Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Akusepasang sepatu kaca yang telah kau pecahkan menjadi beberapa kepingan kecil tak berbentuk besar tak menyentuh merah itu bisa kapan saja menyanggupi perannya sebagai sosok yang paling ditakuti namun, tidak akan terjadi selagi plester itu kuat menampung dirinya sendiri dibalik gunting dan cutter
yang menyayat diri sendiri tanpa tahu bahwa sepasang mata itu selalu mengawasi
"Tolong, jangan lakukan itu demi Satya kak!"
- My Angel!
+×+
Tiga pemuda baru saja turun dari mobil didepan pintu rumah sakit pas, salah satu dari ketiganya sedang mencoba menghubungi saudaranya. Meminta petunjuk bahwa letak keberadaan dirinya sekarang berada disebelah mana.
"VVIP-01, sebelah kamar Arthur. Yuk kesana!" ajak Samuel begitu selesai menutup telfonnya.
Ketiganya menuju kamar inap itu dan menemukan Arjuna yang sedang duduk bersebelahan dengan Nara, berbincang kecil. Namun atensi semuanya terganti oleh Satya yang langsung berlari ke arah Alana.
"Satya" ucap Nara melihat Satya yang kini berdiri di sisi lain bangsal sambil menggenggam tangan Alana erat lalu pundaknya bergetar.
Nara tahu, pasti Satya tengah menangis sekarang. Ia pun berdiri lalu mengusap punggung Satya yang menangis itu, mencoba menenangkan Satya yang kini masih terisak.
Beberapa menit berlalu, suasana masih hening seperti tadi. Hanya isakan Satya yang terdengar semakin pelan menandakan bahwa Satya sudah tidak menangis sekeras tadi.
"Satya, kak Al bakalan sadar kok. Tenang aja, gak ada yang harus di khawatirkan"
Tepat setelah mengucapkan kata-kata itu Satya mendongak melihat Nara yang ada didepannya.
"K-kak Nara? Kakak hiks jangan tinggalin kak Al lagi, aku gamau liat hiks kak Al sedih lagi" Nara mengangguk pelan menyetujui ucapan Satya lalu dengan satu tarikan membuat Nara terkekeh, Satya memeluknya.
Nara tersenyum kecil lalu mengusap punggung Satya yang kini berada didepannya. Nara begitu kaget melihat Satya yang tumbuh sangat cepat sekarang. Dulu Satya hanya sebatas pundaknya saja, namun sekarang Satya sudah berada beberapa centi di atasnya.
Samuel yang melihat itu hanya bersyukur karena Satya tidak melakukan kekerasan pada dirinya sendiri seperti tadi, ia menoleh mendapatkan wajah bingung Arjuna. Sedikit terkekeh lalu membisikkan satu kalimat yang membuat Arjuna menganggukkan kepalanya paham.