20 (a)

3.5K 664 93
                                        

Votenya gak sampai ih ... Gapapa sih, tapi part berikutnya cuma bisa di up kalau vote minim 80 ya hehe ...

Seperti biasa terima kasih meramaikan cerita ini, saya senang.

Terima kasih juga yang bantu koreksi.
*

Rukmini mendapati kegairahan baru yang ganjil. kegairahan yang membuatnya seperti hidup di negri dongeng: terpikat oleh kata-kata dari surat-surat yang dikirimi Ghani setiap hari ketiga.  Dalam benaknya ia seperti seorang Dwi Dja, pemain sandiwara keliling  yang memerankan tokoh cerita ala Modern Indiche Roman. Satu-satunya peranan yang membuat penonton berdebar, di tengah lakon komedi Stambul yang mereka mainkan. Meneer Barend sering menceritakan kelompok sandiwara keliling bernama Dandella ini, ia berjanji mengajaknya jika Dandella mengadakan pertunjukan di Batavia.

Rukmini menyamakan dirinya dengan Dwi Dja, pelakon yang sanggup membuat penonton, bahkan dirinya sendiri, berdesir ngeri; sembunyi-sembunyi di gudang, di gedung tempat pelatihannya—membaca surat Ghani diliputi kengerian, sekaligus berdebar bungah. Surat-surat Ghani tak hanya membuatnya berdebar ketika memuji-muji dirinya dengan rangkaian kalimat bagus, namun juga membuatnya merasa pintar dari hari ke hari. Ia bisa mengecap pengetahuan tentang banyak hal. Ghani mengguruinya dengan bahasa sederhana, runtut dan jelas (kalimatnya amat jauh berbeda dengan ketika memujinya).

Ghani dalam suratnya mengatakan; perjuangan meraih kedaulatan di jaman sekarang sudah bergeser bukan macam pertempuran gerilya seperti para pendahulunya yang terasa sia-sia, akibat kalah persenjataan dan logistik. Kita tak bisa mengandalkan terus-menerus dari belas iba Boemiputra, untuk memberi makanan para gerilyawan. Mereka sudah melarat hidupnya, sementara pasukan gerilyawan tak kunjung membawa hasil perubahan nasib seperti yang digembar-gemborkan. Ghani dan kawan-kawan merasa mendapat celah atas pemberlakuan Politik Etis Belanda, dan merubah haluan perjuangannya.

Kerajaan Belanda memberlakukan Politik Etis (Ethische Politiek), atau dalam bahasa Melayu disebut sebagai Politik Balas Budi, setelah gencarnya seruan Pieter Brooshooft (wartawan Koran De Locomotief) dan C.Th. van Deventer (politikus) atas pemikirannya: yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan bumiputera (setelah sekian lama mengeruk keuntungan dari hasil bumi maupun perdagangan). Pemikiran ini merupakan kritik terhadap politik tanam paksa. Munculnya kaum Etis yang dipelopori oleh Pieter Brooshooft (wartawan Koran De Locomotief) dan C.Th. van Deventer (politikus) ternyata membuka mata pemerintah kolonial untuk lebih memperhatikan nasib para bumiputera yang terbelakang.

Politik etis, yang terangkum dalam program Trias Van deventer yang meliputi:
1.Irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan untuk keperluan pertanian.

2. Imigrasi yakni mengajak penduduk untuk bertransmigrasi.

3. Edukasi yakni memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan.

Dari ketiganya hanya Pendidikan yang bermanfaat bagi para Boemiputra, sedangkan program Irigasi dan Imigrasi tersendat karena kekurangan dana yang parah, ekspektasi yang membengkak dan kurangnya penerimaan dalam pembentukan kolonial Belanda, dan sebagian besar lenyap oleh permulaan Depresi Besar pada tahun 1930*, yang dampaknya masih tertatih-tatih untuk bangkit hingga kini.

Namun, setidaknya keberhasilan pendidikan, telah membawa kesadaran pada para Pemuda dan Mahasiswa untuk memikirkan nasib bangsanya. Darinya lah, Pemuda seperti Ghani memiliki cara pandang baru: bahwa jika mendapat tekanan kuat, Kerajaan Belanda terdesak pula untuk mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan bagi bangsa ini; bukan mustahil acuan bagi tujuan kemerdekaan yang berdaulat penuh. Semua hanya tinggal waktu, tinggal bagaimana menyatukan seluruh elemen pergerakan yang banyak jumlahnya itu. Mulai dari Perkumpulan kedaerah hingga persyarikatan dagang, Islam dan masih banyak lainnya.

RUKMINITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang