Merasa lebih baik perlahan Aubry membuka matanya, melihat sekeliling dan menyadari keberadaannya di sebuah bangsal rumah sakit, disekitarnya ada Rana dan seluruh personil bandnya yang sedang mengobrol ringan, belum menyadari bahwa dia telah sadar.
"Nikki mana Ran?", Rana Kaget sekaligus senang dan segera mendekati Aubry.
"Belum datang By, tadi udah aku bbmin dan telfon juga tapi kayaknya HPnya nggak aktif deh", raut muka Aubry berubah sendu, tentu saja dia belum memberi tahu Rana kejadian di subuh hari itu, dia takut sohibnya itu marah dan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan kepada Nikki.
"Ohh, yaudah biarin aja, ntar juga udah dibolehin pulang sama dokter", kalimat Aubry barusan membuat Rana dan Tama saling pandang-pandangan, memberi pesan tak kasat mata yang tidak disadari Aubry.
"Nggak bisa", celetuk Tama membuat Aubry heran, memangnya kenapa? sakit dikepalanya juga udah sembuh total, obat dan infus ini membuat Aubry merasa lebih baik.
"Kamu harus diperiksa lebih lanjut By, kamu apa nggak nyadar kalo sakit kepalamu itu nggak wajar?" sambung Tama.
"Nggak wajar apanya? aku memang nggak makan malam, kalo masuk angin kan emang biasanya begini, nggak ada yang aneh, pokoknya aku mau keluar dari ruangan menyebalkan ini BESOK PAGI!"
"Aubry..", didepan pintu sudah berdiri Ibu dan pak Madun, segera setelah melihat anak semata wayangnya ibu langsung menghambur memeluk Aubry.
"Kamu nggak papa nak?", suara ibu bergetar dan airmata perlahan mengaliri pipinya.
"Kamu ini gimana, udah sebesar ini nggak bisa jaga kesehatan", katanya masih sambil menangis.
"Ih ibu, Aubry nggak papa koq, udah sehat ini,, besok juga uda boleh pulang".
"Nggak bu, dokter belum ngizinin, si Oby aja ngotot minta pulang besok pagi", omongan Tama membuat ibu melototin Aubry.
"Ibu jam berapa nyampe nya kok nggak ngabarin Aubry sih?", Aubry berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Baru aja, ini sama pak Madun, tapi besok dia udah pulang soalnya rumah kita nggak ada yang jaga"
"Ohh, tapi Aubry pengen pulang bu.."
Hening, semua orang di ruangan itu menatap Aubry.
"Loh, koq pulang nak? Ibu juga baru nyampe ini"
"Aubry pengen pulang, kangen sama kamar biru", hanya alasan sebenarnya.
"Yahh nggak bisa gitu dong by, kan kita masih ada jadwal manggung dan kontrak iklan", Rana menatap Aubry yang kini menatap kosong ke arah jendela.
"Iya Ran aku tau, dua hariiiii aja, pleasee.. Abis itu kita jalanin jadwal kayak biasanya. Janji", wajah Aubry memelas, tapi Rana bisa melihat jelas kalau sohibnya itu menyembunyikan sesuatu.
***
"Kamu harus cerita sama aku sebenarnya ada apa!!", Rana tiba-tiba menuntut Aubry jujur ketika diruangan itu hanya ada mereka berdua.
"Jujur kancang ijo, apaan sih Ran"
"Oby..", Rana melotot, tau benar sohibnya ini ingin cerita tapi menahannya.
"Infotainment Ran, lo tau kan gosip kemarin itu"
"Yang mana? lo tau sendiri gue ga suka nonton gosip, mendingan nonton Tom & Jerry", Aubry mendengus mendengar penjelasan Rana.
"Ceritanya waktu itu aku berniat ngambil tempahan kado buat Ultah Nikki, sebelumnya aku mampir ke sebuah Butik, ada dress cantik disitu, nggak tau kenapa koq kayaknya manis banget kalo aku make itu di ultah Nikki nanti"
"Hmmm,, terus?"
"Ada wartawan Ran, aku dari awal udah tau di ikuti, tapi mana aku tau kalo itu wartawan yang lagi berburu..""Iya, kan udah biasa dalam beberapa bulan ini di ikuti wartawan, trus masalahnya apa?
"waktu nyobain baju ada seseorang yang datang, dia nyapa aku dan kita jadi ngobrol panjang disitu"
"Siapa?", Rana masih belum ngeh dengan arah pembicaraan ini, apa masalahnya kalo ketemu teman lama?
