Seorang pria menoleh lalu tersenyum menatap seseorang yang baru saja memanggilnya.
"Jangan lari-lari cantik" Dengan lembut Martin menegurnya.
"Kak Martin udah mau pulang?"
Martin mengangguk membuat wanita itu. Si cantika, menahan senyumannya. "Gue nebeng ya kak!"
"Eh gak bisa cantik. Gu-gue mau buru-buru soalnya"
Baru saja cantika ingin bersorak gembira karena memiliki kesempatan tapi sedetik kemudian dipatahkan.
Martin mengedarkan pandangannya ke arah lain seperti sedang mencari seseorang.
"JAE!" Panggil Martin yang membuat pandangan Cantik juga menuju ke arah orang tersebut.
"Napa bang?" Tanya Jae.
"Lo anterin cantik pulang ya. Gue mau buru-buru nih kasian si cantik gak ada yang nganterin"
"Cantik?"
Seperti kepergok sesuatu. Ekspresi Martin langsung berubah. "Eh maksud gue cantika. Biar cepet aja gue panggil dia Cantik."
"Eh gue mesen ojol aja deh kak." Kata Cantika yang memutus sesi tatapan kedua pria tadi.
"Gue anterin" Kata Jae yang langsung menarik tangan Cantika menjauhi Martin.
"Apaan sih! Main narik segala! Udah gue bilang gue mau mesen ojol aja eh tapi lo maksa! Kan gue jad—
Pluk
Ceklek
"Udah?"
Dengan kaku Cantika mengangguk.
"Lagi diem gini baru pas namanya cantik." Kata Jae menepuk kepala Cantika yang sudah tertutup helm.
"Ayo naik"
"Tapi Jae..." Cantika menunduk memainkan jari tangannya. "Gue mau pulang sama kak Martin."
"Disini ada gue. Kenapa nyari dia?"
"Gue..."
"Jangan dilanjutin. Buruan naik!"
Dengan terpaksa Cantika pulang bersama Jae. Sepanjang perjalanan tidak ada satupun dari mereka yang membuka percakapan. Jae tidak tahan dengan kesunyian itu dengan iseng melajukan motornya dengan cepat.
"JAE! JANGAN NGEBUT DONG! GUE TAKUT!"
Jae terkekeh, "kalau naik motor itu harus pegangan."
Cantika yang tidak mendengar itu berteriak lagi. "APA? GUE GAK DENGER!"
Dengan satu tarikan tangan Cantika sudah memeluk pinggang Jae.
Cantika hendak melepasnya tapi ditahan oleh Jae. "Jangan dilepas gue gak mau lo jatuh"
Cantik yang tidak tau harus apa hanya diam berharap agar segera sampai rumahnya.
"Makasi Jae"
"Cantik"
Cantika yang hendak menutup pagar rumahnya menjadi berhenti menatap terkejut ke Jae.
"Gue boleh panggil lo Cantik?"
Cantika kembali menunduk. "Tapi.."
Tanpa Cantika lihat, Jae tersenyum. "Gue ngerti. Cuma dia doang yang boleh panggil itu kan?"
"Sorry" Cicit Cantika.
Tanpa mengatakan apapun Jae langsung pergi meninggalkan Cantika yang masih menunduk didepan rumahnya.