Scene 37 || Keputusan yang Salah

2K 140 0
                                        

Alhamdulillah sudah sampai di part ini. Terima kasih atas segala bentuk dukungannya. Jangan lupa untuk meninggalkan jejak. Semoga cerita ini lancar sampai ending. Terima kasih.

Selamat membaca!

Selamat membaca!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🎬🎬🎬

Diamond Real Estate
No. 25
Atmaja's Family.

Terhitung 3 hari Asyilla menginap di apartemen Gavin. Asyilla terus saja menangis, bahkan gadis itu enggan untuk makan. Ia bukannya menangisi Dion yang mengkhianatinya, tetapi ia menangisi keputusannya yang bodoh. Gadis itu sudah benar-benar kehilangan lelaki yang pantas untuknya pertahankan. Bahkan, sampai lelaki itu menyerah atas perjuangannya.

Asyilla menjambaki rambutnya sendiri. Gadis itu terlampau frustrasi. Tak jarang pula ia pingsan karena kelelahan menangis dan tak ada isi apa pun di perutnya.

Suara ketukan keras berasal dari balik pintu itu. Gadis itu mendengar suara Algebra dari balik sana.

"Sil, buka pintunya! Gue harus bilang apa sama Mama Papa lusa," ujar Algebra dengan menggedor pintu yang terkunci dari dalam itu.

"Udah berapa hari, Dev di dalam?" tanya Algebra kepada Devina yang terdengar samar di telinga Asyilla.

"Selama Kak Sisil nginep di sini, 3 hari, Kak," balasnya. Bukan hanya Asyilla yang akan frustrasi, tetapi lelaki itu juga.

"Ini boleh didobrak nggak pintunya? Gue takut kalo Asyilla kenapa-kenapa di dalam," tanya Algebra.

"Coba aja, Kak. Nanti aku bilang ke Kak Gavin," balas Devina dengan sopan. Gadis itu memanglah gadis lembut dan baik. Algebra mengangguk setelah mendapat jawaban dari Devina. Lelaki itu bersiap untuk mendobrak pintunya.

Pintu itu rusak pada engselnya. Algebra terkejut melihat Asyilla yang terkulai lemas di atas lantai. Sepertinya gadis itu kelelahan karena sudah tak ada tenaga. Algebra menghampiri adiknya, ia melihat wajah pucat Asyilla. Lelaki itu menepuk pipi Asyilla, tetapi tetap tak ada respons. Algebra membopong tubuh Asyilla.

"Dev, tolong siapin mobil. Itu kuncinya ada di atas meja. Biar gue yang gendong Sisil," titah Algebra. Devina pun gerak cepat. Gadis itu segera berlari keluar unit. Ketiganya menuju lift untuk sampai di basement.

Setelah mendudukkan Asyilla di jok belakang, Algebra meminta Devina untuk menemani Asyilla di belakang, sedangkan dirinya akan menyetir. Ia tak enak jika Devina yang menyetir untuk mereka.

🎬

Asyilla sudah dipindahkan ke ruang rawat. Benar dugaannya, gadis itu kelelahan, stres, dan tak ada asupan. Selang infus pun terpasang di tangan kirinya. Algebra menunggu tepat di sisi brankar Asyilla, sedangkan Januar dan Elena duduk di sofa kamar.

SHOOT ON ME [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang