lo boleh aja sakit ya Nik, tapi itu bukan pembenaran buat nyakitin semua orang biar mereka juga ngerasain kesakitan lo!", Jody pergi dan membanting pintu kamarnya, meninggalkanku sendiri untuk memikirkan kalimat terakhirnya.
Chapter ini ga terlalu panjang sih ya, sorry kalo feelnya ga dapet :) Jangan lupa vote dan comment ya..

KAMU SEDANG MEMBACA
White Melody
RomanceKisah cinta anak band yang berakhir duka.. Adakalanya sebuah lagu bisa mewakili perasaanmu dan kisah perjalanan cintamu...