Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Semuanya yang ada di dalam sana adalah sebuah ujian yang nyata dimana satu nyawa yang direbut oleh orang-orang yang tak mengerti apa arti menginginkan kasih sayang yang indah.
Bunda, Satya bakal bawa kak Al buat tinggal berdua. Satya kira memang sekarang adalah waktu yang tepat.
—S. A.
+×+
Satya menghela nafasnya berulang kali, matanya tak lepas dari ponsel di genggamannya. Pikirannya melayang entah kemana, perasaannya begitu tak enak sekali. Bahkan selama mapel terakhir tadi dirinya hampir saja dimarahi oleh gurunya karena terlalu banyak berfikir.
Kakaknya, Alana.
Satya begitu memikirkan Alana hingga menimbulkan beberapa perasaan tidak enak. Mengganjal sekali karena kakaknya itu belum juga menghubungi dirinya.
"Argh, kakak dimana sih?"
Khawatir, sangat khawatir bahkan. Pada akhirnya dia memutuskan untuk berjalan dari sekolahnya menuju sekolah kakaknya. Meskipun dibilang lumayan jauh namun masih Satya teruskan hingga kakinya berhenti tepat di dekat gerbang keluar sekolah Alana.
Matanya tak berhenti mengedar hingga menatap satu siluet yang sangat ia kenali,
Dia
Iblis wanita yang sangatlah licik.
Siapa lagi jika bukan Yeji dan juga entah siapa yang berada di sebelah Yeji itu Satya tidak perduli sama sekali. Bahkan kemarin saat Yeji mengajak dirinya untuk tidur bersama, Satya tahu bahwa Yeji memiliki hal buruk yang akan ditujukan kepadanya dan Alana.
Kemarin itu Satya berhasil bebas dari Yeji yang akan membunuh dirinya.
Syukur dirinya langsung mendorong keras Yeji ke lantai dan langsung berlari menuju kamar Alana. Dan lebih bersyukur lagi saat Alana membuka pintunya dengan cepat sehingga dirinya bisa langsung masuk.
"Ck, wanita itu. Kalau gue psikopat mungkin dia udah mati hancur ditangan gue, sayang gue bukan psikopat" gumam Satya melihat Yeji dan kedua temannya itu tertawa beriringan dengan langkahnya menuju luar gerbang.
Sayup-sayup telinganya mendengar bahwa ada yang mengucapkan nama kakaknya.
"Yaampun Yeji, lo tadi hebat banget gilak. Kenapa nggak lo bikin dia pingsan aja sekalian di kamar mandi? Kenapa cuma lo kunciin dia disana terus lo pukul?"