Alhamdulillah sudah sampai di part ini. Terima kasih atas segala bentuk dukungannya. Jangan lupa untuk meninggalkan jejak. Semoga cerita ini lancar sampai ending. Terima kasih.
Selamat membaca!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🎬🎬🎬
Diamond Real Estate No. 25 Atmaja's Family.
Pagi ini jadwal syuting berjalan lagi. Setelah menitipkan Milo, Januar, dan Elena ke rumah Om Faris, Asyilla bergegas pergi ke bandara. Gadis itu tak ikut rombongan karena penerbangan crew dan pemain lainnya adalah malam hari. Sementara, Algebra sudah ada di lokasi syuting. Alhasil, Asyilla akan berangkat sendiri.
Gadis itu sudah selesai check-in. Penerbangannya masih sekitar 30 menit lagi, gadis itu memanfaatkan waktu untuk scrolling sosial medianya. Asyilla tersenyum hambar, banyak sekali direct message yang masuk ke akunnya. Asyilla menghela napasnya. Gadis itu memasukkan lagi ponselnya ke dalam tas. Terdengar suara informasi jika ia harus segera take off. Gadis itu pergi ke gate yang akan membawanya ke dalam pesawat.
Setelah pengecekan ulang boarding pass, gadis itu sudah bisa duduk nyaman di kursinya. Ia melepas kacamata hitamnya. Kali ini ia memilih kelas bisnis dalam penerbangannya kali ini, ia tahu perjalanan kali ini akan cukup menyita energinya, apalagi harus transit di Bali dulu sebelum sampai di destinasi.
Asyilla sempat menoleh ke arah kursi samping ketika kursi itu diisi oleh seorang lelaki. Namun, tak lama gadis itu memilih acuh. Apalagi di depan sana, pramugari menginformasikan jika sebentar lagi pesawat akan take off. Asyilla memakai sabuk pengamannya sesuai interupsi sang awak kabin.
Terhitung pesawat telah melalui critical eleven-nya. Asyilla melepas sabuk itu sesuai anjuran pramugari. Matanya terpejam sebelumnya. Tak lama seorang pramugari menghampiri guna memberikan makanan dan minuman bagi pax mereka. Asyilla hanya tersenyum guna membalas sang pramugari. Namun, suara yang cukup familiar di sampingnya membuat gadis itu terperangah.
"Nevada! Lo di sini juga?" tanya Asyilla yang merasa hidupnya selalu dibayangi oleh Nevada. Lelaki di sampingnya mengangguk.
"Sepertinya memang takdir benar-benar ingin kita bersatu, Syil," goda Nevada diakhiri kekehan. Namun, jujur Nevada juga tidak tahu Asyilla akan menggunakan maskapai ini dan penerbangan waktu ini pula.
"Kamu nggak makan salad kamu?" tanya Nevada saat Asyilla menganggurkan makanannya itu. Gadis itu menggeleng. Sebelumnya ia sudah menyenderkan kepalanya di pilar kursi dengan mata terpejam.
"Buat lo aja. Gue nggak nafsu," balas Asyilla. Nevada hanya menggeleng melihat tingkah Asyilla yang begini. Memang beberapa hari lalu, ada sedikit keributan kecil antara dirinya dan Asyilla, tapi sudahlah, tak perlu dibahas juga.