14

324 48 0
                                        

13 Februari 1997

Ice meninggal.

Dan semuanya gara-gara aku.

Ice dan Blaze kecelakaan waktu Idul Fitri.

Mereka kekurangan darah, dan ternyata golongan darah mereka AB Rh minus yang langka. Stok habis dan kalau dibiarin mereka bakal meninggal duluan. Cuma aku yang golongan darahnya sama dengan mereka tapi... aku nggak mungkin bisa mendonorkan darah ke mereka berdua sekaligus, mengingat aku juga punya penyakit anemia aplastik yang berarti tubuhku nggak bisa menghasilkan darah lagi.

Dokter melarangku memaksakan diri mendonorkan darah ke keduanya, jadi aku bingung.

Ice atau Blaze?

Gempa yang sebelumnya ngomong sama Ice yang sempat sadar bicara padaku sambil menangis.

Ice memohon agar aku menyelamatkan Blaze.

Katanya dia sudah terlalu banyak bikin Blaze susah... sudah terlalu banyak bikin kami susah...

Omong kosong!

Aku masih ingin berdebat dengan Gempa, tapi Gempa menggeleng. Katanya, Ice memang sudah tidak bisa diselamatkan. Dia kehilangan lebih banyak darah daripada Blaze. Aku kehilangan kata-kata. Thorn menangis menemani Ice dan Blaze, Solar bersamanya.

Keputusan diambil.

Aku mendonorkan darah untuk Blaze.

Ice menutup matanya dengan tenang. Dia bergumam, akhirnya dia bisa tidur juga dan mengucap syahadat.

Anak bodoh.

Istirahatlah di alam sana.

Blaze masih belum sadar. Dan karena mendonorkan darah untuk Blaze yang pastinya tidak sedikit, aku kekurangan darah. Sekarang aku dipisahkan dari teman-teman sekamarku.

Bosan disini. Kalau di 309 walau kerjaanku bengong saja aku masih bisa ngobrol dengan siapa lah. Untung Gempa membawakanku gitar dan diari ini, aku tidak akan mati kebosanan.

Ice, sebelumnya Taufan, sekarang kau?

Serius?

Kalau bisa, aku ingin menyelamatkan kalian berdua.

Sayang ya, dokter nggak mengizinkan. Maafkan aku yang lemah ini, ya.

Sempat-sempatnya kamu bilang kamu merepotkan Blaze, Ice.

Aku sudah membaca tulisanmu. Jadi kamu sudah punya firasat? Ice memang beda.

Tapi kamu tetap saja bertingkah bodoh.

Ice, Blaze atau yang lain tak akan bilang ini, tapi, Ice,

Kamu itu egois.

Aku yakin kamu sudah mengetahuinya. Kamu paling peka diantara kami semua.

Heh.

Egois, tapi...

Kamu sayang dia, kan? Makanya ngorbanin diri sendiri.

Aku ingat, kamu pernah bilang, kalau kamu mati, cuma 1 yang kamu pengen.

Kalau aku harus pergi, aku ingin pergi dengan indah.

Selamat, Ice Arizona.

Impianmu terkabul.

Halilintar.

Room 309's DiaryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang