[27]. Something About You

190 34 10
                                        

"Tuhan menitipkan perasaan hanya untuk dirasakan, bukan untuk diungkapkan dan mendapatkan balasan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Tuhan menitipkan perasaan hanya untuk dirasakan, bukan untuk diungkapkan dan mendapatkan balasan."

+×+

SUARA mesin di ruangan serba putih itu terdengar jelas di telingan Satya yang sedang duduk sendiri di luar ruangan inap Alana.

Arah pikirannya tidak lurus untuk saat ini, mencoba menyimpulkan bahwa memang kakaknya itu telah memiliki perasaan yang besar kepada kakak sahabatnya, Satya memahaminya. Namun, Satya tidak pernah terfikirkan bagaimana pengorbanan keduanya untuk melindungi satu sama lain.

Dari lorong yang sepi itu, Satya menatap kosong jalanan lorong didepannya. Bahkan semut saja tidak lewat didepan matanya, sangat sepi hingga bisa Satya gunakan untuk overthinking.

Hingga atensinya sedikit tertarik akan satu kehadiran seseorang yang ia tunggu sejak kemarin. Arthur dengan wajah segarnya duduk di kursi roda yang didorong oleh Samuel dibelakangnya.

Air mata Satya menetes lagi, mengingat bahwa Bayu telah berkorban banyak untuk orang-orang yang ia sayang.

Arthur melihatnya, dimana Satya yang menangis kembali saat melihat dirinya disini. Arthur paham, pasti sahabatnya itu tengah memikirkan keadaan Bayu sekarang.

Satya dengan segera menyeka kasar air matanya dan menyunggingkan senyumannya ke arah Arthur dan Samuel itu. Dirinya berdiri didepan keduanya dan disambut uluran tangan Arthur yang membawa sebuah kertas.

"Kasih itu ke kak Alana nanti waktu sadar, dari kak Bayu" ujar Arthur bergetar dengan suaranya.

"Lo kapan operasi, Thur?" tanya Satya

"Lusa gue operasi, doain lancar ya"

Satya menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Arthur barusan.

Matanya memanas kembali.

"Gue pamit mau liat keadaan kak Bayu dulu ya," ujar Arthur ditanggapi anggukan oleh Satya.

Keduanya melintas dan secara sengaja, Samuel menitipkan satu kertas lagi kepada Satya untuk dibaca nantinya tanpa sepengetahuan Arthur.

Satya mengambilnya dan menatap langkah Samuel yang semakin menjauh dari ruangan Alana itu.

Langkahnya kembali ia dudukkan di bangku dingin dalam lorong sepi itu, telinganya hanya ditemani alunan alat yang terpasang di dalam ruangan Alana itu.

Secara perlahan menatap kedua kertas ditangannya ini, surat yang diberikan Bayu untuk Alana sedikit berwarna dan yang diberikan Samuel kepadanya tadi berwarna putih polos.

My Angel [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang