Hai hai hai ... Ada yang kangen Rukmini, cung sini absen dulu ...
Makanya ayo vote dan komennya jangan malu-malu hihi ..
Minim 100 ⭐ baru lanjut
*
Maaf belum rapi, terima kasih yang bantu koreksi.
*
Namun begitu, kekaguman Rukmini pada Ghani tidak surut karenanya. Baginya; orang boleh saja berbeda pandang, bahkan rasa dalam hal apa pun, seperti orang menilai rasa klepon; bagi satu orang klepon mungkin makanan paling enak, bagi orang lain, boleh saja getuk lebih enak dari klepon. Toh, di lain surat, Ghani pernah bercerita: antar tokoh pergerakan saja sering terjadi pandangan yang tajam, tetap tidak mengendurkan semangat untuk merdeka.
Sampai disini, Rukmini belum yakin benar, apakah merdeka lebih baik dari pada tidak merdeka. Para penjajah itu bukan kah, sudah beranak-pinak selama ratusan tahun di negri ini. Tak hanya Meneer Barend yang mungkin tak lagi mengenal negri asalnya, boleh jadi sebagian besar orang Belanda totok lainnya pun demikian. Apa salahnya mereka menganggap negri ini tanah airnya juga. Baginya sama saja. Namun, jika itu keinginan banyak orang pribumi ia akan setuju-setuju saja. Apalagi jika benar akan membawa pada kebaikan atau kemajuan negri ini.
Sesungguhnya Rukmini tidak terlalu tertarik pembicaraan tentang Merdeka. Jika ingin merdeka ya sudah upayakan saja, ia tinggal menunggu kabar jika perjuangan mereka berhasil. Rukmini lebih terpesona pada kisah tokoh-tokoh hebatnya. Terakhir ia terkagum-kagum, sekaligus meletupkan perasaan cemburu pada sosok perempuan bernama Maria Ulfah.
Dalam suratnya, Ghani kerap menyanjung kecerdasan perempuan ini; seorang keturunan menak pribumi, ayahnya adalah seorang Bupati pribumi pertama di Kuningan Jawa barat. Dia lah perempuan dengan pendidikan setara laki-laki. Lulus sebagai ahli hukum Sekolah di Belanda. Menurut Ghani, Maria Ulfah kerap menyediakan rumahnya sebagai ajang rapat-rapat penting pemuda pergerakan.
Tidak banyak yang diceritakan Ghani tentang Maria Ulfah, Ia menceritakan perempuan itu, sama seperti tokoh-tokoh lainnya, namun tak bisa dipungkiri jika hatinya dicubit perasaan cemburu, kagum serta terinspirasi sekaligus; membuatnya berhayal sebagai tokoh perempuan penting juga, yang ikut dalam rapat-rapat penting dan melahirkan konsensus penting. Rukmini malu mengakui, jika kemudian ia berubah haluan dan memutuskan bulat mendukung kemerdekaan, karena terinspirasi Maria Ulfah ini.
Kelak Rukmini mengetahui dan menyaksikan Maria Ulfah sebagai menteri wanita pertama di kabinet Soekarno. Di era Sjahrir, Maria ditunjuk untuk membantu pengurusan pengembalian tawanan interniran yang terdiri dari Belanda, Perancis dan keturunan Indo. Tujuan Sjahrir menunjuknya sebagai menteri juga untuk meyakinkan Sekutu bahwa Indonesia bukan boneka Jepang.
Gara-gara perasaan cemburunya ia kerap menyindir, mengusik, bahkan memancing dengan isyarat-isyarat: tentang perasaan Ghani terhadapnya. Ghani adalah pemuda cerdas, tentu saja menangkap isyarat paling tersembunyi pada balasan surat-surat Rukmini kepadanya. Sejak itu Ghani tak lagi menyoal tentang tokoh-tokoh lagi. Tidak Maria Ulfah, tidak siapapun.
Ghani mulai gencar dengan kata merdu merayu, penuh sajak sanjungan pada Rukmini yang disebutnya kekasih. Ia kutip kata para pujangga, dan kata yang berhari-hari dirangkainya sendiri dengan segenap rasa yang diperasnya tanpa malu. Ghani menulis ini:
Jikalau dikau selamanya rembulan, dik
Aku akan tetap pungguk di pucuk-pucuk daun tertinggi
Di ranting-ranting paling rapuh, merindukanmu setengah mati, sampai kumati
Di lain surat, Ghani menulis ini:
Rasa-rasanya tadi aku mendengar bayu yang berembus semilir
Mirip bisikan suara kemayumu, meneruskan balasan satu kalimatmu yang tak rampung itu, Dik.
Dikau membalas;
saya tak tahu harus menulis apa, Kang Mas ...
KAMU SEDANG MEMBACA
RUKMINI
Historische Romane•The Wattys Winner 2021• Fiksi sejarah, Suspense!! "Dia lahir dari seorang perempuan gila yang diperkosa Pembesar Menak. Dia tumbuh ... Dia cantik ... Dia menuntut balas. Dia Rukmini." ©yannilangen
