9 - Solitude

666 27 5
                                    

Hari kedua patah hati, susah buat buka mata apa lagi buat sekedar latihan band di studio yang udah disediakan panitia. Sukur-sukur bisa tidur walupun baru bener-bener merem jam empat pagi, dan ini pagi-pagi jam delapan udah harus bangun buat sarapan dan latihan. Jadilah mataku mata panda.

"Udah cin, jangan bengong aja kayak mayat idup gitu", Rana menegurku yang pagi begini udah melamun di tepi ranjang.

"Hmm", jawabku cepat sambil menyambar handuk biru lautku dan bergegas mandi.

**

"Buruan by, kita mulu yang telat sih", Rana menarik tanganku menuju bus khusus yang akan mengantar kami ke studio latihan yang sudah dibooking pihak penyelenggara. Didalam bus sudah menunggu Angga, Tama, Tio, Fajar dan empat band lain yang menang kemarin. Sebenarnya aku males buat kemana-mana, udah ngga semangat buat ngapa-ngapain, tapi ngga mungkin ngecewain temen-temen trus kabur pulang gitu aja.

"Oby kenapa sih Ran?", aku mendengar suara Fajar yang berbisik pada Rana dari belakang.

"Aku ngga apa-apa", kataku tersenyum lemah sambil berdiri diatas lutut mengarah ke kursi belakang, sementara seorang cowok berkepala plontos ikut menatapku, anggota band lain yang menang dari Surabaya kayaknya.

"Kalo gapapa kenapa matamu bengkak begitu?", sambung Tio dari kursi sebelah kiri Fajar.

"Ngga bisa tidur, nervous,, biyasaaaaa..", kataku mencoba berbohong, Rana tiba-tiba melirikku tajam.

"Uda ah, masi ngantuk", sebelum membalikkan badan cowok plontos tadi tersenyum tulus tapi hanya kubalas tatapan datar lalu kembali duduk dan mencoba memejamkan mata.

"By, oby bangun uda sampe nih", kurasakan tangan Rana mengguncang bahuku.

"Iya udah bangun nih, Hoooammm", aku menjulurkan tangan ke muka Rana sambil menguap.

"Sompret.. tangan lu by"

"Yee maap,, maap", kami keluar mengikuti panitia ke Ruko gandeng dengan plang "ArtSound", oh ini tempatnya.

"Hai..", tiba-tiba cowok plontos tadi berjalan menjajariku menuju ruko.

"Eh, hai..", kataku malas.

"Bayu", katanya sambil menyodorkan tangan.

"Aubry, dan ini Rana", kataku sambil menjabat tangannya dan menarik Rana.

"Aku duluan ya kebelet", kataku menghindari kontak dengan orang baru itu. Aku berjalan menggandeng tangan Tama dan Angga dan menyeret mereka masuk, meninggalkan Rana dan si plontos berduaan, mana tau jodoh kan.

Kami memasuki studio dua, gak jauh beda lah sama studio dikotaku tempat kita biasa latihan. Kami memang ngga ada yang bawa peralatan sendiri, repot bawa-bawanya. Nanti malam kami akan membawakan dua lagu sendiri, sebenarnya sudah dipersiapkan dengan matang sebelum kami berangkat, latihan ini cuma buat ngingetin lagi aja. Tetap lagu Jingganya Tama dan satu lagu tambahan ciptaanku - Untuk Selamanya.

"By, bukan gitu.. salah mulu sih", Tama mengingatkanku, "leadnya kan kamu yang ciptain sendiri, masak lupa?", aku meringis mendengar teguran Tama.

"Ulang", teriak Rana.

Entah kenapa jari-jariku ngga bisa diajak kompak hari ini, banyak nada yang fals dan ngelantur kesana-kemari, sejujurnya aku ngga bisa konsentrasi. Di Studio yang berisik ini rasanya aku hanya sendirian, ngga ada Tama, Rana, dan lain-lain. Apa memang sebegininya patah hati itu?

"Udah break dulu 15 menit", Rana keluar dengan muka cemberut di ikuti Tama dan Fajar.

"Kita ngga bisa main bagus kalo Oby ngga bagus!, nanti malam grand final Ran", sayup-sayup kudengar suara Tama yang sedang bicara pada Rana.

"Dia patah hati Tam, dan ngga tau cara ngatasinya", jawab Rana lirih. Hening beberapa saat, Tama ngga menjawab lagi.

"Siapa? Gitaris Redhood itu ya?", tebakan Tama tepat sasaran.

"Mungkin, gue juga ngga tau", jawab Rana bohong, kemudian keduanya terdiam, duduk di lantai studio yang berlapis karpet hitam sambil melihatku.

Jari-jariku memetik gitar tanpa kusadari, sebuah lagu sedih yang kugubah sendiri, aslinya lagu ini dibawakan dengan piano dan flute, Autumn in My Heart mengalun pelan, lagu kematian yang kumainkan untuk diriku sendiri. Seperti waktu dan seluruh suara dibumi lenyap seketika, yang mampu kudengar adalah petikan gitarku sendiri, semuanya diam dan semuanya pergi, hanya ada aku. Seperti film-film drama yang sering kulihat, wajahnya yang terekam dikepalaku berkelebatan satu-persatu, senyum mengejeknya di bioskop ketika aku jatuh, wajah khawatirnya melihatku terduduk di lorong toilet willy, wajahnya ketika tertawa di skype, dan banyak lagi, tapi yang terakhir adalah wajahnya ketika melihat reaksiku atas ucapannya kemarin. (Dengerin media)

Lagu sedihku selesai, aku sama sekali ngga berniat melanjutkan sesi latihan ini, tetapi sebelum aku bangkit aku melihat wajah-wajah sedih temanku yang sedang menatapku. Bukan hanya anggota bandku, anggota band lain dan beberapa orang tak kukenal berdiri ramai di ambang pintu studio yang terbuka, ada sorot kagum dan kesedihan disana. Mereka minggir dan tetap diam sambil membiarkanku lewat.

"Aku balik kehotel, kalian latihan aja, tadi aku memang ngga konsen tapi nanti malam aku pasti bisa main bagus", kutinggalkan mereka yang terdiam menatap kepergianku. Sepertinya ada sesuatu yang basah dan lengket dipipiku.

"Jalan pak", kataku pada supir taksi yang melihat teman-temanku mengejarku.

"Apa-apaan aku galau ngga jelas begini, adek bukan, sodara bukan, pacar apalagi", kataku ngomong sendiri.

"Kenapa neng? ada yang ketinggalan?"

"Eh nggak pak, maaf".

Lagi-lagi Chapter ini pendek, ternyata susah merangkai kata-kata yang bisa menggiring perasaan pembaca ke Tokoh yang lagi bersedih diatas ya..Tapi mayan lah ya,, namanya juga pemula :D

White MelodyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang