Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Senja hanyalah semu yang indah, dimana satu menit saja dapat menghilang bahkan melebur menjadi kepingan rasa yang terdapat dalam satu ukiran nama
'SEMESTA'
Tenangkanjiwa yang sempat mengira Dan ternyata Kitalah permainan semesta
+×+
Mata itu terus memandang ke arah luar jendela, mencoba menikmati keheningan yang terjadi disini. Semuanya telah pergi, Arjuna baru saja mendapatkan telfon dari entah siapa itu namun yang jelas dirinya dimarahi oleh orang tersebut karena tidak mengikuti mapel di hari pertamanya masuk ke sekolah sebagai anak pindahan.
Alana merasa bersalah tentunya, karena dirinya sudah membuat Arjuna menjadi kena marah dan juga merepotkan sekali.
Matanya teralihkan melihat cairan yang disuntikkan Seokjin ke selang infusnya, ia menatap kosong ke arah tangannya itu. Tersadar saat Seokjin mengusap surainya lembut.
"Jangan khawatir, Juna pasti bisa ngatasin semuanya. Dia udah terlatih sejak kecil kayak gitu"
Alana menyunggingkan senyum tipisnya ke arah Seokjin. Sebenarnya dirinya ingin sekali menjauh daei kehidupan keluarga Arjuna tapi karena keinginan yang diungkapkan oleh Arjuna sendiri tentang menginginkan dirinya menjadi sahabat, Alana tidak dapat menghindar lagi.
Tapi, dikepala Alana saat ini sungguh banyak sekali pertanyaan. Ingin menanyakannya kepada Seokjin namun ia rasa belum pantas, karena ia baru saja masuk menjadi sahabat Arjuna dan para adik-adiknya.
"Makasih, Dok"
"Panggil kak aja kayak Juna, biar makin akrab. Oh iya, belum tau pasti ya? kakak itu kakak sepupunya Juna" Alana akhirnya paham dan menganggukkan kepalanya.
"T-tapi ini Rumah Sakit siapa kak? Kok kak Juna bebas banget kayaknya?"
Seokjin terdiam sebentar hingga senyumannya tersungging di wajah tampannya. Dokter muda ini hanya mengucap satu kalimat yang membuat Alana paham bahwa ia masih harus menunggu dulu tentang Arjuna dan beberapa kisah dibaliknya.
"Kalau itu kakak gabisa kasih tau, tapi nanti Juna bakalan kasih tau kamu. Entah itu Juna atau keempat adiknya yang lain"
Disisi lain, pertempuran batin itu masih berjalan hingga salah satu dari keduanya melemparkan tatapan tajamnya dan yang satunya pun tak kalah tajam juga, bahkan bola matanya lebih lebar dari yang lebih tua.