Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hai, selamat datang disini. Maaf masih berantakan karena masa lalu yang tak kunjung usai."
+×+
NAFAS Alana langsung saja bersahutan karena mimpinya itu, matanya membuka dan menampakkan dirinya berbaring di sebuah tempat tidur dengan tangan seseorang yang melingkar apik tepat di pinggangnya.
Sejenak dirinya memejamkan matanya dan menyentuh tangan itu, badannya berbalik dan melihat seorang laki-laki yang kini tengah tertidur dengan pulas. Alana benar-benar hampir saja melakukan pembunuhan kepada dirinya sendiri jika kejadian tadi benar-benar terjadi.
Tangan kecil Alana memeluk laki-laki didepannya itu dan membiarkan dirinya sendiri tenggelam di sana.
"Kenapa?"
Alana kaget, dirinya mendongak untuk melihat laki-laki didepannya itu yang sudah terbangun dan tersenyum tipis ke arahnya. Alana bahkan telah mengeluarkan isakan kecilnya mengingat mimpi yang ia alami itu.
Biar bagaimanapun, mimpi tadi memanglah kejadian nyata yang ia alami sendiri beberapa bulan yanh lalu. Bayu yang hampir saja meninggalkan dirinya dan seluruh keluarganya.
"Hei, kenapa nangis?"
Alana mengelengkan kepalanya pelan, air matanya telah diusap lembut oleh tangan laki-laki didepannya itu. Wajah khawatir tercetak jelas di wajah laki-laki itu lalu Alana mendapatkan sebuah kilasam cepat akan sentuhan mint yang jatuh di keningnya.
"Bulan lalu bener-bener berat buat aku, Bay."
Bayu menghela nafasnya pelan, menarik Alana untuk berbaring lagi dengan nyaman dan memeluknya. Detak jantung keduanya saling bersahutan layaknya sebuah melodi yang indah, sebagai pemberitahuan bahwa dua jiwa itu telah menyatuh karena sebuah kejadian tak terduga.
"Kamu masih mikirin waktu aku hampir men-"
"Sstt, jangan diucapin." Potong Alana langsung menaruh telunjuknya tepat di bibir Bayu. Membuat Bayu terkekeh pelan dan semakin menarik gadisnya itu untuk ke pelukannya.
Iya, waktu itu memanglah hal yang berat bagi Alana. Dimana kakinya yang tidak bisa menapak melihat Seokjin menyuruhnya menjauh dari ruangan Bayu dan juga terlihat jelas di depan matanya bahwa lelakinya itu dilepaskan berbagai macam alay bantu nafas.
Histeris.
Alana tidak bisa mengatakan apapun selain syukur yang ia ucapkan kepada Tuhan, karena-Nya Bayu kembali dalam dekapnya dan juga terikat dalam satuan ikatan yang satu.