"Bas Pieter, atau Bayu dua", Bas Pieter adalah sohib kental bang Bayu, abangnya Rana yang merupakan senior Aubry dan Rana dua tingkat ketika SMA, Bas Pieter adalah keturunan Belanda, tidak mau di panggil Bas ataupun Pieter, memanggil namanya harus lengkap, sampai suatu hari abangnya Rana memberikan namanya agar tidak sulit bertegur sapa, jadilah mereka Bayu satu dan Bayu Dua, seluruh sekolah tau kisah Bas Pieter-Aubry, Bas yang tergila-gila dan Aubry yang tak pernah menyadarinya, sampai pada akhirnya Bas Pieter alias Bayu dua menyerah dan ikut ayahnya ke Belanda begitu lulus SMA karena putus asa.
"WHAATTTT??? ngapain dia di Jakarta? bukannya?"
"Lagi liburan, katanya sih gitu, kebetulan aja sih bisa ketemu dia dan dia langsung ngenalin aku, padahal kita udah lama banget nggak jumpa"
"Masi ada tanda-tanda doi mengejar cinta lo?" Rana berbinar-binar memikirkan kemungkinan itu, apa kurangnya Bas, udah ganteng, macho, trus kayaknya sayang banget sama Aubry.
"Nggak lah, Bayu dua udah Married, katanya sih gitu kemarin"
"Wohoooo,, kejutan!! akhirnya dia bisa move on dari lo By""Apaan sih Ran!" Aubry cemberut.
"Nah, apa hubungannya dengan muka sedih lo By?"
"beritanya masuk infotainment, disitu dibilang kalo gue selingkuh dari Nikki, mana foto-foto dan Video waktu aku ngobrol pake nampang di TV, lo tau kan Nikki itu possesifnya gimana?"
"I got it By", katanya sambil mengelus lengan Aubry.
"Jadi dia marah, dan kayaknya dia nggak mau lagi berhubungan sama aku Ran", sendunya tatapan Aubry membuat Rana sedih, sudah terlalu sering sohibnya ini galau gara-gara Nikki.
"Padahal dia salah paham, dan parahnya dia nggak mau dengerin penjelasan aku, waktu itu dia datang subuh ke rumah, aku tau dia nggak tidur, dan baru nyetir Bandung-Jakarta cuma buat marah-marah ke aku, aku ngerasa bersalah ngebuat dia kelihatan kacau dan lelah kayak gitu"
"Kalo kamu ngeliat dia di TV lagi ngobrol bahagia dengan cewek gimana By?", kata-kata Rana menohoknya, mungkin dia akan bereaksi yang sama.
"Aku harus gimana Ran?"
"Minta maaf, dan jelasin apa adanya"
"Nggak aktif, semua aksesnya ngga bisa aku hubungin"
"Yaudah cooling down dulu, mungkin kalian berdua sama-sama panas, kalo hati dan kepala udah adem, ngomong baik-baik, semua masalah ada jalan keluarnya koq", Ucapan bijak Rana membuat Aubry tenang, dia mengangguk setuju.
***
"Gue titip ini ya Ran", Aubry menyerahkan kotak berisi kado yang di tempahnya untuk Nikki. Hari ini Rana mengantar Aubry, Ibu dan pak Madun ke Bandara.
"Kapan gue kasih ini By?", Rana jelas sedih, seharusnya Aubry yang menyerahkan kado ini langsung ke Nikki, bukan diwakilkan seperti ini, tapi memang Nikki benar-benar tidak bisa dihubungi sama sekali, membuat sohibnya itu benar-benar galau.
"Terserah kamu aja, gue pulang dulu ya, baik-baik disini, sampe ketemu lagi nanti"
"Kok nanti, inget ya cuma dua hari", kata Rana sambil melepaskan pelukannya pada Aubry.
"Iya bu manager", Aubry tersenyum sendu lalu melangkah menjauh kedalam terminal keberangkatan.
Rana pulang, ingin langsung memberikan kado ini, karena hari ulang tahun Nikki memang sudah lewat sehari. Tapi dia masih bingung bagaimana, anak itu tidak bisa dihubungi tiga hari ini. Tiba-tiba lampu dikepalanya menyala terang benderang, Rana tau apa yang harus dilakukannya. Dikeluarkannya HP dan memencet nomor kontak seseorang.
"Halo Jody?"
Holaaa,, maaf ya kalo alur dan POV nya agak gaje, atau typo disana sini. sekali lagi saya ingatkan, kalo saya ini masih amatir, harap maklum aja yakk, makasih banyak yang udah mau baca dan berbaik hati ngevote setiap chapternya. KALIAN LUAR BIASA!!! (ala Ariel Noah) #kecup

KAMU SEDANG MEMBACA
White Melody
RomanceKisah cinta anak band yang berakhir duka.. Adakalanya sebuah lagu bisa mewakili perasaanmu dan kisah perjalanan cintamu...