Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Terimakasih Semesta, setidaknya aku tahu sedikit bagaimana caranya menutup luka yang dulu terbuka semakin lebar karena adanya luka yang sama setiap harinya
-P. A.
+×+
Semburat merah terpapar jelas di atas sana, sepertinya langit mulai merindukan malamnya. Suasana hening akan dimulai beberapa saat lagi, dimana semua khayalan tentang bintang akan diutarakan dan segala penat serta beban akan luas menghalang diucapkan.
Dalam hati yang luluh, segalanya akan terasa indah saat seseorang yang kita sayang tetap berada di samping kita. Namun, tidak dengan Alana.
"Bunda, bahagia ya disana. Jangan khawatirin Al disini, Al janji bakalan jaga Satya sampai dia kuliah dan nikah."
Ribuan doa Alana panjatkan setiap harinya, dibawah bintang dan bulan, disamping kamarnya ia duduk di balkon dengan sofa abu-abu nya yang ia taruh serta selimut dan ujung-ujungnya juga tak pernah ia pakai saat berada di balkon ini.
Dibawah semesta langit biru legam, Alana menyerukan nama ibunya berkali-kali, hatinya memohon untuk kehidupan ibunya bahagia disana. Tak pernah sekalipun memikirkan dirinya sendiri, yang ada di pikirannya sekarang adalah cara untuk membahagiakan dirinya dan Satya; adik laki-laki tercintanya.
Tok tok tok
Atensinya memusat ke arah belakang, dimana pintu kamarnya tertutup serta bunyi yang ia duga bahwa seseorang telah mengetuk pintunya.
Alana berdiri lalu membuka knop pintunya itu, terpampang jelas muka adiknya yang sedang menahan kantuk dengan boneka kucing yang dibawanya itu. Alana tersenyum menggelengkan kepalanya pelan melihatnya, adiknya ini begitu lucu sekali.
"Kamu kenapa? Mimpi buruk lagi?"
Yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya lalu mengusap matanya pelan, menunduk melihat kakaknya yang sekarang berada didepannya lalu secara tiba-tiba memeluk Alana.
"Aku mau tidur sama kakak aja, kak Yeji maksa aku buat tidur sama dia. Aku gak mau kak."
Alana yang mendengar adiknya mengatakaan hal itu hanya bernafas lelah. Ia begitu kesal sekali dengan saudara tirinya itu, kenapa selalu ssja menganggu adiknya ini. Alana ingin berusaha memberontak sekali saja kepada saudara tirinya itu, namun tak ayal malah dirinya yang akan berakhir lebam karena dipukul oleh ayahnya.
Ah iya jangan lupakan ibu tirinya yang sudah sangat merencanakan kehidupannya itu, Alana rasa ia akan berakhir di tangan ibu tirinya. Tapi, entah kapan itu yang terpenting hanyalah ia harus melindungi Satya.