Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Satu nama Terukir sempurna Dalam tatapan Mata yang sedang Membulat sempurna Mendatangi seribu Alasan yang Menyebabkan luka Itu terbuka lagi.
"Jangan coba sentuh Dia lagi, keparat!"
+×+
Bel istirahat baru saja terdengar, menandakan bahwa semua perut-perut lapar akan diberikan kenyamanan untuk segala macam asupan.
Kelas Satya, Haikal, dan Arthur saat ini sudah sepi karena teman-temannya semua seperti zombie yang sedang kelaparan. Dan berakhirlah menyisakan ketiga pemuda yang masih santai di dalam kelasnya.
Ah ralat, satu dari ketiganya yang sangat tidak santai karena perutnya minta jatah katanya.
Satya yang masih mencatat beberapa materi itupun terganggu karena Haikal yang menerjangnya dengan beberapa paksaan menuju kantin sekarang. Sementara itu disisi lain, terlihat Arthur yang santai memakan rotinya yang ia bawa dari rumah karena paksaan Bayu dengan tenang dan wajah yang menunjukkan bahwa ia tidak ikut-ikut atas kelakuan Haikal kepadanya.
"Ck, bentar Kal astaga. Gue belum selesai, dikit lagi ini bentar ya"
Haikal pun tidak mempedulikan Satya yang benar-benar lebih memilih tugasnya itu daripada memilih dirinya dan perut kelaparannya.
"Lagian bukannya lo tadi udah sarapan? Mana banyak banget lagi, gue aja sampe takut kalau kak Sam, Bayu, sama kak Al nggak kebagian" ujar Arthur sambil meminum minuman buah sambil menatap jengah saudaranya itu.
Haikal benar-benar kesal dengan keduanya, hendak protes namun
"Haikal!"
Panggilan dari depan pintu itu membuat ketiga laki-laki yang berada didalam kelas menoleh sempurna.
Terpampang satu orang yang sangat Haikal hindari karena rasa tidak sukanya itu membuat risih, dalam artian lain Haikal sangatlah tidak suka dan risih karena dekat dengannya.
Iya, itu adalah salah satu perempuan yang menyukai Arthur dulu namun sekarang berganti menjadi suka dengan Haikal begitu saja.
Arthur menolehkan wajahnya seperti semula dan mengubah wajahnya seperti biasanya; dingin dan cuek.
"Kal, gue mau ngasih ini ke lo. Dimakan ya, gue tau lo lagi laper" tangannya mengulurkan kotak bekal makanan ke hadapan Haikal yang menatap jengah perempuan didepannya saat ini.