Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Stay here!
If u want to make a another story, please don't say anything and do it fast!
"Bunuh dia sekarang!"
+×+
Seringaian tajam itu terlihat jelas di depan saudaranya sendiri. Mata hitam dibalut biru elegam itu terpaku sejenak menatap keadaan yang sungguh pernah ada dikepalanya. Sudah terduga bahkan jika kejadian ini akan terjadi cepat ataupun lambat, dirinya saja tak mengerti apa dosanya di kehidupan sebelumnya terhadap dunia.
Mengapa seolah memang semua kesakitan ditujukan hanya untuk dirinya dan semua kakak-kakaknya?
Bahkan adik kembarnya sekalipun.
"Jangan sekali-sekali lo sentuh gue sama Alana lagi, Ar. Gue nggak bakalan tunduk dan ngasih belas kasih ke lo, permintaan maaf gue nggak bakalan ada buat lo!"
Seringaian tajam pemuda Chen disebelahnya membuat Arka sejenak mencekat nafasnya. Tak perduli dengan apa yang ia lakukan sebelumnya, perasaan bersalah dan ingin melindungi saudara tirinya itu lebih besar daripada harus melanjutkan misinya untuk mengundang kehancuran di keluarganya.
Arka hanya menginginkam setiap jangka waktu melakukan hal-hal yang ia suka, termasuk juga dalam hal bersama dengan semua saudaranya dan keluarganya menjalani hidup yang damai.
Tangan Arka sedikit bergetar, matanya mencoba menatap mata jernih Bayu yang kini sedang mencuat marah ke arahnya. Seolah ingin mengulitinya habis-habisan, Arka akui bahwa nyalinya sedikit menciut melihat saudara tirinya itu.
Tak dapat dipungkiri bahwa kekuatan Bayu setara dengan bos mafia yang ada dimanapun itu, bahkan puluhan luka dan lebam yang bersarang dibadannya saja masih belum membaik namun Bayu dengan tegapnya berdiri dan mencoba melawan dirinya saat ini.
"Hei anak muda, aku akan melepaskanmu kalau kau sudi menyerahkan perusahaan ayahmu itu kepadaku sekarang!"
Bayu mendecih lalu terkekeh pelan. Siapapun tahu bahwa itu bukan bertujuan untuk melucu, namun untuk mengejek sang lawan. Alana saja sudah ketar-ketir bahwa Bayu akan melakukan pertengkaran lagi. Alana sangatlah tidak mau karena Bayu baru saja sadar dari pingsannya dan itu belum genap tiga jam dilewatinya.
"Ambil aja" jawab Bayu pelan menatap datar Chen yang berada di depannya.
"Maksudmu?"
"Lo sendiri kan yang bilang buat nyerahin perusahaan laki-laki itu ke lo? Ambil aja silahkan, kalau perlu bunuh aja laki-laki itu"