Hai Pembaca luar biasaku, maaf ya lama update-nya. Ramaikan komen dan votenya ya. Terima kasih sebelumnya. Terima kasih juga yang membantu koreksi. Enjoy.
*
Dimata Rukmini, pagi ini Ghani bukan lagi pemuda melankolis yang kerap membuatnya tersipu-sipu malu dengan untaian kata yang menyerupai Pujangga. Seorang Pujangga yang tak segan menumpahkan kekagumannya pada seorang gadis yang digilainya. Ia seperti lupa upaha segala caranya, demi melihat dari dekat gadis pujaannya itu, hingga rela menjadi pesuruh alias tukang kebun tempatnya menimba ilmu.
Kini, ia begitu bersemangat pada energi yang menggelegak dan berkobar selain cinta. Suka cita pada kekaguman pada pujaan hatinya—selain kecantikan wajahnya, kemolekan tubuhnya atau kebersahajaan pribadinya. Cintanya tertusuk makin dalam pada Rukmini, tatkala di dada gadis itu mulai mempertanyakan keadaan Negerinya. Kegelisahannya akan perbedaan nasib yang berjarak sejauh bumi dan langit pada penghuni Ibu Pertiwi ini.
"Aku tak ingin membuang waktu untuk menjawab pertanyaanmu kemarin, Cah Ayu," ujarnya seraya menjatuhkan diri dan bersila dihadapan Rukmini yang duduk lebih tinggi darinya. "Jika engkau mempertanyakan kesenjangan antara Bumiputera dan para Pembesar Menak, sesungguhnya ini berita baik. Keberuntungan bagi kami para Pejuang. Kesadaranmu atas nasib Bangsa ini yang sedemikian berjarak, adalah modal utama penyemangat kami para Pejuang, Dik."
"Maafkan kebodohan saya, Kang Mas, tetapi saya tidak paham apa itu kesenjangan, apa itu kesadaran," kata Rukmini, tanpa berani menatap lawan bicaranya. Matanya segaris lurus pada gelas Teh.
"Sebaiknya, minumlah dulu, Dik, mumpung masih hangat. Tenang saja aku akan memberi pengertian secara perlahan-lahan."
Rukmini mengangguk dan meraih teh yang baru saja dipersilakan padanya. Bagi Rukmini amatlah penting, suguhan yang tersaji di atas meja—walau sudah jelas disediakan untuknya, haruslah dipersilakan terlebih dahulu. Suguhan akan terasa saru dinikmati sebelum tuan rumah mempersilakannya.
Rukmini kemudian meraih gelas dengan dua tangannya dan meminumnya sedikit demi sedikit tanpa menimbulkan suara seruputan seperti yang dilakukan Ghani, ketika ikut mengangkat gelas dan menyesapnya.
Ghani dengan ketenangan khas seorang Pemuda terpelajar, mulai menjelaskan pertanyaan yang diajukan Rukmini hari kemarin dengan cara yang mengagumkan. Ia memang mengecap pendidikan yang cukup tinggi. Keuntungan baginya sebagai anak peranakan yang berayahkan seorang Belanda totok, membuatnya sempat mengecap pendidikan STOVIA, namun tidak sempat menyelesaikannya. Akan tetapi STOVIA memberinya pengaruh besar terhadap idealisme Pergerakan, hingga membuatnya dikenal sebagai Kepala Gerombolan. Sebelum Ghani, STOVIA telah melahirkan banyak tokoh tokoh Pergerakan.
*
Ghani memulainya dari menjelasan bahwa Negri dimana mereka hidup saat ini—bersama orang kulit putih, bukanlah kebetulan. Orang kulit putih itu adalah Penjajah yang berasal dari sebuah Negri yang amat jauh. Perjalanan melintasi samudra hingga berminggu-minggu, sebelum menginjakkan kakinya di Negri ini. Ghani mengatakan; "kita adalah pribumi. Merekalah yang pendatang."
Menurutnya, mereka itu serakah. Mula-mula tujuan mereka hanya ingin bertukar hasil bumi, sama seperti Pendatang atau Pedagang-pedagang dari China dan India atau Bangsa lain di dunia. Namun makin lama mereka tergoda melakukan hal yang sama seperti Bangsa Inggris dan Portugis, untuk menguasai tidak hanya hasil bumi, tapi tergiur untuk menjadikan Negri ini sebagai daerah Jajahan.
"Kita terus dibodohi dan mereka terus menguasai sampai ke tulang sum-sum. Aku, pemuda-pemuda dan sekarang engkau, Dik, sudah saatnya mempertanyakan ketidakadilan yang berlangsung berabad-abad itu."
Ghani memperlihatkan sebuah buku, dengan jilid yang teramat kusam, banyak noda kekuningan di dalamnya. Ia menerangkan bahwa para Pemuda yang geram telah berkumpul, lalu menyusun sebuah Manifesto politik Pemuda Indonesia. Manifesto yang kala itu dibuat tahun 1925 di Belanda. Tepatnya di Universitas Leiden—tempat banyak Pemuda Indonesia menimba ilmu saat itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
RUKMINI
Tarihi Kurgu•The Wattys Winner 2021• Fiksi sejarah, Suspense!! "Dia lahir dari seorang perempuan gila yang diperkosa Pembesar Menak. Dia tumbuh ... Dia cantik ... Dia menuntut balas. Dia Rukmini." ©yannilangen
